Selasa, 13 Januari 2015

Keindahan di Ujung Timur Jawa #eksplore Banyuwangi ( part one)

 Terompet  tahun baru mulai terdengar, chat di grup “Trip Banyuwangi”ikut  bersahut-sahutan seakan tak mau kalah dengan bunyi terompet.  Packing selesai  jam  11 malam, satu jam sebelum berganti tahun. Hujan yang tak kunjung reda membuat mata sulit dipejamkan, takut kesiangan.  1  Januari 2015 jam  8 pagi kami sepakat bertemu dengan teman-teman baru di Bandara SoeTa, seperti kisah Rangga dan Cinta pertemuan kami dimulai di Bandara hehe. 
          Akhirnya waktu itupun tiba, alarm berbunyi dan bergegas mandi. Eiiits lupa….aku mesti goreng Bulaf sosis paling enak se-asia tenggara hahaha untuk bekal sarapan pagi. Siaap semua….cek ulang, satu ransel orange plus tas kecil sudah okey untuk diangkut lalu cek pintu- pintu dirumah, memastikan semua terkunci. Bismillah, perjalanan menuju kota di ujung timur pulau Jawa dimulai.  Melewati gang depan rumah yang penuh dengan genangan sisa air hujan semalam membuat celana panjang mesti saya gulung hingga sebetis. Didepan gang saya menunggu Trias, ibu guru yang punya ide untuk eksplore banyuwangi ini. 
        "Pagiiii…trias!..siaap berangkat..,sapa dimulai saat mobil mba endah berhenti tepat di depan saya. Mba endah kakak Trias ikut bangun pagi demi mengantar kami ke Terminal Damri. Oyaa….ternyata didalam mobil sudah ada Ibu Uroh, dan sayapun berkenalan. Jadi kami bertiga berasal dari Cilegon, dan siap bergabung dengan teman-teman baru di bandara nanti. Jam 5 lewat 10 menit kami sudah siap di bus Damri, mulai melaju memasuki tol Serang untuk jemput penumpang lain. Dingin dan kantuk karena belum tidur membuat saya menguap beberapa kali. Sarapan dimulai di Damri cukup dengan 2 pak susu ultra hehe. Teman saya yang lain mba Puji sudah berangkat dengan kereta malam saat malam pergantian tahun, dari Purbalingga. Ibeth mulai bergerak dari Depok. Nah…hanya Rini yang belum bangun hahah. Bang Zul salah satu teman sudah siap di bandara karena terbang lebih awal. Berkirim kabar dimulai lagi. Posisi dan kondisi perjalanan menuju bandara.  
       Sebelum jam setengah delapan, kami bertiga sudah turun dari Damri, bersiap masuk namun ternyata nona Ana belum datang, masih di tol ngegas bersama pak Edy driver taxi. Saat menunggu nona Ana, ada gadis manis muda belia lembut mendekati kami…mungkin merasa mirip jadi dia menyapa kami hahahha  lebay.com. 
panggil saja dia dengan nama Lala (emang bener namanya lala). Dia baru saja mengikuti test di Garuda, kepingin banget jadi pramugari. Asalnya  dari lamongan dan baru kali ini dia terbang sendiri. Wajahnya manis khas gula jawa heheh. Dia sedikit bingung melihat tas ransel di punggung kami, “mbak mau kemana sih?”…,Tanya dia dengan suara lembut. Bener banget lembutnya dah mirip tepung hahaha.  Obrolan terhenti, Nona Ana datang dengan perlengkapan ungunya. Sandal, kaos kaki, pakaian, tas ransel dsb …semua berwarna ungu. Ana adalah teman seangkatan saat saya ambil kelas profesi, hmpir 6 bulan kami tidak bertemu. Sempat terkejut karena pipinya berubah seperti bakpau, dan badannya sudah tidak cengkring lagi :D.  Kami bergegas masuk untuk bertemu dengan teman lain yang sudah berada diruang tunggu. Lala ikut bergabung. Diawal tahun bertemu dengan gadis cantik itu sebuah pertanda..hahahahha.  Haiiii……..apa kabar?...sapaan awal bertemu dengan Ibeth. Teman saya ini bertubuh mungil, kami satu SMP di Cilegon dan akhirnya bertemu di trip ini. Ibeth tidak sendiri, dia ditemani bang Anton, sang suami yang traveler sejati dan pemburu foto, serta Rini, gadis dengan postur badan yang lumayan tinggi, mungkin 3-5 cm diatas saya namun beratnya mungkin 5 kg dibawah saya. Obrolan berlanjut diruang tunggu dengan ditemani Bulaf dan kentang goreng . 
Lala...diujung sana, dan ini para model BulaF
Trias, Anna, aku dan Ibu Uroh alias mak'e

aku dan tas-tas siap angkut

Tiket kami siap terbang
Suara khas ruang tunggu terdengar, alhamdlah pesawat dengan kode JT tidak delay…siaap2 boarding dan terbang. Saya duduk ditengah, diapit nona ana dan Trias. 1 jam 15 menit kami mengudara. Landing sempurna dan bergegas mencari Zulfakor teman kami yang sudah tiba duluan dan mengurus taksi untuk lanjut ke Gubeng. Didepan toilet akhirnya kami bertemu ( tempat paling gak kereen dipilih zul utk ketemu hahha). Saat semua sudah bersiap, satu teman kami belum datang. Naah.. driver taksi langsung berkomentar,”coba ditelp mbak….,temennya udah nyampe mana??”…aku spontan menjawab…lagi di udara pak, susah ditelp. Dan tertawalah pak drivernya. Setengah jam kemudian, Pesawat dari Batam mendarat. Aku, nona anna dan Trias menjemputnya diruang kedatangan. Kami tidak ada yang mengenalnya, jadi kami gunakan coretan nama Dolly sebagai petunjuk. Tidak berapa lama mba Dolly muncul, berikan jabat tangan erat dan berkenalan. Mbak dolly ini pejabat dari Batam yang sedang menyamar menjadi bu Risma, coba deh perhatikan wajahnya. Mirip kan??....hahahahah.  

Jangan Panggil aku "Dolly"....iki suroboyo rek..!
menunggu personil dari Batam
setelah bertemu dengan teman yang lain, kami bergegas masuk mobil dan siap melaju menuju Stasiun Gubeng. Perjalanan lancar…,namun saat diGubeng kami masuk dari arah yang berbeda. Mobil pertama melalui pintu utama Gubeng baru sedangkan mobil kedua melalui pintu Gubeng lama. Dan keduanya sebenarnya yaaa satu stasiun, hanya terpisah oleh rel kereta api hahahha.
Menanti kereta Sri Tanjung yang akan tiba pukul 13.40. Pasukan sudah siap. Lapar mulai memanggil. Aku, bang Zul, kak dolly serta nona anna berinisiatif untuk membeli menu makan malam. Yang ada dibenak kami semua, diluar sana ada gerai fast food..KFC gitu…heheh, kami berempat langsung menuju tekape, karena dari pagi belum ada nasi yang masuk ke lambung kami. Setelah puter sana sini ternyata tidak ada satupun tempat makan fast food yang kami maksud. Kami berempat mengalami halusinasi tingkat dewa akibat hipoglikemia, tanpa asupan karbo dari nasi.
Selain kisah ini,ada pula kisah “steril’. Seperti biasa, saya slalu menyempatkan diri berfoto jika bertemu tempat baru, eeeeh saat hendak take a pict, petugas berteriak….jangan berdiri disitu, ini tempat steril..steril..diulang-ulang. 
Saya bengong, karena saya merasa bukan kuman :D. alhasil saya tidak sempat bergaya takut disemprit oleh pak petugas. 
dengan Kak Dollyna

Steril....Steril......
Karena halusinasi pula nona anna menjadi korban aqua 1 dolar hahahah, salah tempat akibatnya mesti bayar mahal. Tepat jam 2 kurang dikit kereta yang kami tunggu datang. Siap angkut ransel dan jaket dan mencari kursi. Didalam gerbong sudah ada mbak Puji yang lebih dahulu berangkat. Kami sudah ber-10. Tempat duduk Ibeth dan bang Anton terpisah dari kami, berbeda satu gerbong. Sedangkan kami berdelapan duduk dalam satu wilayah, radius 10 cm hahah. Kami mengatur posisi setelah pewe, logistic mulai dibuka. Roti O menjadi awal, lalu aneka kacang, coklat dan keripik. Lapar belum terobati, petugas kereta yang lewat mengabarkan nasi habis, hiks…hiks…maka intro lagu mulai terdengar..nasi mana..nasi mana….dimana..dimana….. *dijonggol* setelah yakin tidak ada nasi yang lewat, maka kami sepakat…………popmie menjadi pilihan kami. Mba Trias, kak dolly, Rini, Ana, Ibu Uroh serta puji semua pesan popmie, dan akhirnya intro lagu hening sesaat.
Sri Tanjung....jig gujag gijig guja gijik...

Model PopMie....:D
Nah….ini tips buat teman-teman yang mau naik kereta Sri Tanjung, bawa bekal nasi yak..kali aja kehabisan lagi haha. Selesai makan mie, kami isi dengan cerita-cerita dan akhirnya lapeer lagi. Tetangga bangku yang radius 30 cm mengeluarkan keripik singkong pedas, sayang dia bukan team kami, jadi kami Cuma liat aja semua makan itu, sambil nelen air ludah, hahahaa. Terutama nona anna, kasihan sekali, matanya nanar menatap kantong plastic itu, tapi yang punya gak peka banget hahha. Digerbong kami ternyata satu tujuan, Kawah Ijen. Liat deh semuanya ranselan :)
Ternyataaaaa isi gerbong satu tujuan

Efek Pop-Mie..tidur Nyenyak
Ibu Risma...:D


Singkat cerita kami sampai di stasiun karang asem ( banyak bgt stasiun yg kami lewati, yg saya ingat benar adalah bangil). Jam 8an kami sudah mendarat di Bumi Blambangan alias banyuwangi. Tepat di depan stasiun ada warung makan yang masih buka.
suasana warung makan persis depan st.karang asem
Rawon menjadi pilihan kami plus teh manis tentunya. Eeh ternyata guide tour dari Kemunir sudah datang. Mas Anner beserta Gilang, bertegur sapa sebentar lalu kami dipersilahkan untuk makan dan sholat. Oyaa hampir aku lupa..saat hendak turun dari kereta ternyata 2 orang teman baru kami juga berada dalam kereta yang sama. Mas Aang dan kak Ellen. Lengkap sudah personil team 12 untuk eksplore Banyuwangi negri Blambangan. Selesai berkemas, rapi-rapi kami dibagi dalam dua mobil. Bergerak menuju Paltuding. Mepo untuk memulai menuju Kawah Ijen. Perjalanan melewati perkebunan karet, kopi, cengkeh, di malam yang pekat membawa cerita tersendiri. Penerangan hanya mengandalkan lampu mobil. Indah sekali, sayang kami melewati perkebunan ini malam hari. Tapiiiiii ternyata akan banyak keindahan lain yang kami temui di Kota Sri Tanjung ini. Nantikan cerita seru kami yang dimulai dari kawah ijen......( disambung lagi yaaa...)


Rabu, 24 Desember 2014

Maksi di Dapur LaaBid :)

Kemarin siang, aku baca postingan teman lama (teman SMP) yg sedang promo warung makannya, naaah karena blum maksi dan liat menunya asik, pingin jg kesana, dan kebetulan banget lokasinya masih cukup dekat dari rumah. 
Nah, sblum berangkat kerja aku sengaja mampir, sekaligus ktemu temen lama. dan inilah yang terjadi :::::

Mas A   ::::: siang bu, mau makan bu...
Aku      ::::::iya mas, ada menu apa??mie ayam ada??
Mas A  ......Mie ayamnya kosong, adanya prasmanan nih...ikan bakar, ayam bakar, 
                 sambil memperlihatkan ikan bakarnya..
Aku     :::::::yaaaaah...pingin mie ayam nih , tapi okelah..mau ikan bakar plus urab 
                 (ternyata ada urab dan enaaak lhooo, cobain deh)
Mas A  ::::::silakan bu

daaaan akhirnya aku makan menghabiskan ikan bakar yg lumayan besar plus sambel mentahan..sambil lirik kanan kiri...manaa yaa temen aku ...kok gak keliatan. 

Mas A  ::::bu, minumnya apa??
AKu     ::::teh anget aja.................dan langsung disediakan olehnya

Selesai....aku mendekati dia di meja kasir
... berapa ya??.....17.000 jawabnya.. (murah juga, batin aku, karena ikan bakarnya segar plus besar, serius...cobain deh)
sambil menyodorkan selembar uang, aku tanya dgn suara agak pelan..
"mas..ini warungnya mas anom ya??...........mas anomnya gak ada yaa??



Dan.......kamu tau........jawabannya??...............Ini gw ..anom.., Tatiiiiii!!!....sambil tertawa renyah plus merasa kesal karena  semenjak aku masuk aku gak mengenalinya. 

Aku  Mati gaya sesaat
.....masa iya???akuuuuu benar-benar tdk mengingatnya....berubah bangeeeet........asliiiii aku gak mengenalinya...paraaah sekali ingatanku. 1991-2014 benar-benar melumpuhkan ingatan ku...........aku benar-benar gak kenal..

akhirrrrnyaaaaaaaaaaa...akuuu cuma bisa ngakak...lalu mengalirlah cerita ringan jaman sekolah dlu...,dan aku dikenalkan dgn istrinya plus 4 anaknya yg cantik dan ganteng. 

sukses yaa mas anom...........masih ngutang mie ayam ceker yaaa..heheh

Maksi kemaren bikin gw senyum2 sepanjang jalan.....pasti aku balik lagi, mo cobain mie ayam dan menu lainnya...yuuukk kesana yuuk....


Minggu, 21 Desember 2014

Dan Aku Memanggilnya Ibu

Tepat 40 hari setelah kepergian emak, maka saya menjadi  seperti  anak ayam yang kehilangan induknya. Tidak  tahu harus berbuat apa serta bagaimana menjalani hari-hari selanjutnya. Tidak ada emak, itu yang ada dibenak. Apa yang akan saya lakukan?
Beruntungnya saya karena setelah emak pergi saya masih memiliki ibu. Ya saya menyebutnya demikian Beliau tidak melahirkan saya tapi saya merasa selalu menjadi bagian dari keluarga kecilnya. Jangan tanyakan tentang kasih, serta perhatiannya.  Ibu benar-benar memegang teguh janjinya untuk menjaga aku dihadapan emak saat menit-menit Malaikat Izroil mulai mendekati emak

Malam ini saat saya menuliskan huruf-huruf ini, hujan turun dengan deras. Hp saya tak berbunyi karena saya ada dirumah. Jika saat hujan turun dengan derasnya dan posisiku masih di tempat kerja, maka sms pastilah berbunyi….”tat, hati-hati ujan. Pake jas ujan, jangan ngebut banyak lubang. Singkat namun dikirim dengan tulus, padahal sudah saatnya jam tidur.  Itulah ibu.
Belum lagi masalah makan.  Saya  termasuk orang yang sering telat makan, bahkan malas untuk makan saat dirumah terutama jika sedang banyak tugas. Pergi keluar membeli makan saat sudah masuk rumah itu maleeees banget, biasanya nahan laper diganti susu. Maka selain sms mengingatkan untuk makan, seringkali di pintu pagar sudah ada bungkusan berisi nasi, lauk, sayur, buah yang sudah dipotong dadu plus note kecil..’tolong dihabiskan”.  Ibu juga sering mengirimkan paket makan siang kalau kami lama tak bertemu, teman-teman  di tempat saya bekerja pun mengenalnya sebagai sosok yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Nikmat Tuhan Mana yang aku dustakan?. 
Saat  subuh tak jarang  masih sempat membangunkanku agar tak kesiangan sholat subuh terutama saat ibu tau semalam aku habis kerja lembur. Itu saja??....banyak lagi. Pernah saat hujan besar  ibu sangat khawatir aku terjebak banjir jika pulang dengan motor, dan aku meyakinkannya bahwa akan pulang dengan Taxi, tapi ternyata tepat jam 10 malam ibu sudah parkir depan lobby RS hanya untuk mengantarkanku pulang. 
Seharusnya aku tidak lagi merepotkan ibu dengan hal-hal tersebut, tapi kemandirianku terkadang rapuh saat aku harus melakukannya semua sendiri. 

Oya..,dulu saat emak ada maka setiap hari ulang tahun saya. emak akan masak nasi kuning walaupun sedikit lalu membagikannya kepada beberapa tetangga dalam piring-piring kecil, dan kebiasaan itu dilanjutkan oleh ibu, membuat nasi uduk, kue tart bahkan tumpeng disetiap momen bertambah umur.  Kado-kado kecil selalu hadir dipagi itu, termasuk ketika hari raya tiba, maka kado lebaran plus kartu pasti diletakannya di meja kamarku. Tak pernah terlewatkan, meski usia terus bertambah namun ibu tak mengurangi kebiasaannya. Ucapan, pelukan serta doa dipagi hari akan diuntai oleh ibu bersama dengan sarapan pagi.

Saat aku memutuskan untuk kuliah, maka akhir pekan tidak lagi menjadi kegiatan makan bersama. Biasanya sabtu atau minggu pagi diisi dengan sarapan tempe mendoan/tempe bakar, sayur bayam dengan wortel dan tentu saja sambel kesukaan ibu. 
Maka dengan kesibukanku yang setiap hari jumat-minggu di jakarta membuat seminggu….dua minggu..bahkan tiga minggu aku tidak berjumpa dengannya. Tapi sms, note kecil, bekal makan selalu hadir. Jadwal kerja yang sering tukar dines, tukar libur membuat aku dan ibu makin jarang bertemu. 
Berangkat kuliah disubuh buta, menunggu bis diujung gang rumah, saat gelap dan sepi tiba-tiba ibu sudah ada di halte itu dengan susu panas dan sekotak sarapan pagi. Bertambahlah pesan dan bekal saat aku harus menjalaninya di Ramadhan, karena berbuka di jalan, sahur dikostan dan tentu saja ibu yakin aku terkadang malas untuk makan. Ahh...aku sedih mengingat itu semua. Beberapa bulan lalu saya sudah lulus kuliah, namun saya belum memberikan arti yang berbeda kepadanya. Begitu banyak kasih yang ibu berikan, dan aku belum membalasnya, bahkan mungkin tak akan pernah bisa. Ibu juga yang melakukan kebiasaan emak saat masih ada. Berpuasa saat aku ujian, berdoa lebih panjang diatas sajadah itu saat aku bercerita bahwa aku ada masalah entah masalah pekerjaan ataupun saat  tugas kuliah yang tak kunjung selesai, atau saat tiba-tiba melihat aku bersedih. 

Dan ternyata akhir tahun ini tujuh tahun sudah aku didampingi ibu. . Tentu dalam perjalanan waktu 7 tahun ini tubuh saya tidak selalu sehat, pernah kena types yang mesti bedrest, pernah jatuh dari motor karena menyalib  bis dan salah perhitungan sehingga terpental, pernah demam tinggi, dan ibu adalah orang yang pertama kali sibuk untuk ke dokter, bawa nasi tim, beliin buah plus susu beruang bahkan ibu juga yang merawat saya ketika saya gak mau dirawat inap, tapi memilih istirahat dirumah. Ibu selalu menjadi orang pertama yang ada di handphoneku saat seperti itu. 

 Oya…kalo ibu pergi jalan-jalan atau keluar kota maka oleh-oleh sudah pasti aku peroleh.  Dari makanan kesukaanku sampai pernak pernik yang aku suka ibu tahu banget. Bros cantik, blus unik, tas casual bahkan buku menjadi oleh-oleh dari ibu. Beliau hapal sekali dengan semua yang kusuka bahkan hingga detailnya. 
Hingga hari ini, saat usia saya terus bertambah ibu tidak mengurangi perhatian maupun kasihnya. Walau kesibukan kami membuat jarang bertemu. 

Hal yang paling menyedihkan adalah saat ibu sakit, dua tahun lalu lutut ibu bermasalah, pertumbuhan tulang rawan serta kurangnya cairan di tempurung membuat ibu susah berjalan. Tak tega rasanya melihat ibu berjalan terseok-seok, tak mampu lagi bawa mobil, berjalan cepat. Semuanya harus pelan-pelan, bahkan ibu sudah tidak ke dapur lagi karena ibu gak kuat berdiri lama-lama depan kompor. Kesedihan bertambah saat dokter bilang harus operasi. Tapi bukanlah ibu jika tidak mempunyai semangat yang kuat, ibu mencari dokter lain hingga Jakarta, menjalani terapi berkali-kali dalam seminggu, rajin minum obat, dan mulai mengurangi aktivitas. Ibu tidak lagi jogging, tidak lagi aerobic, ibu hanya berenang. 
Sediiiiiih rasanya saat kami menyaksikan pameran/ festival di Monas (aku waktu itu pingin banget liat festival tsb) ibu tidak banyak berjalan, hanya duduk menyaksikan pawai festival kerajaan. Saat ibu harus sholat di Istiqlal dalam keadaan duduk, aku tidak menangis dihadapannya. Namun sebenarnya seddiiih tiada tara. Tenaganya habis untuk kami semua. Nah....ini foto ibu waktu liat festival kerajaan di Monas. Kesampean juga akhirnya saya ke Monas :)

Ibu itu bagi saya tidak hanya supel, pintar masak, pintar berkomunikasi, pintar bertutur dengan tulisan, lincah, gesit, namun juga ibu itu atlet, serius loh….ibu suka banget berolahraga, jangan kaget menemui beliau di kolam renang pukul 06 pagi saat saya masih ditempat tidur. Saat emak masih ada, ibu juga yang mengurus sekolah, ambil raport dsb,dan tugas itu terus berlanjut sampai kemaren waktu lulus kuliah, wisuda sampai sumpah profesi. Apa yang sudah saya berikan untuknya? Belum ada. Ingin ibupun tak kunjung saya penuhi. Ibu ingin saya segera menentukan dengan siapa akan berbagi kehidupan, ibu ingin saya tak lagi sibuk dengan berbagai kegiatan tapi mulai menata kehidupan. Ya..walaupun itu keinginannya, ibu tak pernah memaksa. Sekedar berbagi ingin, selebihnya ibu banyak berdoa untuk semua kebaikan saya. Ada pesan ibu beberapa bulan lalu, mengingatkan saya sebagai perempuan yang jika terpaksa dan harus memilih maka akan lebih damai ketika dicintai oleh pasangan kita daripada kita yang mencintainya. Ibu sepertinya punya indra ke-enam karena berpesan seperti itu. Maaf, yaa ibu,  jika 9 hari lagi saat matahari menyapa di tahun 2015, saat usiaku mulai bergulir maju lagi, saat semua beranjak menuju perubahan, saya belum bisa melakukannya. Tapi saya akan terus berusaha memberikannya untuk ibu, walau saya tak tahu kapan terjadinya. 

Bulir-bulir bening terus berjatuhan saat saya menuliskan ini, terbayang wajah ibu dari 7 tahun yang lalu saat saya masih memanggilnya dengan sebutan teteh, lalu berubah menjadi ibu, karena beliau ini adalah kakak tertua saya. 
Dengan semua yang diberikan_Nya, pantaskah saya merasa tidak beruntung dalam kehidupan ini dengan semua yang telah terjadi. Sekali-kali tidak. Walau kadang rasa itu melintas, maka saya cepat-cepat memangkasnya, menikamnya. Saya adalah manusia beruntung, tidak ada kata sepi meski melewatinya sendiri. Semua begitu menyayangi saya, sapaan pagi hari selalu ada. Putra-putrinya diajarkan untuk sopan terhadap bule-nya.

Ibu slalu hadir kapanpun saya membutuhkannya. Tidak hanya untuk saya tapi kami semua lima bersaudara plus tujuh generasi penerus cucu nenek kakek yang mulai besar. Waah tak terbayangkan jika saya tidak mempunyai ibu, mungkin hidup saya tidak akan berjalan normal seperti sekarang. walau saya tidak pernah meminjam ruang di tubuh ibu, namun peran ibu menemani tujuh tahun ini teramat sangat berarti.
Untuk semua yang telah ibu lakukan, untuk semua ingin yang belum terpenuhi, maka saya hanya bisa membuat untaian doa, mengirimnya ke langit agar Arasy terguncang dan mengabulkan pinta kami semua. Sehatkan ibu, panjangkan usianya, dan selalu semayamkan rasa bahagia disetiap detik kehidupannya. Aamiin. "selamat hari ibu" 

Sabtu, 06 Desember 2014

Menghirup Oksigen di Curug Cihurang dan Cigamea Bogor

Sudah malam minggu lagi nih, dan teringat malam minggu yang lalu saat saya merencanakan pergi ke Bogor bersama  tim bunder.  Tim ini anggotanya bunder-bunder hahaha  kecuali saya.  Malam itu kami chat bersama sekadar mengobrol ringan, eeeeh ternyata kita sepakat untuk jalan di minggu pagi mencari oksigen diluar  Jakarta. Bogor tujuan kami. Sekitar jam setengah tujuh pagi saya dan bang Zul bertemu di Kebon Jeruk, lanjut ke rumah mbak Dian di daerah  Srengseng untuk sarapan pagi. Mbak Dian ini jago masak, jadi sengaja saya gak sarapan dari rumah hehe. Lupa arah menuju Srengseng  taksi muter-muter sebentar akhirnya sampai juga di Gang Mandor Salim. Mendoan, teh anget, plus mie goreng lengkap dengan udang bakso sudah menunggu untuk disantap. Selagi sarapan ketua tim datang dengan jagoan ciliknya. Utha namanya, baru 3,5 tahun, lucu dan suka ngoceh.  Menyelesaikan sarapan lalu kami semua pamit berangkat menuju  Bogor.  

Jalanan Lancar, obrolan dimobil diisi dengan rencana ingin mengadakan seminar yang tidak 100% berbau obat. Seru karena akhirnya ide-ide gila bertebaran. Ditambah cerita seputar kuliah beberapa tahun yang lalu, maka perjalanan menjadi tidak terasa.  Saya pernah mengunjungi  tempat ini  5 tahun yang lalu, namun tidak ingat arah yang pasti karena banyaknya pertigaan selama perjalanan. Yang Pasti saya harus masuk kawasan IPB Dramaga dulu baru tanya jalan menuju Cibatok lalu masuk desa Pamijahan. Kita ingin main air di curug seribu, curug yang terletak di kaki gunung salak. Ada beberapa curug disana, dan kita penasaran dengan curug yang paling tinggi dan banyak yaitu curug seribu. Tepat menjelang makan siang, kita sampai di Kawasan Wisata Gunung Salak Endah. Segeeeeer banget, udara siang tak terasa, yang ada kita pingin banget berjalan kaki sambil mengambil napas dalam-dalam. Pohon-pohon rindang dan besar disisi kiri kanan, dan sudah pasti mobil kita parkir sebentar untuk mengambil gambar. Oya untuk masuk kawasan ini, tarif masuknya Rp.5000/orang dan Rp.10.000 untuk mobil yang kita gunakan. 
Tepi jalan pintu masuk Kawasan G.Salak Endah
                                          
Utha baru bangun dan langsung ikut poto :D
        Selesai ambil gambar, kita lanjut lagi dan semua langsung berteriaaaak….Kereeeeen…mauuu Potooo…saat  melintasi hutan pinus. Mobil parkir lagi dan kali ini tidak sebentar karena tempatnya Indah sekali, utha pun ikut sibuk take a picture. Utha ini seneng banget kalo difoto, mirip dengan bundanya, mirip juga dengan tante-tantenya heheh.  Ayoo sudah selfienya..kapan nyampe curug nih…bang Zul mengingatkan kita semua. 



Hutan Pinus yang Menggoda
Bergegas masuk mobil dan mulai terlihat banyak tanda panah dengan nama-nama curug. Kawasan ini memang terkenal dengan banyaknya curug alias air terjun. Kita putuskan untuk ke Curug Cihurang, cukup jalan kaki sebentar tanpa naik turun, curug sudah terlihat. Utha masih takut untuk foto disini, sedangkan bundanya plus tantenya sibuk ambil gambar. 

Berpose di Pintu masuk Cihurang

bunda Winda bebaaas euuy

Airnya jerniiiihhh pingin mandi
Curugnya tidak terlalu tinggi namun tetap indah. Ada dua air terjun di curug cihurang ini. Jernih sekali, airnya sudah pasti dingiiiiin......Kami tidak lama disini, karena kita ingin menuju curug seribu, yang tingginya mencapai 100 meter. Curug ngumpet dan Pangeran kita lewati. Rintik Hujan mulai turun, bertanya kepada penduduk yang kita temui arah menuju curug seribu. Ternyata kami tidak disarankan kesana, selain jarak tempuh yang cukup jauh  (berjalan 2 km) ternyata banyak pohon tumbang karena hujan saat itu diikuti angin besar juga. Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti sarannya. Dan perjalanan dilanjutkan menuju curug cigamea. Angin dan sejuknya udara gunung tambah terasa, dingiiiin….breeeer…tempat parkirnya sangat luas, dan ternyata untuk mencapai curug kita mesti  naik turun tangga. Sempat take a picture dipintu masuk, lalu kami bersiap untuk menuruni anak tangga yang lumayan jauh. Dari ketinggian saya bisa melihat curug yang tersembunyi di tengah rimbunnya pohon-pohonan. Indah sangat. 


Utha...jalan naik turun tanpa gendong
Tak sabar ingin segera sampai…..eeeeh  hujan menderas, menepi sebentar dan akhirnya memutuskan sambil menunggu reda mencoba terapi dengan ikan. 
Sempat ragu karena takut akhirnya perlahan kaki mulai menyentuh air dan woowwww..geliiiiii..karena ikan-ikan kecil langsung berkerumun membersihkan sel kulit mati. Akhirnya jadi berani, kaki kiri lanjut masuk ke air. Senang…murah hanya Rp.5000 sepuasnya. Setelah bersih, ikan-ikan tersebut mulai menjauh.  
terapi ikan, pingin lagi deh
Bersamaan dengan selesainya ikan memangsa sel mati di kaki, hujan reda, mentari bersinar. Lanjut turun tangga. Utha bocah cilik yang kita khawatirkan minta digendong ternyata tidak sama sekali digendong. Sepanjang  menuruni anak tangga bernyanyi, juga berdoa…lucu sekali  si utha ini. Mungkin seperti papahnya, karena bundanya gak lucu sama sekali hahaha.  Derasnya air terdengar semakin jelas, kereeeen banget begitu curug didepan mata. Ingin rasanya langsung berada di kolam jernih dibawah air terjun namun petugas berulang kali memberi peringatan untuk tidak mendekati kolam besar dibawah curug karena bahaya longsor. Melihat pesona curug dan segarnya udara sudah pasti mengabadikan pemandangan curug dari segala sisi. 



Belum puas namun hari mulai sore dan perjalanan kami masih jauh, Jakarta lanjut
Cilegon maka kaki mulai melangkah meninggalkan curug ini. Saya dari berjalan didepan sambil ngemil kripik kentang, udara dingin membuat mulut harus sering mengunyah hahaha. Terkejutlah saya, tiba-tiba 3 ekor monyet berada tepat hanya beberapa langkah dari saya berdiri. Saya dan teman-teman baru mengetahui jika di curug ini banyak monyet dan akan keluar  rimbunnya pohon jika tercium bau makanan. Mbaa..mbaaa..jangan dibuka makanannya..teriak penjual saat mengetahui ada beberapa ekor monyet keluar dan menghadang jalan kita. Segera saya menyingkirkan bungkus keripik kentang, pucat wajah saya karena ternyata tidak hanya 3, beberapa ekor monyet turun lagi, ada juga yang menggantung di dahan-dahan.  Akhirnya makanan tsb saya simpan diwarung, lalu beberapa pengunjung memberanikan diri menerobos monyet tsb, dan berhasil….monyet-monyet menyingkir. Waaaah….ketakutan berakhir. 
tuh...ada monyetnya....
Masih ngos-ngosan alias cape karena kali ini bukan turun jalannya tapi naik, dibilas dengan sebotol air mineral. Semilir angin membuat malas untuk pulang, tapi kami harus pulang. Dari arah pintu parkir kami ambil kanan, sehingga kami akhirnya keluar menuju jln raya cibatok dengan arah yang berbeda saat datang. Kami melingkar membentuk huruf  O, Bunder…atau bulat yaa….mungkin ini yang menyebabkan dinamakan G.bunder. Curug Cihurang menjadi curug pertama dan curug Cigamea menjadi curug terakhir karena kami masuk dan keluar kawasan wisata ini dari arah yang berbeda. Menyenangkan, ada yang terlewat sehingga terpikir kapan-kapan balik lagi yaitu ke situs kuta, sebenarnya kami sudah melewatinya namun kami lewatkan, saat pulang hendak mampir waktunya sudah tidak memungkinkan.
Perut mulai berbunyi, tanda laper lagi. Pisang keju, keripik, aneka snack, sudah tandas semua. Semula kami akan makan malam di Pepes Patin di Kawasan Bogor namun karena macet kami batalkan dan beralih ke Sentul, makan sate plus gulai. Cepat tandas, karena memang lapernya mulai naik status dari siaga menjadi waspada hahaha.
Jam 8 malam kami semua berpisah, Bang Zul ke BSD, saya ke Cilegon, Tante Dian ke Kebon Jeruk, dan Utha lanjut ke Ciledug.
Lelah dengan one day trip Curug G.Salak, tapiiiiiii segarnya masih terus bertahan dimata. Sejuknya terasa dan hijaunya pemandangan disana membuat lelah menjadi terbayar. Terimakasih teman2 untuk short tripnya, januari kita bikin  lagi yak…Situ Gunung Yuukkkk hahah, special thanks buat bunda winda yang rela pake salonpas kirikanan depanbelakang buat kita semua. Anda layak dapat SIM A plus-plus hahahaha.


Selasa, 25 November 2014

Mengingatmu dan berterima kasih untuk semuanya ^guruku^

       Kemarin, 25 November  sejenak pikiran saya  melayang ke masa-masa sekolah.  Melintas wajah-wajah yang  telah mendorong saya  sedemikan rupa dengan caranya agar saya  menjadi manusia yang lebih baik  darinya.  Kenangan lama itupun seakan bangkit kembali. Kursi kayu, papan tulis, kapur putih, penggaris kayu serta penghapus persegi menjadi bagian yang tak lepas dari kehidupan pendidikan saya. 
             Kemarin, 25 November saya diingatkan kembali tentang kebaikan budi dari para guru. Memulai mengenal huruf, mengenal angka hingga menyambung huruf demi huruf dimulai di sekolah ini. SDN Blok.C, lokasinya tidak jauh dari rumah, dulu saya tempuh dengan berjalan kaki  15-20 menit, tentu dengan langkah kecil seorang bocah berseragam merah putih. Guru saya di kelas 1 bernama  ibu Tatu, kulit putih, bersanggul dan menggunakan kebaya. 0’ya saat itu awal tahun 80an. Seperti ibu Kartini penampilannya. Penggaris panjang kayu selalu dipegangnya. Mengetuk huruf di papan tulis dan saya sekelas mengikutinya dengan suara keras. Berbeda dengan anak-anak sekarang ya…,yang banyak les baca, menyambung huruf dsb.

          Masuk pukul 07.00 pagi dengan suara lonceng besi, berada dibangku kayu itu ditemani ibu Tatu hingga pukul 10.00 pagi. Lancar dengan huruf maka saya mulai belajar menyambung huruf dengan tulis sambung, namanya menulis halus. Kertas untuk menulisnya berkolom besar kecil. Berusaha untuk menulis rapi saat itu, walaupun sekarang tulisan saya berubah menjadi sangat jelek hingga banyak orang kesulitan membaca tulisan saya heheh, untunglah sekarang saya menulis ini dimonitor laptop sehingga teman-teman tidak kesulitan membacanya J. Guru SD saya yang lain bernama ibu Iyong Febriyanti. Bertubuh gemuk, berkacamata dan baik hati, (semoga Allah memberikan kelapangan kuburnya) Beliau menjadi wali kelas saat kelas II, dan saat kelas III saya diasuh oleh ibu Helena, rumahnya dekat sekolah, saya sering mampir pulang sekolah untuk belajar matematika dan senang sekali karena punya pohon jambu batu. Salah satu buah favorit hingga sekarang mungkin karena dulu seringnya makan buah jambu batu. 
Dikelas IV saya diasuh oleh ibu Yati, berlogat sunda, berkulit putih, rambutnya hitam sebahu. Beliau menjadi wali kelas juga dikelas VI. Waah, beliau yang  paling sibuk saat kita semua hendak ujian. Saya ingat betul bagaimana beliau terus-menerus memberikan PR lalu Tanya jawab di kelas. Alhamdlh  saat itu kita semua lulus dan banyak masuk ke SMP favorit. Itu membuat beliau bahagia sangat. Selain guru wali kelas, ada pak Toton, lalu Ibu Isah yang mengajar bahasa Indonesia, dan pak guru olahraga. Masyaallah sampai hari ini saya benar-benar lupa namanya. Maafkan pak. Tapi saya ingat wajahnya. Olahraga yang bisa saya ikuti hanya bermain kasti dan atletik. Main volley, berenang seringnya cuma jadi penonton ;( 
        Lulus SD, saya masuk ke SMP Negri I, yang letaknya juga tak jauh dari rumah. Pulang pergi dengan berjalan kaki. Dulu masih sepi jadi jalan rame-rame memenuhi jalan juga aman. Sekolah saya dekat pasar, dekat Bioskop (posternya terlihat dari jendela sekolah), juga dekat dengan stasiun. Sekarang sekolah saya sudah 2 lantai. Tapi halaman tempat upacara masih seperti dulu, dan saya sangat ingat itu. Maklum dulu sering jadi pembaca UUD 1945 J
Dikelas 1 saya diasuh oleh bu Reny Damaiyanti. Beliau juga guru seni/tarik suara. Wah suaranya bagus, teknik vokalnya keren, berkarakter banget deh (istilah AgnesMo). Dengan beliau pula saya sering menjadi pasukan paduan suara saat upacara hari-hari besar, mengenal istilah stakkato, mars dll dan yang pasti belajar mengenal alat music. Main seruling, lalu clarinet dsb. Beliau sangat disiplin. Dikelas II saya bertemu dengan Ibu Cucu, beliau guru fisika juga. Tidak tinggi, sedikit gemuk dan cantik. Kacamata tak pernah lepas dari wajahnya. Logat sundanya pun kental. Wah …..kalo bu cucu sudah depan kelas saya pasti akan banyak diam. Fisika itu menurut saya pelajaran tersulit, benar-benar dibuat susah. Sampai saat ini saya masih berpendapat seperti itu. Dari beliau saya mengenal istilah energy, kecepatan, lalu bayangan dsb. SMP gurunya lebih banyak, karena tiap mata kuliah pelajaran diasuh oleh seorang guru. Ibu Tuti adalah guru biologi saya, lalu Pak Hasan guru PSPB ( jaman sekarang namnya sejarah deh), Pak Rifai guru agama, dan pak waslam guru olahraga. Di SMP saya menyukai basket, belajar lempar cakram juga sepak takraw. Seru mengingat masa ini. Oya bicara SMP, maka saya pasti akan teringat Bpk. Andi, my English teacher. Bpk Andi ini wow banget. Saya termasuk orang yang suka kena semprot karena englishnya dibawah standar heheh, kata beliau saya kebanyakan makan bakwan. Jadi susah ngerti haha. Mungkin ntar kalo saya punya anak tak kasih keju tiap sarapan biar English gitu hehe. Masa SMP memang masa peralihan maksudnya beralih iseng, beralih sedikit ‘nakal’ J. Maafkan kami pak…,karena pernah menyalakan petasan dalam kelas, mengunci kelas agar pak guru gak bisa ngajar, dan kenakalan lainnya. Kelas III, masa berat. Tiada hari tanpa tambahan pelajaran, bpk dan ibu guru gak cape ngurus kita, memikirkan kita agar lulus dengan nilai maksimal tapi kita asik baca majalah Hai (duuh ibu..maafkan kami).
Saya belajar akutansi juga di SMP, bu Darmi nama gurunya. Mungil, imut. Suaranya pelan. Belajar debet kredit, jadi tau-deh istilah dalam neraca keuangan. Guru yang sangat disiplin untuk urusan PR di SMP ini adalah guru matematika. Ibu yani namanya. saya dan teman-teman langsung duduk tertib, tenang, dan gak berani tengok kiri kanan karena ini pelajaran susssssah banget, KPK, FPB, lalu geometri dsb. 
Subhanallah. Doa buat guru-guruku semua.
1991, masuk dunia sekolah menengah. Kali ini sekolahnya tidak dekat rumah, setengah hari perjalanan dengan bis kota (belum ada jalan tol  jkt-merak). Saya mulai belajar mandiri secara total, jadi anak kost saat usia belum 15 tahun. Tinggal di Jakarta pusat, dibelakang penjara Salemba. Sekolahnya terletak dalam kompeks BPOM. Kecil memanjang, kelasnya cuma tiga. Tapi punya laboratorium terlengkap. Keren dah. Kepala sekolahnya bernama bpk Indiarto kami memanggilnya pak indi, tinggi tegap suaranya pelan. Beliau mengajar fisika juga. Nah….karena suaranya pelan beberapa teman saya sering tidur dengan posisi duduk tegak, dan diktat panjang tebal tetap ditangan, posisi terbuka. Saya tidak tidur tapi yaa itu tadi tetap gak ngerti, karena sejak SMP mata pelajaran Fisika itu sulit. Walau telah lama berlalu namun gaya mengajarnya saya ingat benar. Kacamata itu pasti. Alhmdlah senang sekali masih berkomunikasi dengan beliat di fb. Pak Gurunya keren ya, update terus. Guru saya yang lain bernama bu Tati (namanya sama hehe). Guru kimia anorganik, belajar golongan unsur hingga membuat jembatan keledai agar kita mudah menghapalnya. saya cukup dekat dengan beliau, pesannya yang saya ingat benar adalah saat lulus, saya katakan saya tidak melanjutkan sekolah, mau pulkam dan kerja. Beliau berpesan jangan putus sekolah, jadilah seorang apoteker  dan kamu bisa (ibuuuu...saya berhasil mewujudkannya walaupun tertunda bertahun-tahun...)
Satu lagi guru perempuan saya bernama bu suryati. Asik banget gaya bicara dan jalannya. Bawanya motor vespa. Senangnya memakai blus putih dan rok biru tua bentuk A. sepatu tanpa hak, wajah tanpa makeup, rambut dijepit. Mata pelajarannya adalah ilmu resep, eeh saya belum cerita yaa sekolah menengah atas yang saya pilih adalah sekolah menengah farmasi. Jadi saya belajar ilmu resep. Menghitung dosis, membuat aturan pakai juga belajar membuat obat yang ditulis dalam resep. Tulisan saya yang jelek sedikit tertolong karena di resep tulisan juga banyak yang jelek hahah. Saat kelas II saya punya guru baru, dari Sumbar mengajar bahasa Indonesia. Spesial sekali guru ini di mata teman saya yang laki-laki, mau tahu kenapa??............gurunya mirip model,postur maupun wajahnyaJ.
Guru saya yang lain, Bpk abdulah (semoga allah melapangkan kuburnya). Beliau guru b.inggris, wajahnya sedikit galak tapi beliau baik hati terutama dengan anak-anak kost. Kalo b.inggris menjadi pelajaran terakhir, saya dan teman-teman pernah beberapa kali dibelikan ice cream, makan rame-rame. Sebagian dari kita adalah orang daerah, jadi kebayang dong senangnya ditraktir ice cream. Ada guru saya yang gayanya nyentrik, bicaranya cepat. Kalo sekarang saya berpikir beliau cocok jadi sutradara gitu. Seni banget sedikit gondrong beruban. Beliau mengajar pengenceran, ilmu yang mempelajari seni bagaimana kita bisa menimbang dlm jumlah kecil, mengukur dalam jumlah kecil, Mungkin yang seangkatan dengan beliau adalah guru bahasa latin, Adi Dharma bpk guru kami tercinta (semoga allah menjadikan ilmunya sebagai penerang di alam kubur). Setiap anak farmasi belajar bahasa latin, itulah bahasa yang digunakan dalam istilah farmasi maupun kedokteran. Pak Adhi ini tegas sekali, tulisan kita harus rapi karena memang jika tidak jelas bisa mengubah arti, dalam b.latin huruf a dan o menjadi huruf yang penting. Beliau kalo ulangan selalu membuat dua sisi, kanan kiri akan berlainan soalnya dan selalu di dikte, jawab langsung, tidak akan dibiarkan menengok kiri kanan apalagi buka catatan haha. Sst..ada guru yang muda dan ganteng juga waktu itu, masih single hahaha, saaayaaang kita banyak di lab jadi cuma sempat lirik-lirik aja hahha. Pak Jun itu guru matematika dan pak Rahman guru biologi. Pak Guru yang suka melucu namanya pak Sardi, beliau guru analis kimia. Guru yang super sepuh adalah guru undang-undang kesehatan. Belajar dikelas bersama beliau wajib punya penggaris ditangan kanan, pensil ditangan kiri. Setiap beliau bilang penting maka kami akan menggaris bawahi pasal-pasalnya lalu memberikan tanda seru di bagian kanan tulisan. Alhmdlah metode ini saya gunakan sampai saat ini, menggaris dan member tanda seru.  Wali kelas saya dulu namanya bpk Yayan, beliau mengajar juga ..sebentar namany saya lupa…….akutansi aah bukan..oyaa..yaaa…namanya mata pelajaran administrasi. Pusing karena membuat neraca, lebih senang belajar kimia organik ataupun kimia analisa hehe. Sudah cape bikin neraca eeeeh pas ditutup antara kanan kiri tidak seimbang, dan mesti buat awal lagi, tapi beliau termasuk guru yang sabar gak pernah marah. Sapa lagi .....masyaallah hampir terlupa bpk sobari, sinonim nama pelajarannya. Kita harus hapal nama persamaan suatu obat, ataupun simplisia. Beliau memberikan tips bagaimana kita menghapal isi diktat itu. saya menulis dalam kertas-kertas kecil ditempel di lemari pakaian, cermin, pintu kamar mandi, dekat rak sepatu, sampai dinding pinggir tempat tidur hahaha. Dan...memang berhasil..............mau tak mau saya membaca note itu tiap hari sampai hapal deh. tadi saya cerita yaa, saya jadi anak kost yang uangnya dikirim pake weselpos, tahun itu belum ada ATM, dan kadang terlambat nyampenya. Pak Gite adalah guru kimia yang saya datangi untuk pinjam KTP beliau ambil uang di kantor pos, kalo telat beliau juga yang tahu duluan karena SPP dan uang kost ikutan telat. Subhanallah baiknya guru-guruku. Dibawah ini adalah guru di SMF dan saya meneteskan air mata mengingat mereka satu persatu. Kami seperti keluarga, karena mereka adalah orangtua saya saat saya jadi anak kost, selama tiga tahun bersama di ruang itu. (maaf ada yang saya lupa, bapak bagian TU..:(.

        Disekolah ini kedisplinan kejujuran sangat ditekankan, karena memang itulah yang menjadi penolong kita terlebih setelah lulus bekerja sendiri menangani resep, jadi kita selalu diberi wejangan tentang dua hal tersebut.

Lulus dari sini….lanjut sekolah lagi..tapi ceritanya nanti lagi deh…sudah mesti time out, waktunya makan siang..:D

Rasa terimakasih tentu tidak cukup untuk orang-orang hebat yaitu guru-guruku semua. Sumber inspirasi serta motivasi. Permohonan Kepada Yang Maha Pemurah itu yang akhirnya bisa saya lakukan, mudahkan guru-guruku, perlancar rezekinya, panjangkan usianya, sehatkan beliau2 dan jadikan ilmu yang telah diberikan menjadi catatan kebaikan. Untuk yang telah pergi, saya yakin dan percaya bahwa ilmu yang bapak/ibu guru berikan adalah amalan yang tak pernah terputus untuk bapak dan ibu
Terimakasih guru……………