Senin, 29 Juni 2015

Melingkar itu....

Saat kita berkumpul dengan banyak orang, maka membentuk lingkaran adalah cara yang paling sering dilakukan entah dengan duduk melingkar maupun berdiri melingkar. Makan bersama dengan melingkar, diskusi dengan melingkar, ngobrol santai lebih terasa nyaman dengan melingkar dan paling enak menikmati api unggun pun dengan duduk melingkar.

Mengapa dengan bentuk melingkar menjadi pilihan?..ya saya tahu, anda akan menjawab jika bentuk jajaran genjang itu sulit, apalagi trapezium hahaha. Iya kan?

Saya mengetahui bentuk melingkar itu mengandung makna yang dalam saat saya mengikuti sebuah kegiatan training, dimana setiap diskusi kelompok maka selalu diusahakan dalam bentuk melingkar/lingkaran. Terkadang melingkar rapat tanpa celah hingga lutut saya bersentuhan dengan lutut teman sebelah. Namun ada pula kondisi lingkaran yang tidak terlalu rapat. Saat melakukan ini, saya merasakan banyak manfaatnya. Dan memang melingkar mengadung makna yang dalam.  Yuuk kita perhatikan.

Saat duduk berdekatan dengan bentuk lingkaran maka energy positif akan saling menguatkan antara satu dengan lainnya, dan mencegah energy negative masuk ke dalam diri kita. Kita merasa dekat antara satu dengan lainnya, merasakan satu kesetaraan, satu frekuensi. Akibatnya saat kita berbicara atau berdiskusi kita akan merasa lebih rileks.
Selain itu dengan duduk melingkar maka energy yang dikeluarkan jugan tidak terlalu besar untuk berbicara atau bergerak sehingga lebih efektif dan efisien juga.

Apalagi ya?? Oh yaa…duduk melingkar membuat kita menjadi lebih mudah mengenal satu dengan lainnya. Oleh sebab itu cobalah saat anda sedang memimpin diskusi kelompok kecil, buatlah lingkaran dengan rapat, dan rasakan manfaatnya.  Begitu pula saat hendak mengenal satu dengan lainnya, maka bentuklah lingkaran.
Lingkaran adalah garis tak putus, maka yang diinginkan dari semua yang ada dalam lingkaran tersebut adalah simpul-simpul yang membuat perjalanan tak pernah putus, begitu pula silatrahmi. Melingkar menimbulkan kehangatan, coba deh perhatikan ular. Hidupnya diam melingkar heheh. Eh, ini semua penafsiran  ala bule_tati yaaaa……hehehe.


Rabu, 24 Juni 2015

Jika_Teman terbaik#NulisRandom 2015

"Jika"
Jika seseorang tetap menemani kita di masa-masa sulit
Maka dia berhak menemani kita di masa-masa mudah

Jika seseorang tetap membantu di saat kita jatuh miskin
Maka dia berhak menerima bagian di saat kita berkecukupan

Jika seseorang tetap bersabar atas tingkah buruk kita
Maka dia berhak memperoleh perilaku terbaik milik kita

Terakhir,
Jika seseorang tetap menunggu saat kita pergi tanpa kabar
Maka dia berhak ditunggu, pun jika itu tiada pasti kembali


*Tere Liye

Sebuah sajak yang membuat saya jadi mengingat teman terbaik, yang selalu hadir saat saya membutuhkan penguatan bahwa apa yang saya lakukan keliru, yang saya lakukan tidak tepat atau seseorang yang menguatkan bahwa jalan ini yang harus dipilih. Banyakkah kita mempunyai teman seperti itu?, bisa jadi ya ...bisa jadi sangat sedikit.
mengingat-ingat bahwa ada teman terbaik yang selalu membuat saya menyadari bahwa banyak hal mulia lain yang dapat dilakukan daripada mengeluh dan mengeluh.  Membuat saya lebih lembut dalam menjalani kehidupan yang kadang mengeraskan hati dan otak saya. Membuat saya tersenyum dan berujung tawa saat berceloteh tentang cerita lucu.
Pun saat merasa sepi, sendiri maka teman terbaik akan hadir dengan caranya masing-masing.
Memiliki seseorang yang mau memahami kita itu sebuah anugrah. Saya menyadari bahwa belajar memahami seseorang merupakan sebuah pekerjaan yang terkadang melelahkan, sehingga saat ada orang lain yang bersedia memahami kita tentu itu adalah hadiah indah yang diturunkan oleh Sang Khaliq kepada kita. 

Menurutku, engkau adalah teman terbaik aku. Lalu bagaimana dengan aku??





Senin, 22 Juni 2015

satu paragraf

maka ketika kantuk sudah menyerang, namun masih banyak hal yang berputar-putar di kepala seputar kejadian pagi hingga malam sepulang bekerja. Dan semuanya harus dikerjakan karena semuanya menyenangkan, dan juga full dengan epos alias energi positif.  ehhh..ada juga obrolan singkat tentang parenting ala nabi yang menjadi ilmu dimalam ini saat usai taraweh. Ajakan menulis dari teman satu frekuensi di Komunitas Trainer, lalu tugas menulis cerpen yang belum tersentuh karena temanya bikin kram otak, mendengar ocehan teman karena sempat salah pengertian dengan suara di telepon, dan hal lain yang bikin otak ini juga berkerut. Ya, dan saat hendak tidur malam ini, teringat waktu sehari tadi yang benyak terbuang, tidak efektif. Kemalasan pagi yang membuat enggan keluar rumah, lalu terlambat datang berdiskusi dengan teman perihal tugas organisasi, permintaan koreksian draft skripsi yang belum saya buka di email hingga urusan transfer yang terbengkalai hingga siang tadi.  Ahhh...menyesal tak ada guna.  Semoga esok semuanya lebih baik. Lebih efektif dan tentu saja tidak terbuang percuma. Termasuk target ramadhan yang seharian tadi hanya tersentuh sedikit. Astagfirallah.

maka tulisan satu paragraf tak berjudul, cukuplah kiranya menutup malam ini. Istirahat dulu yaaa....

#NulisRandom2015

Minggu, 21 Juni 2015

Mengingat tentang Bidara# NulisRandom2015

Malam ini saya belajar tentang daun bidara. Nama ini tidak asing bagi saya, mungkin ingatan saya jadi dibongkar  lagi kembali ke jaman belajar farmakognosi. Saya teringat dengan nama bidara upas. Jaman dimana tiap hari menghapal segala sesuatu yang menyangkut herba, perdu, dsb. Apakah bidara ini yang dimaksud?

Tertarik untuk mengetahui tempat tumbuh, bentuknya, serta zat-zat berkhasiat yang dikandungnya dan yang pasti adalah jenis dari pohon bidara.   Ketertarikan ini karena salah seorang teman baru saya mengolah daun  bidara sebagai bahan baku pembuatan sabun batang. Menurut saya ini keren sekali, karena saya yang seorang farmasis saja tidak begitu paham dengan herba yang satu ini. Hanya tahu namanya saja, detailnya benar-benar mesti belajar banyak dengan teman baruku ini. Dahulu yaaa..belajarnya tentang itu saja, tapi saat tadi berselancar mencari hal-hal lain tentang tumbuhan ini, ternyata khasiatnya banyak banget, belum lagi jika dihubungkan dengan sunah nabi.

Herba ini ternyata banyak jenisnya, dan karena memiliki khasiat yang berhubungan dengan kefarmasian maka saya mencari lagi, zat apa yang terkandung dalam daun bidara ini. Komposisi kimia dari minyak daun bidara (Zizyphus spina-christi) diperoleh dengan menggunakan metode destilasi memiliki komponen utama: geranyl aseton (14,0%), metil hexadecanoate (10,0%), metil octadecanoate (9,9%), farnesyl aseton C (9,9%), hexadecanol (9,7%) dan etil octadecanoate (8.0%), belum lagi kelompok flavanoid yang ternyata ada dalam pohon semak ini.  Tak heran dengan komposisi kelompok metil ester, alkaloid dan minyak esensial lainnya, daun bidara dapat digunakan untuk anti septik dan anti inflamasi. Saya belum bongkar semua tentang daun ini dari sudut farmakognosi saja sudah terjawab bahwa memang daun ini banyak khasiatnya. Semakin tertarik untuk mempelajari hal lain seputar pohon sidr ini. 

Oyaaa…dari banyak literature yang saya baca, daun ini tercantum namanya dalam beberapa hadist maupun dalam tafsir Ibnu Katsir dan tentu saja dilengkapi dengan kisah saat daun ini digunakan oleh Nabi kita Muhamad SAW. Begitu banyak jenis bidara, dan ada yang khusus disunahkan untuk digunakan. Dan tentu saja ternyata yang dimaksud oleh teman saya sebagai daun bidara bukan bidara upas.  Sayaaang sudah jelang tengah malam, nanti saya kesiangan dan tidak sahur lagi seperti kemaren, belajarnya berhenti dulu. Banyak yang harus saya bongkar-bongkar lagi tentu yang berhubungan dengan kandungan dan khasiat, karena ini menakjubkan. Bahan baku sabun yang insyaallah khasiatnya banyak banget. Disambung lagi nanti yaaaa…..tidur …tidur….yang pasti dengan kandungan seperti itu, wajar jika sabun bidara banyak manfaatnya. Nanti kita bahas lagi yaaa


Sabtu, 20 Juni 2015

Sate dan sop bebek Cibeber#NulisRandom2015

Setiap daerah tentu memiliki makanan khas yang menjadi ciri jika anda berkunjung ke daerah tersebut, istilah kininya adalah kuliner. Wisata tidak lagi melihat alamnya namun juga berusaha mencicipi hidangan kulinernya. Dari hal tersebut lahirlah  jenis wisata lain yaitu wiskul atau wisata kuliner. Walaupun terkadang bahan yang digunakan sama namun cara mengolah, cara menyajikan menjadi ciri tersendiri.

Saya tinggal di kota Cilegon, kota segaris..ya segaris karena jika anda berkunjung ke sini maka anda tidak perlu khawatir tersesat karena jalan utamanya ya hanya segaris saja, lurus J.  Kota yang terletak diujung barat pulau Jawa ( setengah jam sebelum Pelabuhan Merak), memiliki makanan khas juga. Ada sate bandeng, rabeg, ketan bintul, nasi gonjleng, sayur kulit tangkil, dan aneka olahan bebek. Saya sangat suka dengan sate dan sop bebek. ada juga semur bebek dan menu bebek lainnya. 

Ada yang tidak suka bebek??.....merugilah yang tidak suka bebek hahahah. Mengapa?...karena sate dan sop bebek itu enak banget. Berbeda dengan jenis sate dan sop lainnya seperti ayam atau sapi. Jika sore hari melewati kota Cilegon maka akan banyak tenda-tenda dipinggir jalan yang menawarkan menu sate dan sop bebek. Menu ini dilengkapi dengan nasi atau lontong. Dari sekian banyak tempat makan yang menyajikan sate bebek dan sop bebek, saya mempunyai tempat favorit yang menurut saya rasanya paling mantap dan sopnya segaaar sekali.

Ada satu daerah di tempat saya yang bernama Cibeber, nah..,itulah tempat para bebek di sate dan dibuat sop. Jika anda berada di daerah tersebut, mampirlah ke RM H.Syafei, tempatnya memang tidak terlihat dari jalan, mesti masuk gang namun gangnya cukup besar bisa dilalui kendaraan roda empat. Inilah pelopor bebek di Cilegon. Rumah makannya cukup sederhana, hanya meja kayu dan aneka kursi plastik. Disini tidak hanya menu bebek, ada sate ayam dan botok ayam khas cibeber, namun tetap yang menjadi menu favorit adalah sate dan sop bebek plus lontongnya yang pulen banget. Lontong di tempat ini benar-benar bikin kenyang, gak pake formalin tapi dimasak cukup lama, jadi rasanya berbeda. Sate bebek itu tentu rasanya juga berbeda dibandingkan sate lainnya, karena tekstur dagingnya berbeda, lebih gurih dan bumbu ketumbarnya juga bikin khas. Disajikan dengan bumbu saos ataupun bumbu kacang. Dimakan langsung juga enak, karena sudah full bumbu. Sebelum dibakar dilumuri bumbu-bumbu yang membuat sate ini menjadi pas di lidah. Untuk pasangannya tentu akan lebih maknyoos dengan sop bebek. Jika ditempat lain sop bebek banyak tulangnya, maka disini tidak hanya tulang namun banyak daging bebeknya. Sop dengan sayuran minimalis ini terasa segaaaaar banget. Sambel gerusan cabe rawit alias cengek bikin tandas dan kering mangkok sopnya. Makan sop bebek bikin kita betah berlama-lama, sambil bersihkan daging yang melekat di tulang sayap, tulang paha, leher dan sebagainya biasanya saya tidak menyadari jika jarum jam sudah muter-muter hehhehe. Jangan khawatir dengan bau amis atau bau bebek yang tidak enak, karena di sini yang ada hanya bau harum bumbu, bau bebek sudah hilang saat pengolahannya. Gak percaya? mari dicicipi. 

Beberapa bulan lalu, saya mampir ke sana bersama teman seperjuangan. Kami sedang berjuang sama mengejar pangeran berkuda hahaha, jadi saya anggap dia adalah teman seperjuangan.  Dia penyuka sate bebek namun sangat benci dengan olahan kacang. Dan saat itu adalah kali pertama dia saya ajak ketempat yang tersembunyi, mencari sop bebek. Langsung cocok dan pas banget di lidahnya, sehingga perburuan sop bebek terus berlanjut. Menjadi menu pilihan sop bebek cibeber. Sate bebeknya langsung disantap tanpa perlu dicampur bumbu kacang, dan saya juga seperti itu, karena tanpa bumbu kacang, sate bebek sudah cukup nikmat untuk disantap.


Wah….saya baru ingat, sate bebek yang di Cibeber ini hanya buka sore hingga malam hari yaa. Jika tidak sempat ke Cibeber, ada satu tempat lagi yang menurut saya termasuk enak juga. Berjalanlah sedikit ke arah belakang masjid agung Cilegon, ada tempat makan khas menu bebek juga. Botok ayam kampungnya pasti menggoda juga untuk dinikmati. Terletak  disebelah SMP 1 Cilegon, tempat saya bersekolah dengan putih biru. Ayoooo dicoba sate dan sop bebek khas Cibeber Cilegon, dan rasakan  perbedaan dengan sate lainnya.

Kamis, 18 Juni 2015

Kecewa?

Pernah kecewa?? Mengapa??
Saya pernah, dan saya yakin anda juga pernah mengalaminya. Berapa kali anda kecewa?....

Lalu mengapa kita kecewa?.....karena apa yang kita inginkan tidak kita kita dapatkan?, karena apa yang kita rencanakan tidak sesuai dengan yang kita harapkan? Karena orang lain  berbuat sesuatu yang tidak kita inginkan?
Jika kita telusuri lebih jauh penyebab dari kecewa adalah karena kita terlalu berharap. Maka mengolah, mengatur dan mengendalikan harapan adalah kuncinya. Kendalikan semuanya maka apapun yang dilakukan orang lain terhadap diri kita menjadi lewat begitu saja. 

Tombol on-offnya ada dalam diri kita. Segera matikan saat kita merasa kita menjadi terlalu berharap  terhadapnya, jangan dibiarkan tumbuh dengan subur semua harapan-harapan tanpa kita bisa kendalikan. Karena saat kita kecewa itu memang gak enak banget. Semua bisa berubah, sikap, tingkah laku bahkan metabolism tubuh ikut berpengaruh. Hati yang sakit, sedih yang mendalam akhirnya membuat tubuh menerima sinyal itu. Lalu kita menjadi tidak nafsu makan, lambung banyak keluar asam, wajah pucat dan sebagainya. Bisa jadi nanti lunglai seperti ikan tak bertulang….eh ikan ada tulangnya?..heheh tulang duri yak.
Banyak orang bijak mengatakan berkali-kali dalam nasehatnya, kendalikan harapanmu terhadap orang lain. Sungguh sayang jika kita merusak diri sendiri hanya karena harapan kita tidak terwujud. Banyak hal baik yang masih bisa kita kerjakan. Kecewa atau tidak kuncinya ada di kita. Yuuk…………tekan tombol on-offnya.

#NulisRandom2015

Rabu, 17 Juni 2015

Ramadhan pertamaku

Masih ingatkah pertama kali belajar berpuasa?

Saya mengingatnya bagaimana saya pertama kali belajar berpuasa. Emak mengenalkan istilah puasa saat usia belum genap 6 tahun. Cara berpuasanya dengan ukuran jam. Puasa dari pagi hingga jam 10 pagi. Lalu makan dan minum, setelah kenyang saya lanjut puasa lagi. Saat jam 3 sore saya merasa haus dan pasti merengek-rengek meminta emak untuk mengizinkan saya minum dan makan. Apalagi melihat es dengan buah-buahan yang segar dan menggoda sedang disiapkan di dapur. Dan saya berbuka jam 3 sore, lalu lanjut lagi puasanya hingga magrib. 
Saat adzan magrib terdengar di tipi dan mushola sebelah rumah, maka saya akan berlarian bersama kakak mencaari posisi berbuka. Riuh minta es buatan emak, lalu makan kerupuk mie yang khas saat bulan puasa. Tidak ikut sholat magrib  tapi sibuk ikut taraweh. Berteriak amin sekuat tenaga, lalu taraweh belum selesai sudah sibuk bermain di depan mushola. Mukena dan selendang ( dulu gak ada jilbab gitu ) digulung-gulung, simpan dipojokan mushola, dan aku sibuk bermain gobak sodor, main petak umpet dengan melempar kaleng yang disusun rapi, atau main karet. Kembang api menjadi salah satu kegemaran saya juga. Digantung di dahan pohon depan mushola. Puas bermain, saya pulang dengan penuh keringat. Emak sibuk meminta saya untuk mandi lagi karena bajunya basah dengan keringat, cuci kaki dan segera tidur. Ramadhan bagiku saatnya bersenang-senang. 

Suara panggilan sahur membuat terbangun semua penghuni rumah, tapi tidak dengan saya. Susah bangun, mesti di goyang dengan keras, mesti pake dibangunkan berkali-kali. Padahal suara dari mushola sudah cukup kencang, belum lagi suara teman-teman seusia ikut meramaikan dengan suara kencang memanggil untuk bangun sahur. Tapi akhirnya menangis jika tidak dibangunkan sahur. Saat sudah bangun, mata yang tidak mau dibuka dirayu dengan berbagai cara. Masakan kesukaan, suasana di meja makan yang berebut makanan, lalu menunggu imsyak bersama kakak dan adik sambil bermain kembang api.

Perjuangan belajar puasa menjadi lebih lagi saat mulai sekolah. Rasanya setelah pulang sekolah, lempar tas lalu sibuk merayu emak agar boleh berbuka. Biasanya saya akan dibujuk untuk bertahan hingga adzan duhur. Katanya supaya pas puasa setengah hari. Supaya tidak terasa haus dan lapar, saya tidur siang, kumur-kumur terus bahkan bolak balik buka tutup lemari es. Lolos puasa setengah hari, mulai belajar puasa sampai sore, kurang lebih jam 3 sore. Waaaaaah, rasanya makan setelah mandi sore dengan kondisi lapar sangat itu membuat nikmaaaaat sekali. Buka jam 3 sore itu sudah full masakan. Kebiasaan emak aadalah jam 2 siang sudah meracik, membuat kolak pisang atau kolang kaling. Sop ayam atau ati ampela,ikan pun mulai digoreng. Dan ini membuat saya tergoda.

Akhirnya setelah kelas II SD, maka saya mulai puasa full dari imsak sampai dengan magrib. Tapi belum full satu bulan penuh. Masih sehari penuh sehari tidak. Banyak cara dilakukan oleh orangtua saya agar kami belajar berpuasa. 

Alhamdullilah, segala puji bagi Mu ya Allah, saya diajarkan mengenal puasa sejak kecil, belajar mencintai bulan Ramadhan sejak kecil, belajar mengenal-Mu sejak kecil tentu dengan segala keterbatasan kondisi dan pengetahuaan yang orang tua saya miliki. Melihat para keponakan yang sedang belajar mengenal puasa...berseru gembira saat adzan magrib tiba, saya jadi ingat dengan masa kecil itu. Alhamdullilah, terima kasih aku memiliki orang tua yang telah bersusah payah mengajarkan aku berpuasa. 

Mengenang masa itu disaat sahur pertama

Dengan (si)apa sahur pertama  kali ini??