Lanjut lagi yuuk ceritanya....
Pernah gak..ada yg datang ke apotek dan bermaksud membeli obat. Namun yg disebutkan nama pabriknya. Saya pernah dan tidak cuma sekali. Semalam mengalami lagi. Ada seorang bapak yg belum terlalu tua, bermaksud membeli obat batuk untuk anaknya berusia 7 tahun. Saya coba tanya..dan menggali informasi seperti jenis batuk, usia dan obat yg sudah diminum. Dia mengatakan ingin membeli obat batuk seperti beberapa bulan yg lalu. Karena bingung beliau menelepon istrinya dan suara disebrang disana menyatakan beli obat batuk namany combiphar.
Saya coba jelaskan itu nama pabrik pembuatnya. Tapi ternyata bapak tsb belum paham jg. Akhirnya dihubungi lagi istrinya dan hp nya diberikan kepada saya. Maka terjadilah percakapan menuju closing..hehe (jualan teteuup yaa).
""Bu..dus obat batukny masih ada gak??
Udah dibuang...jawabnya
""Namanya apa bu??
Combiphar mba..
"Oh..warna dusnya apa bu..
Ada warna ungu dan gambar anak kecil
Hmm...ini contusi sepertinya
"Rasa obat batuknya apa bu
Strawberry...
Oke bu..saya berikan comtusi ya ke bapak. Ini obat batuk buatan combiphar. Semoga sesuai dgn yg ibu inginkan.
"Okey mba..terima kasih
Maka closinglah satu pasien pulang dgn membawa obat yg yg diinginkannya.
Datang lagi seorang pasien dengan keluhan tidak bisa menggunakan obat semprot untuk asma yang dideritanya. Dan pasien ini datang dari jauh. Mesti menempuh perjalanan satu jam lebih. Beliau ragu dan ingin bertanya bagaimana cara membuka dan menggunakanya. Setelah dijelaskan sebentar...lalu dipraktekan sendiri...dia tersenyum dan berkomentar...ternyata cuma diputar ya mba dan mudah banget.
Alhamdulliah...akhirnya beliau bisa dan percaya diri menggunakan alat semprot tsb.
Ada kejadian juga yang salah dalam menggunakan obat. Penyebabnya menurut beliau informasi yanv kami berikan tidak jelas. Setelah ditelisik ternyata kami memberikan informasi bahwa obat yg berbentuk sachet ini dilarutkan dalam segelas air. Dan oleh pasien karena kakinya yang sakit maka obat yang berisi 28 sachet itu tiap tiga kali sehari dilarutkan dlm air lalu dibaluri dikakinya yang sakit. Alamaaaak..
Padahal maksud kami obat tsb diminum. Tapiii itulah yang terjadi. Informasi sekecil apapun yang bisa saja kita anggap biasa namun bagi pasien menjadi penentu bagaimana dia akan menggunakan obatnya.
Informasiny cukup jelas namun cara pesan tidak sampai saat dijelaskan itu jg salah satu penyebab kegagalan terapi yang disebabkan karena kesalahan penggunaan.
Membangun komunikasi yg baik dengan pasien tentu sangat dibutuhkan yaa.
Masih pingin cerita tapi ini saya ketak ketik di hp dan di bus ke jkt...matany mulai berkontraksi kuat hehe....lanjut nanti lagi yaa...mobil busny goyang2 mlulu..haha
Kamis, 07 Mei 2015
Selasa, 05 Mei 2015
Bukan Karena Layu Bukan Karena Matang
Ini adalah kali pertama, saya menjumpainya. Biasanya bus yang saya tumpangi akan kedatangan "penyanyi" dari yang benar-benar menyanyi, setengah menyanyi..atau hanya bersenandung gak jelas. Terkadang ada juga yang baca puisi, pantun, bercerita tentang sulitnya hidup di jakarta, sulitnya hidup di penjara dan selebihnya memaki para penguasa bangsa atau memaki penumpang yang tertidur atau hanya melambaikan tangan pelan.Tapi....sore tadi berbeda.....,lepas dari Slipi...yang masuk dalam bus yang saya tumpangi adalah seseorang yang berkisah tentang 'kematian'...seperti penceramah, namun tak panjang lebar..,mungkin kultum tepatnya (kuliah tujuh menit), karena di kebon jeruk, yang jaraknya tak begitu jauh, kakinya keluar meninggalkan bus.
Pemberi kultum bercerita bahwa daun yang jatuh dari dahan atau rantingnya tidak semua karena sudah layu ataupun kering begitu pula buah yang jatuh dari pohon tidak hanya buah yang sudah masak saja, semuanya dimungkinkan jika pemberi kehidupan berkehendak, sehingga tak ada rumusan, kapan kematian itu akan datang..sekalipun penyakit parah dan ganas hidup dalam dirinya tak ada yang bisa memastikan kapan dia akan mati, begitu pula seorang anak muda yang gagah, bertubuh atletis, ekonominya cukup mapan, karirnya sedang di Top managemnet...tak bisa dipastikan dia akan berumur panjang, bisa jadi lusa, besok atau hari ini kematian merapat mengakhiri hidupnya.
Semuanya bisa terjadi.........pemutus kehidupan melakukan eksekusi dan kita akan hidup di tempat yang lain ...yang abadi....indah atau tidaknya tergantung bekal yang kita bawa. Tidak panjang dia bertutur, namun pesannya menahan mata saya untuk tetap terjaga. yaaa......tak tua dan tak muda semua serba mungkin...yang sehat...yang sudah renta....tak ada batasannya...Masuk gerbang tol kebun jeruk, dia bergegas turun.....sebelumnya berkeliling meminta keiklasan penumpang untuk sebagian rezekinya....dan sempat saya lihat beberapa penumpang memberikannya dengan ringan..., saya berbincang sedikit dengan "teman" di kursi sebelah...."pesannya mudah dicerna dan gak bikin takut...,"dan ternyata diaminkan olehnya.........jadi ingat mati katanya..
Perjalanan pulang dari rambutan sore tadi ternyata dapat oleh-oleh juga...,terimakasih yaa pak..,teruskan saja bertutur yang sopan, bercerita yang bermakna, menjadi pengingat....pasti dicatat dan akan dinilai...walau nanti tidak dipanggung bus lagi...jangan memaki-maki apalagi sampai menakuti penumpang dengan memperlihatkan lengan yang penuh tato...karena Tuhan akan memanggil kita untuk memperlihatkan nilai kita tanpa menunggu "layu ..ataupun ..masak.."
Bahagiakah Kita
Kita termasuk saya, terkadang menyalahkan keadaan sewaktu kita tidak merasa bahagia, entah karena pekerjaan yang kita jalani, karena lingkungan, kampus, bahkan keluarga. Apakah benar mereka penentu kebahagiaan diri kita? sepertinya bukan, karena teman saya punya karir yang bagus di perusahaan tempat dia bekerja, gaji yang lewat dari kata cukup, dan fasilitas yang lengkap, tapi mendengar ceritanya dia terkadang merasa tak bahagia dengan keadaan itu, berbeda dengan teman saya yang menjadi guru di sebuah SD, mendengar ceritanya saya sering ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan, kisah lucu murid2nya, kisah cara dia mencairkan perseteruan dengan rekan sekrja dsb, walau saya tahu pendapatannya masih dibawah keinginannya, jadi saya rasa bahagia tidak ditentukan dengan pekerjaan yg kita miliki.
Sama ketika kemarin siang saya sempat berputar- putar mencari tempat memperbaiki “jok”motor yang sobek dan rusak akhirnya setelah berpanas-panas saya menemukan tempat rehabilitasi jok motor, sambil menunggu, saya memperhatikan apa yang dia kerjakan. Masih dalam hitungan menit, semuanya selesai plus rapi, cekatan sekali. Melihat ini saya tertarik untuk berbincang sedikit dengannya, 15 tahun dia menekuni pekerjaan ini, nampak dia bahagia dengan semua yg dia jalani terlebih saat menceritakan keberhasilan anak-anaknya. Teman saya yang lain berkisah tentang ketidaknyamanannya dengan keluarga yang dimilikinya, saya berpikir dia sangat bahagia dengan kisah romantisnya, kisah lucu putrinya, dan tentu saja pendamping yang bertanggung jawab, tapi ternyata tidak, karena dia sibuk mencari kebahgiaan ditempat lain. Tapi ada juga kisah yang saya kira dia tidak bahagia dengan tempatnya yang baru, jauh dari keramaian, jauh dari hiruk pikuk kota, jauh dari shoping, blanja blanji, jalan-jalan dan sebagainya, saat dia berkisah..wahhh..ternyata dia sangat menikmati, menyenangi dan bahagia dengan tempatnya yang baru.
Ada benarnya ketika saya baca postingan bang tere (penulis) bahwa bukan semata- mata tempat kerja yang membuat seseorang bahagia. Bukan pula atasan yang baik. Gaji yang tinggi. Fasilitas yang wah. Teman kerja yang mendukung. Kitalah yang paling menentukan apakah akan bahagia bekerja di sana atau tidak.
Bukan pula karena keluarga yang kita miliki, bukan karena rumah yang kita tinggali, atau karena orang-orang disekitar kita. Kitalah yang paling menentukan apakah akan merasa bahagia atau tidak. Karena kebahagiaan itu ada di hati kita, tidak datang dari luar. Tidak bisa dibohongi.
Tak salah jika kita diajarkan untuk sering-sering berdoa kepada sang pemilik hati, kepada yang membolak-balikan hati, agar hati ini selalu lurus, merasakan nikmat dari semua yang dimiliki, dari semua yang dijalani, meski tak dapat dipungkiri kadang semuanya terasa berat, membosankan, menyebalkan, dan membuat patah hati dan frustasi dengan semua yang kita jalani.
Kunci bahagia atau tidak ada dalam diri kita sendiri..."selamat merayakan kebahagiaan"
Senin, 04 Mei 2015
#3_Tertawa aku mengingatnya
Pernah dong,
kita dibuat tertawa karena kegagalan kita berkomunikasi dengan pasien. Penyebabnya banyak bisa karena bahasa yang
digunakan baik verbal maupun non verbal, atau gara-gara bahasa tubuh kita,
gagal paham yang menyebabkan kita tertawa saat kejadian itu. Tertawa karena
menahan malu, atau tertawa karena memang lucu.
Pasien
yang menderita penyakit kronis umumnya sudah sepuh atau menjelang lansia. Rutin
berobat, dan yang pasti obatnya sering berulang alias itu-itu aja. Nah, pasien
ditempatku dulu bekerja banyak yang dari desa. Lalu sangat fanatic dengan dokter yang akan
dikunjunginya, termasuk dengan obat yang akan diminumnya. Ganti Brand bisa berabe gak mau diminum,
minum captopril yang buatan Indofarma
gak mau jika sebelum-sebelumnya sudah menggunakan generic kimia farma. Mesti
diberi pengertian pelan-pelan agar dipahami. Begitu pula dengan resep racikan.
Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, resep racikan itu terdiri dari
macam-macam obat yang dimasukan ke cangkang kapsul.
Dari sinilah masalah
bermula. Jika bulan sebelum-sebelumnya mendapatkan warna kapsul hijau kuning,
eh bulan ini mendapat warna ungu, mereka keberatan. Lapor ke dokter, petugas
apotek mengganti obat. Mereka bilang obatnya gak ampuh dan sebagainya. Hadeeeuh…sambil
garuk-garuk kepala, saya coba jelaskan bahwa ini sama, hanya masalah cangkang
kapsul. Belum paham juga…semua kapsul yang ada diruang racikan saya tunjukkan,
bahwa seperti inilah awalnya. Jadi kalau
setiap bulan minta kapsul hijau kuning terus yaa kita gak bisa jamin. Ada yang mengerti dan mengangguk-angguk lalu
ikut memegang cangkang kapsul aneka warna yang aku tunjukkan. Namun ada juga
yang keukeuh bin keukeuh gak mau diganti. Repotnyaaa…………….tapi ini lah
tantangan berkomunikasi sampai akhirnya kita sama-sama salaman dan bilang, jadi
kapsulnya boleh ganti warna ya bu??.....boleh neng…maaf ibu gak tau. Hehe..lega
rasanya…
Cerita lain,
saat baksos ke desa-desa, maka kesulitan
untuk menjelaskan cara menggunakan obat tiga kali sehari. Mereka kadang gak bisa baca, ada lagi yang
mengartikan makan tiga setiap hari. Nah.saya sering menggunakan kebiasaan mereka untuk patokan minum obat.
Misalnya saya bertanya tentang kebiasaan dari pagi sampai dengan malam.
Akhirnya cara minum obat saya hubungkan dengan itu. Misal setelah sholat
subuh/dhuha, lalu siang setelah dhuhur maupun malam saat mau tidur atau setelah
sholat isya. Alhamdulliah ternyata mereka lebih paham.
Ada lagi
kisah ketika harus menerangkan obat
khusus, waktu itu jenis obat yang akan dimasukkan ke vagina. Repotnya
yang mengambil adalah suaminya. Ternyata minta dijelaskan agar dia bisa
menerangkan ke istrinya. Euleuh..euleuh…saya jadi agak sedikit bingung tapi akhirnya pasien mengerti dan puas
hahaha.
Waktu
pertama kali saya bekerja (baru lulus tahun 90an), ada pasien bule yang tidak
bisa bahasa Indonesia, waduuh gemetaran saya menjelaskannya. Gak tau mo ngomong
apa. Bingung bin takut. Tertolonglah dengan
teringat ada brosur dikotak obatnya hahaha. Jadi saya baca dan saya
hapalkan cara pakai, dan gunanya. Aaaihhh..katro banget kan. Dari situ saya bertekad belajar bahasa
inggris buat menjelaskan kepada pasien, walaupun sampai hari ini tetaaap
kosakata tdk banyak hahahaha
Ada lagi??...hahaha..selalu dengan kisah landong
wkwkwk…..
atau menjadi bersemangat ketika pasiennya mirip
afgan…..mahluk kece gitu walaupun Cuma miriiiip doing. eeh ternyata resepnya
berasal dari dr. kandungan. Langsung hilang semangatnya hahahaha, karena itu
resep milik istrinya **hahahah**
masih banyak nih cerita, tangan masih mau main
dilaptop tapi jam sudah bergerak hampir setengah dua, mesti pake uniform dan
berangkat kerja..sambung lagi ntar yaaa..:D
Minggu, 03 Mei 2015
#_2 Disitu Kadang Saya Merasa Happy
Kemarin, saya bercerita tentang hati yang
sedih saat harus berhadapan dengan pasien yang membuat badan ini jadi ciut,
berlatih lagi dengan kata sabar, atau tiba-tiba ada yang meleleh di pipi
setelah pasien “marah”. Menangisnya ditahan gak depan pasiennya, tapi begitu
masuk ruangan, menyelinap dibalik pintu atau masuk kamar mandi, meleleh juga
yang ditahan diujung mata. Malu sebenaranya jika ada yang mengetahui penyebab
menangis, tapi itulah yang terjadi, walau usia termasuk sudah sangat dewasa,
mau nangis ya nangis aja. Menangis kan tidak dibatasi oleh usia. Benerkan?
Yaa….berhadapan langsung dengan pasien
selalu ada cerita. Untuk tulisan kali ini
saya ingin menceritakan banyak hal yang membuat kitapun bahagia tiada tara. Ada juga yang meleleh di pipi tapi bukan
sedih. Sama-sama meleleh tapi emoticonnya beda.
Apa yang membuat disitu kadang saya
merasa happy??...gajian?..eeh ini bukan masalah gajian yaa, ini sedang bahas
tentang sesuatu yang membuat kita merasa berguna untuk orang lain. Saat kita
melakukannya kita merasa apa yang kita lakukan adalah hal yang biasa saja,
sebatas kewajiban yang harus dilakukan agar pasien mendapat haknya dengan baik,
namun kita terkaget-kaget saat responnya luar biasa. Apapun profesinya pasti
bahagia ya saat yang kita lakukan mendapat respon yang baik atau pesan yang
ingin disampaikan diterima oleh yang bersangkutan. Seorang guru akan sangat
bahagia saat tugas dikerjakan oleh muridnya dengan baik, seorang edukator
gizi akan bahagia saat klien/pasiennya
mematuhi anjurannya dan menunjukkan perkembangan yang semakin positif.
Begitu pula kami. Ketika memberikan
informasi seputar obat yang akan digunakan lalu pasien aktif bertanya sehingga
terjadi komunikasi dua arah, saya merasa apa yang saya sampaikan bermanfaat.
Atau tiba-tiba ponsel berbunyi, dan suara diseberang sana bertanya tentang
suatu obat maupun berkonsultasi tentang kesehatannya beberapa hari kemudian ada
pesan masuk yang mengabarkan kondisinya semakin membaik. Beberapa teman terkadang minta saya
memisahkan stok obat yang ada dirumahnya, menulis fungsinya sehingga akhirnya
stok obatnya menjadi lebih rapi dan yang pasti temanku jadi mengetahui kegunaan
obat-obat yang ada dirumahnya.
Waktu saya bekerja di Rumah Sakit Daerah
pasien yang datang kadang berasal dari desa yang harus menempuh perjalanan
panjang sebelum bertemu dengan dokternya. Bahasa Indonesia yang digunakannya
pun terbatas, namun semangat berobat dan keyakinan untuk sembuhnya sangat
tinggi. Dan itu membuat saya bersemangat juga untuk menjelaskan secara detail
tentang obat yang akan diminumnya. Mereka sangat patuh terhadap anjuran yang kami
berikan.
Pasien yang lain membuat saya merasa
bahagia karena sekarang sudah berani menyuntik insulin ditubuhnya. Saat pertama
kali bertemu, beliau tidak tahu cara menggunakannya dan beliau sangat takut
bersentuhan dengan jarum suntik, jadi insulin yang diperolehnya dari dokter
hanya dipandangnya saja tidak berani digunakannya. Secara perlahan setelah
diberi sugesti bahwa ini semua buat kebaikannya dan tidak menyakitkan,
alhamdulliah sekarang beliau sudah tidak takut lagi dan rutin datang untuk
membeli insulin. Gula darahnya sudah terkontrol dengan baik.
Kisah lain ada juga seorang ibu yang
kalau datang ke apotek tidak sebentar.
Pasti bercerita tentang suaminya yang sudah lama harus mengalami cuci
darah. Tinggalnya lumayan jauh, setia menemani suaminya. Yang menarik dari
pasien ini adalah setiap ke apotek selalu berkonsultasi tentang kesehatan
suaminya. Bertanya tentang pola makan untuk suaminya. Bahkan kadang diselingi
tawa. Disitulah kami merasa bahagia. Kami merasa kami ada.
Cerita lain?? Bahagia jika yang kita lakukan ternyata
bermanfaat untuk orang lain. Ketika
lingkungan rumah mengetahui bahwa kita
seorang farmasis, maka tak jarang tetangga sekitar bertanya seputar informasi
obat, minimal kegunaan atau fungsi obat. Begitupula saat ada arisan RT,
pertemuan keluarga terkadang kita menjadi semacam narasumber untuk bicara
tentang kesehatan. Hai..hai…ternyata ilmuku banyak dibutuhkan orang ya. Alhamdulillah ternyata lelah belajar dahulu
bisa digunakan untuk membantu orang lain. Bukankah membantu orang lain adalah salah satu
misi hidup. Ketulusan dalam setiap apa yang dilakukan.
Oyaa ada sebuah kisah dari salah seorang
seniorku, beliau adalah orang yang peduli terhadap pasien-pasiennya hingga ada seorang pasien
yang jika datang ke apotek selalu ingin bertemu dengannya. Hingga suatu hari
pasien tersebut tidak bisa lagi datang ke apotek karena sakitnya semakin parah.
Silaturahmi tidak putus begitu saja, datang menjenguk dilakukannya. Dan tanpa
diduga ternyata pasien tersebut adalah owner sebuah perusahaan terkemuka. Atas
kebaikan dan ketulusan yang dilakukan, maka hadiah yang tak ternilai harganya
diberikan oleh owner tersebut. Memanage sebuah anak perusahaan. Yaa…kita
percaya janji Allah pasti benar. Menebar saja benih, semoga benih itu tumbuh
dan bisa dipanen, jikapun tidak yakin saja bahwa kebaikan-kebaikan yang kita
terima setiap harinya adalah karena dari doa-doa mereka.
Ketika dokter sudah meresepkan obatnya
dengan tepat maka kami juga berkewajiban untuk memastikan bahwa obat yang akan
digunakan oleh pasien sesuai dengan harapan. Mengurangi dan menyembuhkan sakit yang sedang dialami oleh
pasien, ataupun menjaga kesehatan pasien. Jadi izinkanlah kami berbuat banyak
kebaikan dan merasakan kegembiraan serta kebahagiaan, lewat diskusi maupun
berkomunikasi, jangan sungkan apalagi takut bertanya kepada kami informasi
seputar obat, bisa jadi kami tidak bisa menjawabnya saat itu tapi pasti kami
akan berusaha untuk mencari tahu. Tentu informasi yang kami berikan sebatas
kewenangan kami sebagai tenaga farmasi.
Nah…..jadi datanglah ke kami jika membutuhkan
informasi seputar obat. Karena disitulah kami merasa happy. Pertanyaan yang
diberikan pasien atau lingkungan sekitar, membuat kami menjadi harus terus
belajar tanpa henti.
Kami mencintai pekerjaan ini.
Cerita lain tentang "tawa" diseputar pekerjaan farmasi, besok lagi yeee....
-
Sabtu, 02 Mei 2015
#1_ DiSitu Kami Merasa Sedih
Masih dalam suasana May-Day, hari dimana buruh
mengekspresikan tuntutannya, mengekspresikan inginnya dalam waktu bersamaan
dari ujung barat hingga timur. Saya jadi ingin menulis sesuatu yang berhubungan
dengan pekerjaan saya. Bukan sebuah tuntutan
namun berbagi informasi seperti apa pekerjaan ini dibalik layar :)
Sssst…, apakah banyak teman-teman yang pekerjaannya
berhubungan langsung dengan konsumen?? Sepertinya banyak ya, ada yang
konsumennya anak-anak, orang tua, ada yang general tidak memandang usia, ada
yang dihadapinya konsumen dalam kondisi tidak sehat alias sedang sakit dan
sebagainya. Nah, saya adalah seorang pekerja yang konsumen terbesar saya adalah
mereka yang sedang sakit, kami sering memanggil dengan sebutan ^pasien^. Tempat
bekerja saya adalah tempat terakhir disebuah siklus jika teman pergi ke dokter.
Jadi jika teman-teman datang ke dokter untuk konsultasi kesehatan
lalu mendapat selembar resep maka ditempat pengambilan obat itulah saya berada.
Yup benar, saya bekerja di apotek.. Tempat dimana pasien datang untuk membeli
obat (sebagian besar seperti itu). Bekerja
sebagai seorang farmasis, dan profesi ini tidak sepopuler tenaga kesehatan
lainnya.
Berhadapan langsung dengan konsumen tentu banyak
cerita ya, dari suka maupun duka. Terlebih yang kita hadapi adalah orang sakit,
yang bisa jadi emosinya tidak stabil karena sedang menahan nyeri ditubuhnya, menahan
rasa sakit dikepala, giginya baru saja dicabut, tekanan darahnya sedang tinggi atau
bisa jadi sedang pusing karena biaya obat yang menguras kantongnya.
Nah…karena
hal-hal tersebut, mungkin saja rasa sabar mereka juga berkurang. Kita sangat
memahami itu. Menunggu antrian saat menebus resep pasti akan terasa
lamaaaaa. Bahkan untuk duduk dikursi
tunggu yang cukup nyaman pun menjadi hal yang berat. Mereka lebih memilih
berdiri untuk menunggu.Bolak balik didepan kami sambil berkali-kali bertanya.
Mengapa terasa
lama? salah satunya karena mereka sudah melewati beberapa antrian sebelumnya seperti mengantri
saat mendaftar ke dokter, lalu mengantri lagi saat hendak masuk keruang dokter
untuk diperiksa, atau ikut mengantri untuk periksa ke laboratorium. Berapa lama
mereka sudah menghabiskan waktu sebelum sampai ke apotek?, jawabnya cukup lama.
Lhaa…kok tau sih??...ya karena sayapun
pernah menjadi pasien. Menunggu adalah hal yang tidak mengenakkan. Dari pagi
sudah ada di klinik ataupun rumah sakit, namun sampai dengan siang masih harus
mengantri diapotek. Mungkin juga sedari sore antri di klinik, jam 9 malam masih
juga melanjutkan antrian diapotek.
Atas dasar itulah
kami berusaha untuk selalu menyegerakan resep yang masuk, misi kami adalah obat
sampai ke tangan pasien tidak hanya cepat namun juga tepat. Tepat segalanya (ntar dibahas dalam
tulisan yang beda yaa tentang ketepatan ini). Tapiiiii yaaa itu tadi, niat kami
untuk menyegerakan bukan berarti mengesampingkan hal-hal penting yang harus
pula kami lakukan. Bukankah obat itu bisa menjadi racun jika tidak tepat ataupun
keliru dalam penggunaannya.
Terkadang kami terkesan lambat (walaupun kami tidak
ingin lambat) dalam mengerjakan pekerjaan ini, dan akhirnya tidak jarang kami
harus berhadapan dengan pasien yang “marah”. Cara marahnya pun berbeda-beda. Dari
yang skala satu sampai skala sepuluh saya pernah alami. Marah tingkat dewa istilahnya heheh.
- - Pernah suatu
ketika ada yang membatalkan resep yang sudah diberikan lalu meminta resepnya kembali karena sudah
menunggu lama namun belum selesai tanpa mau tau dengan kondisinya. Kami
coba jelaskan saat itu kami harus melakukan konfirmasi kepada dokter penulis
resep. Kami harus bertanya ulang agar tidak ada keraguan namun pasiennya sudah
naik pitam dulu. Ya sudahlah ini kami jadikan pengalaman. Kami memperbaiki
komunikasi kedepannya, agar pasien lebih jelas dan mengerti mengapa resepnya
menjadi lebih lama.
- - Ada pasien yang
marah karena sudah lama sekali menunggu, berjam-jam katanya. Kami coba cek jam
berapa resep ini kita terima. Ternyata belum lama, setelah kami coba jelaskan
bahwa mungkin lamanya karena ditempat lain, sambil menunjukkan waktu resep
masuk ke apotek, akhirnya marahnya tidak berlanjut. Alhamdlh
- - Pasien yang minta
buru-buru karena sudah ditunggu taxi, sudah mau berangkat kerja, sudah dijemput
dsb. Lhaaaa…..gara-gara urusan taxi kami diburu-buru. Diminta mengerjakan
secepatnya. Masyaallah.
- - Ucapan yang
kasar/ makian pernah juga kami alami. Saat itu pasien tidak mau jika obatnya
diganti dengan generik tanpa brand. Perusahaan penjaminnya memang mensyaratkan
itu. Seharusnya pasien tsb marah kepada perusahaan penjaminnya, tapi ternyata malah
memarahi kami dan menuduh bahwa kami yang berinisiatif melakukan ini semua
dengan maksud tertentu. Hmmm…rasanya ingin sekali ikut marah namun pasien ini
hipertensi jadi yaaaaa sudahlah proses pemakluman kami anut.
- - “Kamu didalam
sedang mengerjakan apa??....teriak pasien ketika obatnya belum juga selesai. Oh
pasienku bersabarlah sedikit. Begitu melihat wajahnya yang sudah penuh emosi,
kami bagaikan kerupuk terkena air, langsung ciut. Tidak berani menjelaskan
apa-apa selain maaf.
- - Tantangan lain bagi
kami saat pasien yang datang adalah mantan “orang besar”. Karena pelayanan kami
yang tidak memuaskan, ancaman pun datang.
seperti akan dilaporkan kepada seseorang yang dianggap sebagai “orang
hebat”, atau orang besar yang merupakan koleganya, teman main golfnya, teman main caturnya dan sebagainya.
Oh
pasienku yang baik hatinya…,
Bagaimana
mungkin kami sengaja melambatkan pekerjaan kami, padahal kami sangat paham
pasien-pasien yang baik hati ini sedang membutuhkan obat tersebut. Bagaimana
mungkin kami melambatkan tugas ini karena kamipun ingin cepat selesai dan
beristirahat. Ingin segera makan siang atau makan malam, atau ingin segera menunaikan sholat yang sudah hampir habis waktunya.
Pasienku
yang baik hatinya…,
Banyak
hal yang kami kerjakan untuk menangani satu resep saja. Kami tidak hanya
membaca namun juga melakukan analisa, kami mengartikan setiap baris dari yang
dokter tulis. Seperti dosis yang diberikan apakah sudah sesuai, apakah aturan
pemakaiannya sudah benar, apakah jumlahnya tepat, apalagi jika ternyata dokter
meminta kami mengubah bentuk sediannya, dari tablet menjadi puyer, menggerusnya
perlahan, dari 5 jenis obat harus
dihancurkan, dihaluskan dan dimasukan dalam satu kapsul, atau saat harus membuat salap campuran, dari salep dalam tube
mesti dikeluarkan lalu ditambahkan bahan tertentu sehingga harus dihitung
kembali bahan yang akan ditambahkan.
Oyaa jangan pernah bayangkan kami
menimbang dalam jumlah banyak, tidak dalam puluhan gram apalagi kilogram.
Obat-obatan yang digunakan ditimbang dalam jumlah yang kecil, hati-hati dalam
menimbang itu sudah pasti. Keterlambatan juga bisa terjadi saat kami harus
menghubungi dokter penulis resep karena ada yang tidak jelas, mengganti suatu
obat karena ketersediaan obat tersebut diapotek, bahkan untuk obat-obat
tertentu kami mengecek keaslian dari tulisan dokternya. Kami pernah beberapa kali menerima resep yang dipalsukan ternyata obat tersebut sedang marak disalahgunakan. Selalu ada cara bagi mereka untuk mendapatkan obat jenis tersebut.
Hanya
itu??........tidak juga. Untuk resep yang dibayar langsung maka diawal kami harus menghitungnya, untuk resep yang tidak membayar langsung, seperti pasien
yang masuk dalam jaminan pemerintah, jaminan asuransi, jaminan perusahaan akan
membutuhkan waktu lagi saat dikerjakan terutama berhubungan dengan syarat
administrasinya, seperti diagnosanya, kemudian dicek kembali apakah pihak penjamin akan
menanggung semua obat yang ditulis oleh dokter dan sebagainya.
Jadi kami tidak
hanya sekedar mengambil obat dari kotak-kotak tersebut lalu membungkusnya dan
memberikan label 2xsehari, 3xsehari kemudian selesai. Ada banyak tahapan hingga akhirnya obat dapat
diterima dengan baik oleh pasien. Kami berusaha untuk tidak melakukan kesalahan. Meskipun dalam perjalanannya kami pernah melakukan kesalahan tersebut (nanti kita berkisah yaaa tentang ini)
Selain hal tersebut, waktu kedatangan juga
mempengaruhi pekerjaan kami. Maksudnya?? Jika pasien datang saat jam puncak
pelayanan, ya otomatis akan banyak resep yang dilayani. Keterlambatan kami
dalam mengerjakan dipengaruhi hal ini. Pernah datang ke apotek pagi hari? Saat
kondisi belum ramai dengan antrian. Berapa lama resep biasanya selesai?
Insyaallah akan lebih cepat dibandingkan saat datang di jam puncak pelayanan
misalnya jam 11 siang atau jam 8 malam.
Kami menyadari terkadang pasien menjadi “marah” karena
kami tidak memberikan informasi keterlambatan pekerjaan kami. Misalnya kami
tidak mengatakan dari awal bahwa resep yang kami terima sangat banyak, jadi
mohon lebih sabar atau kami tidak menginformasikan bahwa obat yang akan
disiapkan merupakan obat yang harus dicampur, dihaluskan dsb. Namun jika
informasi tersebut sudah kami sampaikan dan pasien tetap “marah”#disitu kami
merasa sedih.
Cobalah tengok bagaimana petugas farmasis bekerja di
puskesmas, diapotek, diklinik, di rumah sakit daerah yang pasiennya melimpah ruah.
Jumlah kami terbatas, makan siang sering menjadi makan menjelang sore, waktu sholat bergeser hingga hampir diujung
waktu, jam istirahat bagi kami adalah jam dimana pekerjaan telah selesai. Walaupun begitu, kami tetap mencintai profesi ini. Kami dengan
ikhlas telah memilih profesi ini sebagai cara agar kami bermanfaat untuk orang
lain. Menolong orang lain yang membutuhkan obat dan informasi seputar obat. Menjadi ujung tombak pelayanan walaupun
terkadang nasibnya seperti diujung tanduk.
Semoga tulisan singkat ini bisa menjadikan kami lebih
sabar, dijauhkan dari kesalahan, menjadikan masyarakat awam lebih memahami apa yang kami kerjakan dibalik
layar, dan jika memang harus marah, maka marahlah pada tempatnya hehehe. Sampai
bertemu dengan kisah kami lainnya, kisah seputar dunia farmasi. Ada tawa ada airmata tapi kami mencintai ini semua.
Senin, 02 Februari 2015
Kisah di Minggu Pagi
Hujan baru reda, begitu pula pekerjaan hari minggu
ini. Meja makan sudah rapi kembali, sarapan yang dibuat habis disantap oleh suami dan anak-anak. Pagi
tadi aku membuat sayur bayam dengan jagung pipil manis, goreng bandeng presto dan tentu
sambel mentahan kesukaan suamiku, sedangkan untuk anak-anak aku buatkan perkedel kornet plus sosis . Sarapan di minggu pagi adalah hal yang menyenangkan karena tidak
perlu terburu-buru mengantar suami juga si kembar ke sekolah TK. Minggu pagi bagi kami
adalah ajang bersantai dirumah, bermain bersama anak-anak, terkadang aku isi
dengan membuat kue kesukaan anak-anak, Terlebih seperti saat ini, hujan menambah
keasikan kami bersantai, film kartun dan remote tv berebutan tak mau berbagi.
Hari ini, Kinanti putri tante Nitta berulang tahun. Kado sudah disiapkan, dan harusnya kami berangkat jam 9
pagi ini, tapi ternyata Tante Dian bbm aku, akan mampir ke rumah sehingga nanti
berangkat bareng menjelang siang. Nitta dan Dian adalah sahabat saat kuliah dulu, alhmdlah kami tidak putus kontak walau jarang untuk meet up ato kopdar.
Si kembar sibuk dari kemarin ikut membeli dan membungkus kado
untuk kaka kinan, dan ingin cepat-cepat berangkat untunglah ada film kartun
yang membuat mereka mau bersabar menunggu Tante Dian. Aku ini termasuk kelompok “telat” menikah kata sebagian orang, namun
alhmdlah di kehamilan pertama ternyata anak kami kembar, dan betapa tambah
berbahagianya kami saat memeriksakan kehamilan ternyata kembar laki-perempuan.
Akhirnya satu kali melahirkan aku sudah punya dua anak. Jadi pede kalo ketemu
teman lama yang menanyakan “anak lo brapa’?.....dua jawab aku dengan pasti heheh. Aku
sendiri tidak tau dari mana keturunan kembarnya, tapi setelah usut punya usut
suami aku itu waktu lahir kembar dengan Reza Rahadian tapi beda rahim wkwwk. Dan ini benar lho....banyak yang bilang mirip Reza, menurut aku sih beda, suamiku cenderung mirip Afgan :D. Sambil
menunggu tante Dian datang, aku menyiapkan pakaian suami serta perlengkapan lainnya karena senin
subuh suami harus sudah terbang ke Surabaya ada kegiatan seminar di kampus.Mengantar ke SuTa esok subuh menjadi agendaku. Sejak menikah aku memutuskan menjadi SAHM alias Stay At Home Mom,mengundurkan diri dari perusahaan tempat saya bekerja puluhan tahun, lalu mendapat karunia menjaga si kembar, manager di rumah serta slalu siap sedia disamping suami. Namun tetap, aku masih beraktivitas diluar rumah untuk sekedar mengajar dengan waktu terbatas.
""Bundaaaa…..,
Tante Dian datang..teriak si kembar..saat terdengar bunyi klakson mobil dipintu
pagar. Wah..Raga dan Rigu berlarian kesana kemari ingin membantu membuka pintu
pagar. Ayahnya jadi kesal dibuatnya hahah, ikut menarik-narik pintu pagar. Oya..nama anak kembarku TRAGA dan
TRIGU..:D, oleh sebab itu aku memanggilnya Raga dan Rigu, kata suamiku ini berasal dari bahasa sansekerta. Ceritanya saya akhiri ya, ini cerita fiktif beneran fiktif walopun ada juga yg benerannya..:D
Langganan:
Postingan (Atom)












