Kamis, 07 Mei 2015

#_4. lanjuuut lagi kisah kemaren

Lanjut lagi yuuk ceritanya....

Pernah gak..ada yg datang ke apotek dan bermaksud membeli obat. Namun yg disebutkan nama pabriknya. Saya pernah dan tidak cuma sekali. Semalam mengalami lagi. Ada seorang bapak yg belum terlalu tua, bermaksud membeli obat batuk untuk anaknya berusia 7 tahun. Saya coba tanya..dan menggali informasi seperti jenis batuk, usia dan obat yg sudah diminum. Dia mengatakan ingin membeli obat batuk seperti beberapa bulan yg lalu. Karena bingung beliau menelepon istrinya dan suara disebrang disana menyatakan beli obat batuk namany combiphar.
Saya coba jelaskan itu nama pabrik pembuatnya. Tapi ternyata bapak tsb belum paham jg. Akhirnya dihubungi lagi istrinya dan hp nya diberikan kepada saya. Maka terjadilah percakapan menuju closing..hehe (jualan teteuup yaa).
""Bu..dus obat batukny masih ada gak??
Udah dibuang...jawabnya
""Namanya apa bu??
Combiphar mba..
"Oh..warna dusnya apa bu..
Ada warna ungu dan gambar anak kecil
Hmm...ini contusi sepertinya
"Rasa obat batuknya apa bu
Strawberry...
Oke bu..saya berikan comtusi ya ke bapak. Ini obat batuk buatan combiphar. Semoga sesuai dgn yg ibu inginkan.
"Okey mba..terima kasih
Maka closinglah satu pasien pulang dgn membawa obat yg yg diinginkannya.

Datang lagi seorang pasien dengan keluhan tidak bisa menggunakan obat semprot untuk asma yang dideritanya. Dan pasien ini datang dari jauh. Mesti menempuh perjalanan satu jam lebih. Beliau ragu dan ingin bertanya bagaimana cara membuka dan menggunakanya. Setelah dijelaskan sebentar...lalu dipraktekan sendiri...dia tersenyum dan berkomentar...ternyata cuma diputar ya mba dan mudah banget.
Alhamdulliah...akhirnya beliau bisa dan percaya diri menggunakan alat semprot tsb.

Ada kejadian juga yang salah dalam menggunakan obat. Penyebabnya menurut beliau informasi yanv kami berikan tidak jelas. Setelah ditelisik ternyata kami memberikan informasi bahwa obat yg berbentuk sachet ini dilarutkan dalam segelas air. Dan oleh pasien karena kakinya yang sakit maka obat yang berisi 28 sachet itu tiap tiga kali sehari dilarutkan dlm air lalu dibaluri dikakinya yang sakit. Alamaaaak..
Padahal maksud kami obat tsb diminum. Tapiii itulah yang terjadi. Informasi sekecil apapun yang bisa saja kita anggap biasa namun bagi pasien menjadi penentu bagaimana dia akan menggunakan obatnya.

Informasiny cukup jelas namun cara pesan tidak sampai saat dijelaskan itu jg salah satu penyebab kegagalan terapi yang disebabkan karena kesalahan penggunaan.
Membangun komunikasi yg baik dengan pasien tentu sangat dibutuhkan yaa.

Masih pingin cerita tapi ini saya ketak ketik di hp dan di bus ke jkt...matany mulai berkontraksi kuat hehe....lanjut nanti lagi yaa...mobil busny goyang2 mlulu..haha

Selasa, 05 Mei 2015

Bukan Karena Layu Bukan Karena Matang

Ini adalah kali pertama, saya menjumpainya. Biasanya bus yang saya tumpangi akan kedatangan "penyanyi" dari yang benar-benar menyanyi, setengah menyanyi..atau hanya bersenandung gak jelas. Terkadang ada juga yang baca puisi, pantun, bercerita tentang sulitnya hidup di jakarta, sulitnya hidup di penjara dan selebihnya memaki para penguasa bangsa atau memaki penumpang yang tertidur atau hanya melambaikan tangan pelan.Tapi....sore tadi berbeda.....,lepas dari Slipi...yang masuk dalam bus yang saya tumpangi adalah seseorang yang berkisah tentang 'kematian'...seperti penceramah, namun tak panjang lebar..,mungkin kultum tepatnya (kuliah tujuh menit), karena di kebon jeruk, yang jaraknya tak begitu jauh, kakinya keluar meninggalkan bus. 

Pemberi kultum bercerita bahwa daun yang jatuh dari dahan atau rantingnya tidak semua karena sudah layu ataupun kering begitu pula buah yang jatuh dari pohon tidak hanya buah yang sudah masak saja, semuanya dimungkinkan jika pemberi kehidupan berkehendak, sehingga tak ada rumusan, kapan kematian itu akan datang..sekalipun penyakit parah dan ganas hidup dalam dirinya tak ada yang bisa memastikan kapan dia akan mati, begitu pula seorang anak muda yang gagah, bertubuh atletis, ekonominya cukup mapan, karirnya sedang di Top managemnet...tak bisa dipastikan dia akan berumur panjang, bisa jadi lusa, besok atau hari ini kematian merapat mengakhiri hidupnya. 

Semuanya bisa terjadi.........pemutus kehidupan melakukan eksekusi dan kita akan hidup di tempat yang lain ...yang abadi....indah atau tidaknya tergantung bekal yang kita bawa. Tidak panjang dia bertutur, namun pesannya menahan mata saya untuk tetap terjaga. yaaa......tak tua dan tak muda semua serba mungkin...yang sehat...yang sudah renta....tak ada batasannya...Masuk gerbang tol kebun jeruk, dia bergegas turun.....sebelumnya berkeliling meminta keiklasan penumpang untuk sebagian rezekinya....dan sempat saya lihat beberapa penumpang memberikannya dengan ringan..., saya berbincang sedikit dengan "teman" di kursi sebelah...."pesannya mudah dicerna dan gak bikin takut...,"dan ternyata diaminkan olehnya.........jadi ingat mati katanya..

Perjalanan pulang dari rambutan sore tadi ternyata dapat oleh-oleh juga...,terimakasih yaa pak..,teruskan saja bertutur yang sopan, bercerita yang bermakna, menjadi pengingat....pasti dicatat dan akan dinilai...walau nanti tidak dipanggung bus lagi...jangan memaki-maki apalagi sampai menakuti penumpang dengan memperlihatkan lengan yang penuh tato...karena Tuhan akan memanggil kita untuk memperlihatkan nilai kita tanpa menunggu "layu ..ataupun ..masak.."

Bahagiakah Kita

Kita termasuk saya, terkadang menyalahkan keadaan sewaktu kita tidak merasa bahagia, entah karena pekerjaan yang kita jalani, karena lingkungan, kampus, bahkan keluarga. Apakah benar mereka penentu kebahagiaan diri kita? sepertinya bukan, karena teman saya punya karir yang bagus di perusahaan tempat dia bekerja, gaji yang lewat dari kata cukup, dan fasilitas yang lengkap, tapi mendengar ceritanya dia terkadang merasa tak bahagia dengan keadaan itu, berbeda dengan teman saya yang menjadi guru di sebuah SD, mendengar ceritanya saya sering ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan, kisah lucu murid2nya, kisah cara dia mencairkan perseteruan dengan rekan sekrja dsb, walau saya tahu pendapatannya masih dibawah keinginannya, jadi saya rasa bahagia tidak ditentukan dengan pekerjaan yg kita miliki. 

Sama ketika kemarin siang saya sempat berputar- putar mencari tempat memperbaiki “jok”motor yang sobek dan rusak akhirnya setelah berpanas-panas saya menemukan tempat rehabilitasi jok motor, sambil menunggu, saya memperhatikan apa yang dia kerjakan. Masih dalam hitungan menit, semuanya selesai plus rapi, cekatan sekali. Melihat ini saya tertarik untuk berbincang sedikit dengannya, 15 tahun dia menekuni pekerjaan ini, nampak dia bahagia dengan semua yg dia jalani terlebih saat menceritakan keberhasilan anak-anaknya. Teman saya yang lain berkisah tentang ketidaknyamanannya dengan keluarga yang dimilikinya, saya berpikir dia sangat bahagia dengan kisah romantisnya, kisah lucu putrinya, dan tentu saja pendamping yang bertanggung jawab, tapi ternyata tidak, karena dia sibuk mencari kebahgiaan ditempat lain. Tapi ada juga kisah yang saya kira dia tidak bahagia dengan tempatnya yang baru, jauh dari keramaian, jauh dari hiruk pikuk kota, jauh dari shoping, blanja blanji, jalan-jalan dan sebagainya, saat dia berkisah..wahhh..ternyata dia sangat menikmati, menyenangi dan bahagia dengan tempatnya yang baru. 

Ada benarnya ketika saya baca postingan bang tere (penulis) bahwa bukan semata- mata tempat kerja yang membuat seseorang bahagia. Bukan pula atasan yang baik. Gaji yang tinggi. Fasilitas yang wah. Teman kerja yang mendukung. Kitalah yang paling menentukan apakah akan bahagia bekerja di sana atau tidak.
Bukan pula karena keluarga yang kita miliki, bukan karena rumah yang kita tinggali, atau karena orang-orang disekitar kita. Kitalah yang paling menentukan apakah akan merasa bahagia atau tidak. Karena kebahagiaan itu ada di hati kita, tidak datang dari luar. Tidak bisa dibohongi.

Tak salah jika kita diajarkan untuk sering-sering berdoa kepada sang pemilik hati, kepada yang membolak-balikan hati, agar hati ini selalu lurus, merasakan nikmat dari semua yang dimiliki, dari semua yang dijalani, meski tak dapat dipungkiri kadang semuanya terasa berat, membosankan, menyebalkan, dan membuat patah hati dan frustasi dengan semua yang kita jalani. 

Kunci bahagia atau tidak ada dalam diri kita sendiri..."selamat merayakan kebahagiaan"

Senin, 04 Mei 2015

#3_Tertawa aku mengingatnya

Pernah dong, kita dibuat tertawa karena kegagalan kita berkomunikasi dengan pasien.  Penyebabnya banyak bisa karena bahasa yang digunakan baik verbal maupun non verbal, atau gara-gara bahasa tubuh kita, gagal paham yang menyebabkan kita tertawa saat kejadian itu. Tertawa karena menahan malu, atau tertawa karena memang lucu.

Pasien yang menderita penyakit kronis umumnya sudah sepuh atau menjelang lansia. Rutin berobat, dan yang pasti obatnya sering berulang alias itu-itu aja. Nah, pasien ditempatku dulu bekerja banyak yang dari desa.  Lalu sangat fanatic dengan dokter yang akan dikunjunginya, termasuk dengan obat yang akan diminumnya.  Ganti Brand bisa berabe gak mau diminum, minum captopril  yang buatan Indofarma gak mau jika sebelum-sebelumnya sudah menggunakan generic kimia farma. Mesti diberi pengertian pelan-pelan agar dipahami. Begitu pula dengan resep racikan. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, resep racikan itu terdiri dari macam-macam obat yang dimasukan ke cangkang kapsul. 
Dari sinilah masalah bermula. Jika bulan sebelum-sebelumnya mendapatkan warna kapsul hijau kuning, eh bulan ini mendapat warna ungu, mereka keberatan. Lapor ke dokter, petugas apotek mengganti obat. Mereka bilang obatnya gak ampuh dan sebagainya. Hadeeeuh…sambil garuk-garuk kepala, saya coba jelaskan bahwa ini sama, hanya masalah cangkang kapsul. Belum paham juga…semua kapsul yang ada diruang racikan saya tunjukkan, bahwa seperti  inilah awalnya. Jadi kalau setiap bulan minta kapsul hijau kuning terus yaa kita gak bisa jamin.  Ada yang mengerti dan mengangguk-angguk lalu ikut memegang cangkang kapsul aneka warna yang aku tunjukkan. Namun ada juga yang keukeuh bin keukeuh gak mau diganti. Repotnyaaa…………….tapi ini lah tantangan berkomunikasi sampai akhirnya kita sama-sama salaman dan bilang, jadi kapsulnya boleh ganti warna ya bu??.....boleh neng…maaf ibu gak tau. Hehe..lega rasanya…

Cerita lain, saat baksos  ke desa-desa, maka kesulitan untuk menjelaskan cara menggunakan obat tiga kali sehari.  Mereka kadang gak bisa baca, ada lagi yang mengartikan makan tiga setiap hari. Nah.saya sering menggunakan  kebiasaan mereka untuk patokan minum obat. Misalnya saya bertanya tentang kebiasaan dari pagi sampai dengan malam. Akhirnya cara minum obat saya hubungkan dengan itu. Misal setelah sholat subuh/dhuha, lalu siang setelah dhuhur maupun malam saat mau tidur atau setelah sholat isya. Alhamdulliah ternyata mereka lebih paham.

Ada lagi kisah ketika harus menerangkan obat  khusus, waktu itu jenis obat yang akan dimasukkan ke vagina. Repotnya yang mengambil adalah suaminya. Ternyata minta dijelaskan agar dia bisa menerangkan ke istrinya. Euleuh..euleuh…saya jadi agak sedikit bingung  tapi akhirnya pasien mengerti dan puas hahaha.
Waktu pertama kali saya bekerja (baru lulus tahun 90an), ada pasien bule yang tidak bisa bahasa Indonesia, waduuh gemetaran saya menjelaskannya. Gak tau mo ngomong apa. Bingung bin takut. Tertolonglah dengan  teringat ada brosur dikotak obatnya hahaha. Jadi saya baca dan saya hapalkan cara pakai, dan gunanya. Aaaihhh..katro banget kan.  Dari situ saya bertekad belajar bahasa inggris buat menjelaskan kepada pasien, walaupun sampai hari ini tetaaap kosakata tdk banyak hahahaha


Ada lagi??...hahaha..selalu dengan kisah landong wkwkwk…..
atau menjadi bersemangat ketika pasiennya mirip afgan…..mahluk kece gitu walaupun Cuma miriiiip doing. eeh ternyata resepnya berasal dari dr. kandungan. Langsung hilang semangatnya hahahaha, karena itu resep milik istrinya **hahahah**
masih banyak nih cerita, tangan masih mau main dilaptop tapi jam sudah bergerak hampir setengah dua, mesti pake uniform dan berangkat kerja..sambung lagi ntar yaaa..:D


Minggu, 03 Mei 2015

#_2 Disitu Kadang Saya Merasa Happy

Kemarin, saya bercerita tentang hati yang sedih saat harus berhadapan dengan pasien yang membuat badan ini jadi ciut, berlatih lagi dengan kata sabar, atau tiba-tiba ada yang meleleh di pipi setelah pasien “marah”. Menangisnya ditahan gak depan pasiennya, tapi begitu masuk ruangan, menyelinap dibalik pintu atau masuk kamar mandi, meleleh juga yang ditahan diujung mata. Malu sebenaranya jika ada yang mengetahui penyebab menangis, tapi itulah yang terjadi, walau usia termasuk sudah sangat dewasa, mau nangis ya nangis aja. Menangis kan tidak dibatasi oleh usia. Benerkan?

Yaa….berhadapan langsung dengan pasien selalu ada cerita.  Untuk tulisan kali ini saya ingin menceritakan banyak hal yang membuat kitapun bahagia tiada tara.  Ada juga yang meleleh di pipi tapi bukan sedih. Sama-sama meleleh tapi emoticonnya beda.

Apa yang membuat disitu kadang saya merasa happy??...gajian?..eeh ini bukan masalah gajian yaa, ini sedang bahas tentang sesuatu yang membuat kita merasa berguna untuk orang lain. Saat kita melakukannya kita merasa apa yang kita lakukan adalah hal yang biasa saja, sebatas kewajiban yang harus dilakukan agar pasien mendapat haknya dengan baik, namun kita terkaget-kaget saat responnya luar biasa. Apapun profesinya pasti bahagia ya saat yang kita lakukan mendapat respon yang baik atau pesan yang ingin disampaikan diterima oleh yang bersangkutan. Seorang guru akan sangat bahagia saat tugas dikerjakan oleh muridnya dengan baik, seorang edukator gizi  akan bahagia saat klien/pasiennya mematuhi anjurannya dan menunjukkan perkembangan yang semakin positif.

Begitu pula kami. Ketika memberikan informasi seputar obat yang akan digunakan lalu pasien aktif bertanya sehingga terjadi komunikasi dua arah, saya merasa apa yang saya sampaikan bermanfaat. Atau tiba-tiba ponsel berbunyi, dan suara diseberang sana bertanya tentang suatu obat maupun berkonsultasi tentang kesehatannya beberapa hari kemudian ada pesan masuk yang mengabarkan kondisinya semakin membaik.  Beberapa teman terkadang minta saya memisahkan stok obat yang ada dirumahnya, menulis fungsinya sehingga akhirnya stok obatnya menjadi lebih rapi dan yang pasti temanku jadi mengetahui kegunaan obat-obat yang ada dirumahnya.
Waktu saya bekerja di Rumah Sakit Daerah pasien yang datang kadang berasal dari desa yang harus menempuh perjalanan panjang sebelum bertemu dengan dokternya. Bahasa Indonesia yang digunakannya pun terbatas, namun semangat berobat dan keyakinan untuk sembuhnya sangat tinggi. Dan itu membuat saya bersemangat juga untuk menjelaskan secara detail tentang obat yang akan diminumnya. Mereka sangat patuh terhadap anjuran yang kami berikan.

Pasien yang lain membuat saya merasa bahagia karena sekarang sudah berani menyuntik insulin ditubuhnya. Saat pertama kali bertemu, beliau tidak tahu cara menggunakannya dan beliau sangat takut bersentuhan dengan jarum suntik, jadi insulin yang diperolehnya dari dokter hanya dipandangnya saja tidak berani digunakannya. Secara perlahan setelah diberi sugesti bahwa ini semua buat kebaikannya dan tidak menyakitkan, alhamdulliah sekarang beliau sudah tidak takut lagi dan rutin datang untuk membeli insulin. Gula darahnya sudah terkontrol dengan baik.

Kisah lain ada juga seorang ibu yang kalau datang ke apotek tidak sebentar.  Pasti bercerita tentang suaminya yang sudah lama harus mengalami cuci darah. Tinggalnya lumayan jauh, setia menemani suaminya. Yang menarik dari pasien ini adalah setiap ke apotek selalu berkonsultasi tentang kesehatan suaminya. Bertanya tentang pola makan untuk suaminya. Bahkan kadang diselingi tawa. Disitulah kami merasa bahagia. Kami merasa kami ada.

Cerita lain??  Bahagia jika yang kita lakukan ternyata bermanfaat untuk orang lain.  Ketika lingkungan  rumah mengetahui bahwa kita seorang farmasis, maka tak jarang tetangga sekitar bertanya seputar informasi obat, minimal kegunaan atau fungsi obat. Begitupula saat ada arisan RT, pertemuan keluarga terkadang kita menjadi semacam narasumber untuk bicara tentang kesehatan. Hai..hai…ternyata ilmuku banyak dibutuhkan orang ya.  Alhamdulillah ternyata lelah belajar dahulu bisa digunakan untuk membantu orang lain.  Bukankah membantu orang lain adalah salah satu misi hidup. Ketulusan dalam setiap apa yang dilakukan. 

Oyaa ada sebuah kisah dari salah seorang seniorku, beliau adalah orang yang peduli terhadap  pasien-pasiennya hingga ada seorang pasien yang jika datang ke apotek selalu ingin bertemu dengannya. Hingga suatu hari pasien tersebut tidak bisa lagi datang ke apotek karena sakitnya semakin parah. Silaturahmi tidak putus begitu saja, datang menjenguk dilakukannya. Dan tanpa diduga ternyata pasien tersebut adalah owner sebuah perusahaan terkemuka. Atas kebaikan dan ketulusan yang dilakukan, maka hadiah yang tak ternilai harganya diberikan oleh owner tersebut. Memanage sebuah anak perusahaan. Yaa…kita percaya janji Allah pasti benar. Menebar saja benih, semoga benih itu tumbuh dan bisa dipanen, jikapun tidak yakin saja bahwa kebaikan-kebaikan yang kita terima setiap harinya adalah karena dari doa-doa mereka.

Ketika dokter sudah meresepkan obatnya dengan tepat maka kami juga berkewajiban untuk memastikan bahwa obat yang akan digunakan oleh pasien sesuai dengan harapan. Mengurangi dan  menyembuhkan sakit yang sedang dialami oleh pasien, ataupun menjaga kesehatan pasien. Jadi izinkanlah kami berbuat banyak kebaikan dan merasakan kegembiraan serta kebahagiaan, lewat diskusi maupun berkomunikasi, jangan sungkan apalagi takut bertanya kepada kami informasi seputar obat, bisa jadi kami tidak bisa menjawabnya saat itu tapi pasti kami akan berusaha untuk mencari tahu. Tentu informasi yang kami berikan sebatas kewenangan kami sebagai tenaga farmasi.

Nah…..jadi datanglah ke kami jika membutuhkan informasi seputar obat. Karena disitulah kami merasa happy. Pertanyaan yang diberikan pasien atau lingkungan sekitar, membuat kami menjadi harus terus belajar tanpa henti.
Kami mencintai pekerjaan ini. 

Cerita lain tentang "tawa" diseputar pekerjaan farmasi, besok lagi yeee....

-           



Sabtu, 02 Mei 2015

#1_ DiSitu Kami Merasa Sedih

Masih dalam suasana May-Day, hari dimana buruh mengekspresikan tuntutannya, mengekspresikan inginnya dalam waktu bersamaan dari ujung barat hingga timur. Saya jadi ingin menulis sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan saya. Bukan sebuah tuntutan  namun berbagi informasi seperti apa pekerjaan ini dibalik layar :)

Sssst…, apakah banyak teman-teman yang pekerjaannya berhubungan langsung dengan konsumen?? Sepertinya banyak ya, ada yang konsumennya anak-anak, orang tua, ada yang general tidak memandang usia, ada yang dihadapinya konsumen dalam kondisi tidak sehat alias sedang sakit dan sebagainya. Nah, saya adalah seorang pekerja yang konsumen terbesar saya adalah mereka yang sedang sakit, kami sering memanggil dengan sebutan ^pasien^. Tempat bekerja saya adalah tempat terakhir disebuah siklus jika teman pergi ke dokter. Jadi jika  teman-teman  datang ke dokter untuk konsultasi kesehatan lalu mendapat selembar resep maka ditempat pengambilan obat itulah saya berada. Yup benar, saya bekerja di apotek.. Tempat dimana pasien datang untuk membeli obat (sebagian besar seperti itu).  Bekerja sebagai seorang farmasis, dan profesi ini tidak sepopuler tenaga kesehatan lainnya.

Berhadapan langsung dengan konsumen tentu banyak cerita ya, dari suka maupun duka. Terlebih yang kita hadapi adalah orang sakit, yang bisa jadi emosinya tidak stabil karena sedang menahan nyeri ditubuhnya, menahan rasa sakit dikepala, giginya baru saja dicabut, tekanan darahnya sedang tinggi atau bisa jadi sedang pusing karena biaya obat yang menguras kantongnya. 
Nah…karena hal-hal tersebut, mungkin saja rasa sabar mereka juga berkurang. Kita sangat memahami itu. Menunggu antrian saat menebus resep pasti akan terasa lamaaaaa.  Bahkan untuk duduk dikursi tunggu yang cukup nyaman pun menjadi hal yang berat. Mereka lebih memilih berdiri untuk menunggu.Bolak balik didepan kami sambil berkali-kali bertanya.

Mengapa terasa lama? salah satunya karena mereka sudah melewati beberapa antrian sebelumnya seperti mengantri saat mendaftar ke dokter, lalu mengantri lagi saat hendak masuk keruang dokter untuk diperiksa, atau ikut mengantri untuk periksa ke laboratorium. Berapa lama mereka sudah menghabiskan waktu sebelum sampai ke apotek?, jawabnya cukup lama.  Lhaa…kok tau sih??...ya karena sayapun pernah menjadi pasien. Menunggu adalah hal yang tidak mengenakkan. Dari pagi sudah ada di klinik ataupun rumah sakit, namun sampai dengan siang masih harus mengantri diapotek. Mungkin juga sedari sore antri di klinik, jam 9 malam masih juga melanjutkan antrian diapotek.
Atas dasar itulah kami berusaha untuk selalu menyegerakan resep yang masuk, misi kami adalah obat sampai ke tangan pasien tidak hanya cepat namun juga tepat. Tepat segalanya (ntar dibahas dalam tulisan yang beda yaa tentang ketepatan ini). Tapiiiii yaaa itu tadi, niat kami untuk menyegerakan bukan berarti mengesampingkan hal-hal penting yang harus pula kami lakukan. Bukankah obat itu bisa menjadi racun jika tidak tepat ataupun keliru dalam penggunaannya.

Terkadang kami terkesan lambat (walaupun kami tidak ingin lambat) dalam mengerjakan pekerjaan ini, dan akhirnya tidak jarang kami harus berhadapan dengan pasien yang “marah”. Cara marahnya pun berbeda-beda. Dari yang skala satu sampai skala sepuluh saya pernah alami. Marah tingkat dewa istilahnya heheh.

-   -  Pernah suatu ketika ada yang membatalkan resep yang sudah diberikan  lalu    meminta resepnya kembali karena sudah menunggu lama namun belum selesai tanpa mau tau dengan kondisinya. Kami coba jelaskan saat itu kami harus melakukan konfirmasi kepada dokter penulis resep. Kami harus bertanya ulang agar tidak ada keraguan namun pasiennya sudah naik pitam dulu. Ya sudahlah ini kami jadikan pengalaman. Kami memperbaiki komunikasi kedepannya, agar pasien lebih jelas dan mengerti mengapa resepnya menjadi lebih lama.

-  - Ada pasien yang marah karena sudah lama sekali menunggu, berjam-jam katanya. Kami coba cek jam berapa resep ini kita terima. Ternyata belum lama, setelah kami coba jelaskan bahwa mungkin lamanya karena ditempat lain, sambil menunjukkan waktu resep masuk ke apotek, akhirnya marahnya tidak berlanjut. Alhamdlh

-    - Pasien yang minta buru-buru karena sudah ditunggu taxi, sudah mau berangkat kerja, sudah dijemput dsb. Lhaaaa…..gara-gara urusan taxi kami diburu-buru. Diminta mengerjakan secepatnya. Masyaallah.

-      - Ucapan yang kasar/ makian pernah juga kami alami. Saat itu pasien tidak mau jika obatnya diganti dengan generik tanpa brand. Perusahaan penjaminnya memang mensyaratkan itu. Seharusnya pasien tsb marah kepada perusahaan penjaminnya, tapi ternyata malah memarahi kami dan menuduh bahwa kami yang berinisiatif melakukan ini semua dengan maksud tertentu. Hmmm…rasanya ingin sekali ikut marah namun pasien ini hipertensi jadi yaaaaa sudahlah proses pemakluman kami anut.

-   - “Kamu didalam sedang mengerjakan apa??....teriak pasien ketika obatnya belum juga selesai. Oh pasienku bersabarlah sedikit. Begitu melihat wajahnya yang sudah penuh emosi, kami bagaikan kerupuk terkena air, langsung ciut. Tidak berani menjelaskan apa-apa selain maaf.

-    - Tantangan lain bagi kami saat pasien yang datang adalah mantan “orang besar”. Karena pelayanan kami yang tidak memuaskan, ancaman pun datang.  seperti akan dilaporkan kepada seseorang yang dianggap sebagai “orang hebat”, atau orang besar yang merupakan koleganya, teman main golfnya, teman main caturnya dan sebagainya. 


Oh pasienku yang baik hatinya…,
Bagaimana mungkin kami sengaja melambatkan pekerjaan kami, padahal kami sangat paham pasien-pasien yang baik hati ini sedang membutuhkan obat tersebut. Bagaimana mungkin kami melambatkan tugas ini karena kamipun ingin cepat selesai dan beristirahat. Ingin segera makan siang atau makan malam, atau ingin segera menunaikan sholat yang sudah hampir habis waktunya.

Pasienku yang baik hatinya…,
Banyak hal yang kami kerjakan untuk menangani satu resep saja. Kami tidak hanya membaca namun juga melakukan analisa, kami mengartikan setiap baris dari yang dokter tulis. Seperti dosis yang diberikan apakah sudah sesuai, apakah aturan pemakaiannya sudah benar, apakah jumlahnya tepat, apalagi jika ternyata dokter meminta kami mengubah bentuk sediannya, dari tablet menjadi puyer, menggerusnya perlahan,  dari 5 jenis obat harus dihancurkan, dihaluskan dan dimasukan dalam satu kapsul, atau saat harus membuat salap campuran, dari salep dalam tube mesti dikeluarkan lalu ditambahkan bahan tertentu sehingga harus dihitung kembali bahan yang akan ditambahkan. 

Oyaa jangan pernah bayangkan kami menimbang dalam jumlah banyak, tidak dalam puluhan gram apalagi kilogram. Obat-obatan yang digunakan ditimbang dalam jumlah yang kecil, hati-hati dalam menimbang itu sudah pasti. Keterlambatan juga bisa terjadi saat kami harus menghubungi dokter penulis resep karena ada yang tidak jelas, mengganti suatu obat karena ketersediaan obat tersebut diapotek, bahkan untuk obat-obat tertentu kami mengecek keaslian dari tulisan dokternya. Kami pernah  beberapa kali menerima resep yang dipalsukan  ternyata obat tersebut sedang marak disalahgunakan. Selalu ada cara bagi mereka untuk mendapatkan obat jenis tersebut.

Hanya itu??........tidak juga. Untuk resep yang dibayar langsung maka diawal kami harus menghitungnya, untuk resep yang tidak membayar langsung, seperti pasien yang masuk dalam jaminan pemerintah, jaminan asuransi, jaminan perusahaan akan membutuhkan waktu lagi saat dikerjakan terutama berhubungan dengan syarat administrasinya, seperti diagnosanya, kemudian dicek kembali apakah pihak penjamin akan menanggung semua obat yang ditulis oleh dokter dan sebagainya. 
Jadi kami tidak hanya sekedar mengambil obat dari kotak-kotak tersebut lalu membungkusnya dan memberikan label 2xsehari, 3xsehari kemudian selesai. Ada banyak tahapan hingga akhirnya obat dapat diterima dengan baik oleh pasien. Kami berusaha untuk tidak melakukan kesalahan. Meskipun dalam perjalanannya kami pernah melakukan kesalahan tersebut (nanti kita berkisah yaaa tentang ini)

Selain hal tersebut, waktu kedatangan juga mempengaruhi pekerjaan kami. Maksudnya?? Jika pasien datang saat jam puncak pelayanan, ya otomatis akan banyak resep yang dilayani. Keterlambatan kami dalam mengerjakan dipengaruhi hal ini. Pernah datang ke apotek pagi hari? Saat kondisi belum ramai dengan antrian. Berapa lama resep biasanya selesai? Insyaallah akan lebih cepat dibandingkan saat datang di jam puncak pelayanan misalnya jam 11 siang atau jam 8 malam.

Kami menyadari terkadang pasien menjadi “marah” karena kami tidak memberikan informasi keterlambatan pekerjaan kami. Misalnya kami tidak mengatakan dari awal bahwa resep yang kami terima sangat banyak, jadi mohon lebih sabar atau kami tidak menginformasikan bahwa obat yang akan disiapkan merupakan obat yang harus dicampur, dihaluskan dsb. Namun jika informasi tersebut sudah kami sampaikan dan pasien tetap “marah”#disitu kami merasa sedih.

Cobalah tengok bagaimana petugas farmasis bekerja di puskesmas, diapotek, diklinik, di rumah sakit daerah yang pasiennya melimpah ruah.  Jumlah kami terbatas, makan siang sering menjadi makan menjelang sore, waktu sholat bergeser hingga hampir diujung waktu, jam istirahat bagi kami adalah jam dimana pekerjaan telah selesai. Walaupun begitu, kami tetap mencintai profesi ini. Kami dengan ikhlas telah memilih profesi ini sebagai cara agar kami bermanfaat untuk orang lain. Menolong orang lain yang membutuhkan obat dan informasi seputar obat. Menjadi ujung tombak pelayanan walaupun terkadang nasibnya seperti diujung tanduk.

Semoga tulisan singkat ini bisa menjadikan kami lebih sabar, dijauhkan dari kesalahan, menjadikan masyarakat awam lebih memahami apa yang kami kerjakan dibalik layar, dan jika memang harus marah, maka marahlah pada tempatnya hehehe. Sampai bertemu dengan kisah kami lainnya, kisah seputar dunia farmasi. Ada tawa ada airmata tapi kami mencintai ini semua.




Senin, 02 Februari 2015

Kisah di Minggu Pagi


Hujan  baru reda, begitu pula pekerjaan hari minggu ini. Meja makan sudah rapi kembali, sarapan yang dibuat habis disantap oleh suami dan anak-anak. Pagi tadi aku membuat sayur bayam dengan jagung pipil manis, goreng bandeng presto dan tentu sambel mentahan kesukaan suamiku, sedangkan untuk anak-anak aku buatkan perkedel kornet plus sosis . Sarapan di minggu pagi adalah hal yang menyenangkan karena tidak perlu terburu-buru mengantar suami juga  si kembar ke sekolah TK. Minggu pagi bagi kami adalah ajang bersantai dirumah, bermain bersama anak-anak, terkadang aku isi dengan membuat kue kesukaan anak-anak, Terlebih seperti saat ini, hujan menambah keasikan kami bersantai, film kartun dan remote tv berebutan  tak mau berbagi. 


Hari ini, Kinanti putri tante Nitta berulang tahun. Kado sudah disiapkan, dan harusnya kami berangkat jam 9 pagi ini, tapi ternyata Tante Dian bbm aku, akan mampir ke rumah sehingga nanti berangkat bareng menjelang siang. Nitta dan Dian adalah sahabat saat kuliah dulu, alhmdlah kami tidak putus kontak walau jarang untuk meet up ato kopdar. 
Si kembar sibuk dari kemarin ikut membeli dan membungkus kado untuk kaka kinan, dan ingin cepat-cepat berangkat untunglah ada film kartun yang membuat mereka mau bersabar menunggu Tante Dian.  Aku ini termasuk kelompok “telat” menikah kata sebagian orang, namun alhmdlah di kehamilan pertama ternyata anak kami kembar, dan betapa tambah berbahagianya kami saat memeriksakan kehamilan ternyata kembar laki-perempuan. Akhirnya satu kali melahirkan aku sudah punya dua anak. Jadi pede kalo ketemu teman lama yang menanyakan “anak lo brapa’?.....dua jawab aku dengan pasti heheh. Aku sendiri tidak tau dari mana keturunan kembarnya, tapi setelah usut punya usut suami aku itu waktu lahir kembar dengan Reza Rahadian tapi beda rahim wkwwk. Dan ini benar lho....banyak yang bilang mirip Reza, menurut aku sih beda, suamiku cenderung mirip Afgan :D. Sambil menunggu tante Dian datang, aku menyiapkan pakaian suami serta perlengkapan lainnya karena senin subuh suami harus sudah terbang ke Surabaya ada kegiatan seminar di kampus.Mengantar ke SuTa esok subuh menjadi agendaku. Sejak menikah aku memutuskan menjadi SAHM alias Stay At Home Mom,mengundurkan diri dari perusahaan tempat saya bekerja puluhan tahun, lalu mendapat karunia menjaga si kembar, manager di rumah serta slalu siap sedia disamping suami. Namun tetap, aku masih beraktivitas diluar rumah untuk sekedar mengajar dengan waktu terbatas.
""Bundaaaa….., Tante Dian datang..teriak si kembar..saat terdengar bunyi klakson mobil dipintu pagar. Wah..Raga dan Rigu berlarian kesana kemari ingin membantu membuka pintu pagar. Ayahnya jadi kesal dibuatnya hahah, ikut menarik-narik pintu pagar.  Oya..nama anak kembarku TRAGA dan TRIGU..:D, oleh sebab itu aku memanggilnya Raga dan Rigu, kata suamiku ini berasal dari bahasa sansekerta. Ceritanya saya akhiri ya, ini cerita fiktif  beneran fiktif walopun ada juga yg benerannya..:D