Senin, 11 Desember 2017

Lingkaran

Saat kita berkumpul dengan banyak orang, maka membentuk lingkaran adalah cara yang paling sering dilakukan entah dengan duduk melingkar maupun berdiri melingkar. Makan bersama dengan melingkar, diskusi dengan melingkar, ngobrol santai lebih terasa nyaman dengan melingkar dan paling enak menikmati api unggun pun dengan duduk melingkar.

Mengapa dengan bentuk melingkar menjadi pilihan?..ya saya tahu, anda akan menjawab jika bentuk jajaran genjang itu sulit, apalagi trapezium hahaha. Iya kan?

Saya mengetahui bentuk melingkar itu mengandung makna yang dalam saat saya mengikuti sebuah kegiatan training, dimana setiap diskusi kelompok maka selalu diusahakan dalam bentuk melingkar/lingkaran. Terkadang melingkar rapat tanpa celah hingga lutut saya bersentuhan dengan lutut teman sebelah. Namun ada pula kondisi lingkaran yang tidak terlalu rapat. Saat melakukan ini, saya merasakan banyak manfaatnya. Dan memang melingkar mengadung makna yang dalam.  Yuuk kita perhatikan.

Saat duduk berdekatan dengan bentuk lingkaran maka energy positif akan saling menguatkan antara satu dengan lainnya, dan mencegah energy negative masuk ke dalam diri kita. Kita merasa dekat antara satu dengan lainnya, merasakan satu kesetaraan, satu frekuensi. Akibatnya saat kita berbicara atau berdiskusi kita akan merasa lebih rileks.

Selain itu dengan duduk melingkar maka energy yang dikeluarkan jugan tidak terlalu besar untuk berbicara atau bergerak sehingga lebih efektif dan efisien juga.
Apalagi ya?? Oh yaa…duduk melingkar membuat kita menjadi lebih mudah mengenal satu dengan lainnya. Oleh sebab itu cobalah saat anda sedang memimpin diskusi kelompok kecil, buatlah lingkaran dengan rapat, dan rasakan manfaatnya.  Begitu pula saat hendak mengenal satu dengan lainnya, maka bentuklah lingkaran.

Lingkaran adalah garis tak putus, maka yang diinginkan dari semua yang ada dalam lingkaran tersebut adalah simpul-simpul yang membuat perjalanan tak pernah putus, begitu pula silatrahmi. Melingkar menimbulkan kehangatan, coba deh perhatikan ular. Hidupnya diam melingkar heheh. Eh, ini semua penafsiran  ala bule_tati yaaaa……hehehe.


Turbulensi Kehidupan

Kencangkan sabuk pengaman, jangan panik dan tetap di tempat!. 

Begitu kira-kira pesan peringatan ketika kita mengalami guncangan tidak menyenangkan saat bepergian dengan pesawat. Mungkin saat itu pesawat sedang mengalami turbulensi. Pada tingkat tertentu yang cukup parah, tentu turbulensi ini membahayakan keselamatan.

Rasanya tidak asing dengan istilah turbulensi jika kita bicara tentang pesawat, tentang penerbangan. 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, turbulensi adalah sebuah gerak bergolak tidak teratur yang merupakan ciri gerak zat alir. Sebuah ketidakberaturan itulah inti dari turbulensi menurut saya
.

Hal ini bisa saja kita alami dalam perjalanan kehidupan. Saat merasa sisi kiri kanan sempit, tidak stabil, membuat limbung dan hampir membuat kita terjatuh, saat merasa tubuh ini bergetar terhadap apa yang terjadi, maka kita seakan-akan mengalami turbulensi. Saya memberi sebutan kondisi seperti ini adalah sebuah turbulensi kehidupan. 

Kejadian ketidakberaturan, ketidakstabilan yang dialami karena hadirnya faktor dari dalam maupun luar diri kita. Pijakan harus diperkuat, cara berpikir harus diubah, kreativitas mesti diasah dan energi harus dikeluarkan agar tercapai kembali sebuah keteraturan. Turbulensi kehidupan bukanlah hal yang harus ditakutkan, namun dinikmati karena didalamnya kita akan merasakan sebuah lompatan-lompatan energi yang tinggi.  

Jika seorang pilot pesawat menyatakan bahwa turbulensi adalah bagian dari terbang, maka saya beranggapan bahwa turbulensi juga bagian dari kehidupan. Tidak nyaman namun akan bergerak menjadi nyaman, tidak stabil dan akan bergerak ke arah yang lebih stabil. 

Energi positif biasanya akan melompat dengan dahsyat dalam sebuah ketidakberaturan. Semakin dekat dengan-Nya, merasakan rasa syukur yang dalam dan hidup akan terasa lebih hidup. Mari hadapi dengan tenang jika saat ini anda sedang mengalaminya. Tidak berbahaya, akan membuat hidup menjadi lebih hidup.

Minggu, 20 Agustus 2017

Sekali Dayung, Tiga Pulau Terlampaui


Dok: Kaka Emma
"Bulek, kita jalan ke Pulau Tiga yuk”. Begitulah Mbaim memintaku untuk  membuat short trip di sekitaran Banten.  Waktu yang tersisa dalam minggu ini adalah tepat di tanggal 17 Agustus. Hanya punya waktu dua hari untuk mencari  penyuka bolang  dan mencari  informasi  tentang biaya sewa kapal serta rutenya.  “Minimal ada lima orang, kita berangkat.” 

Mbaim sepakat.  Mulailah berkirim pesan singkat ke Cikwen,  Badui serta Kakak Emma. Jawabannya Iyesss!!  Ternyata  Nong Yuni pun libur. Horeee jadilah jumlah minimal terpenuhi.  Bakalan tambah seru jika ada yang mau bergabung lagi. 

Dan kita senang banget saat Mak Vera nan cantik mau piknik ala-ala. Lalu ada Claudia Bella alias Nong Bunga. Ahaaaiii...para Nong Banten sepakat piknik bareng. Kami tidak seluruhnya saling mengenal tapi itu akan membuat perjalanan makin asik karena punya teman baru.

Selasa pagi bertelepon dengan Pak Arifin.  Pemilik kapal yang bermarkas di Dermaga Karangantu. Sssstttt..ini bukan dermaga para hantu yaak. Dermaga ini merupakan dermaga yang terletak di wilayah Kasemen, Serang  dan merupakan dermaga untuk pergi ke pulau-pulau di sekitaran Banten. Harga pun cocok, sewa kapal Rp. 400.000 untuk trip ini. Dan saya katakan bahwa akan merapat di sana sekitar pukul  08.30 bersama pasukan lengkap. Para juara Nong Banten tingkat RT

17 Agustus, pukul 07.30 pagi satu persatu memasuki  lapangan eh halaman rumah hijau. Tapi bukan untuk upacara, melainkan sebagai  tikum alias titik kumpul.  Absen logistik berjalan.  Mie goreng, nasi, serta  aksesoris makan siang sudah siap masuk kotak. Cikwen ahli perpudingan. Nong Banten lainnya bersiap dengan aneka cemilan. Maklum lah, pasukan ini kelompok piranha, semua suka hahaha.

Drama pertama dimulai. Nong Banten yang sumringah belum datang. Cindy Claudia Bella alias Bunga mulai ngantuk. Posisi duduk tegak bergeser satu persatu. Nong Mbaim dimanakah dirimu? Semua cemas, khawatir Mbaim terjebak harus bantu peserta upacara yang pingsan. Atau jangan-jangan sedang bantu Pak Polisi atur kemacetan. Mbaim suka gitu wkwkwk.  

Hampir  pukul sembilan, suara motor dan ketawa khasnya terdengar sejak dari pagar. Akhirnya Mbaiim datang juga. Alhamdullilah  yang kita khawatirkan tidak terjadi. Mbaim baik-baik saja.


Bismillah, kami berangkat! Eeits tak lupa foto sebentar. Wajah belum terpapar terik matahari. Oh iya, untuk piknik kali ini kami sepakat ber-angkot ria. Untuk menambah keakraban hahaha. Kalau bawa motor kan jalannya sendiri-sendiri. 

Angkot biru pun mengantar kami menuju Karangantu. Rp.100.000 mengantar kami hingga ke dermaga. Masyaallah, jangan ada yang lupa. Satu Nong Banten setia menunggu di halte PCI. Kaka Emma, yang terkenal dengan senyum manisnya.

“Miriiiiiip buleeeek!!” Mak Vera dan Cindy Claudia ber-Bunga teriak kompak saat Kakak Emma masuk ke angkot. Aku terbengong-bengong. Apa yang membuat kami mirip ya. Ah sudahlah, sepertinya kedua temanku ini kena halusinasi. Di dalam angkot perkenalan pun dimulai. Hai..hallo..hai...!! Bunga pun adalah teman baru bagiku. Meski sering mampir di wall namun kami tak pernah bertemu.

Perjalanan berlanjut. Menuju Kramat Watu, lalu berbelok ke kiri. Pak Arifin berkirim pesan dan bertelepon. Sepertinya beliau mulai cemas, penyewa kapal tak muncul dan tak ada kabar berita. 

Rute agak berubah sedikit, karena jalan yang biasa dilalui sedang ada pengecoran beton. Dan kami tetap menikmatinya meski jadi berputar melewati persawahan serta kebun. Pemandangan yang cukup membuat mata teduh karena hijaunya pematang sawah.

Angkot merapat dengan sempurna di Karangantu. Pak Arifin sudah menunggu. Bertegur sapa lalu langsung membeli tiket ke Pak Candra. Beliau adalah pengelola Pulau Tiga dan Pulau Empat. Di sini, kami harus membayar 15 ribu rupiah untuk tiket masuk ke dua pulau tersebut plus gratis saung untuk beristirahat. 

Para Nong Banten pun mulai naik ke dalam kapal. Pak Syafei menjadi nahkoda kapal.  Mandiri adalah kapal yang akan digunakan untuk berlayar. Cocoklah dengan para penumpangnya. Perempuan-perempuan yang masih sendiri. Upps! Pak Arifin melepas kami dengan lambaian tangan. 


                                                                   Siaaap melaut!!

Tanpa ada ombak, angin pun malas untuk hadir. Laut sangat tenang. Terik matahari mulai terasa. Perjalanan berlayar sekitar 40 menit menuju Pulau Tiga. Pulau terjauh dari 3 rangkaian kepulauan.  Cikwen mulai cari posisi untuk tidur, Nong Bunga membuka bekal dan langsung diserbu. Tandas dalam hitungan menit. Apem coklat gula aren. Enaaaak banget dinikmati dengan parutan kelapa.


Ahamdulliah, kapal merapat. Senaaaaang banget begitu sampai di Pulau Tiga. Celetukan sana sini ada saja yang dibuat oleh para Nong Banten ini. Lapaaar adalah yang paling utama. Hahaha. Perjalanan berlayar yang sebentar ini sudah membuat para Nong Banten hipoglikemia.

Buka bekal pun di mulai. Lengkaaaappp!! Terpenuhi gizi seimbang hahaha. Ada buah apel, lengkeng, karbohidrat dan protein. Hidangan penutup berupa puding mangga dan coklat pun buatan  Nong Banten Cikwen membuat teriknya matahari menjadi sedikit lebih dingin. Nyeesss dinginnya sampai ke hati.

Dok: Kaka Emma





Selesai makan siang, Nong Yuni menyodorkan potongan mangga muda. Woooow! Rasa asemnya membuat wajah Mak Vera berubah. Nong Yuni spesialisasi mengupas mangga terutama mangga dengan ukuran besar. Kebetulan mangga yang dipetik dari rumah ini ukurannya memang jumbo. Mungkin seukuran 34B eeeh...duh kok jadi bicara ukuran yak. Hmmmm, para Nong Banten memang suka begitu.


“Sudah siap?” tanyaku. Siaaappp! Kami berjalan menuju jembatan asmara. Entah mengapa namanya begitu. Mungkin yang membuat jembatan ini sedang LDR-an. Kaka Emma menjadi fotographer handal kami. Abadikan setiap momen dan sabar menerima aneka permintaan. Jarum jam bergerak lewati angka satu. Okey! Eksplore Pulau Tiga disudahi. Pemandangannya yang cantik sudah terekam dalam puluhan foto kami.









Dok : Kaka Emma
Berkemas untuk sholat. Beberapa masih jeprat-jepret di berbagai sisi Pulau Tiga. Para wisatawan yang datang ada yang asik bermain kano, ada juga yang snorkling. Kami memutuskan untuk tidak bermain air di sini. Sebelum pulang, air kelapa muda yang segar membasahi tenggorokan yang kering. Cukup 10 ribu untuk satu butir kelapa muda.

Oh ya, kami sempat menegur sekelompok pemuda yang meninggalkan sampah di saungnya. Daaaaan, teguran kami berhasil membuat mereka berbalik arah, memungut mantan eh bekas air mineral serta bungkus plastik makanannya. Mereka diam di sana, tak beranjak. Kami tertawa kecil, berhasil membuat mereka untuk tidak tinggalkan sampah. Begitulah pemuda, sering banget tinggalin mantan seenaknya eeh maksudku tinggalin sampah J.

Perahu bergerak tinggalkan Pulau Tiga.

Pak Syafei beraksi. Kami pasang posisi agar matahari yang bersinar sangat lucu ini tidak terlalu memapar kami. Kurang lebih 15 menit-an nampak pulau yang kami tuju. Horeeee kami sampai di Pulau Empat. Rencananya kami tak turun, tapi beberapa orang di sana melambaikan tangan ke arah kapal kami, seakan meminta untuk merapat.

“Lhaaaa, itu teman-temanku! Teriak Kak Emma. Kita turun...kita turun!!

Wajahnya sedikit panik dan terkejut. Beruntunglah kami mendarat di sini. Teman-teman Kak Emma ini menjadi malaikat penolong saat kami mulai berhalusinasi minuman dingin.  Gelas sampai berembun dan terbayang kulkas dengan segala isinya yang serba dingin. 

Taraaaa!! Mereka memberikannya. Beberapa botol minuman dingin langsung diberikan di tangan kami. Termasuk buah semangka. Ukurannya besar banget. Mungkin lebih dari 72B. Nong Bunga sampai mengerahkan sekuat tenaga untuk membawanya. Teman-teman Kak Emma yang berwarga negara Korea ini seakan bisa membaca pikiran kami. Atau mungkin wajah kami bertuliskan “haus..haus”.  Super, luar biasa saat apa yang kami bayangkan tiba-tiba ada di tangan kami.

Momen yang sangat jarang ini tak lupa untuk diabadikan. Wajah ceria terlihat dari kami saat menerima hadiah dan mengucapkan gamsahamnida. Begitu pun mereka, tak henti-hentinya memfoto kami. Entah apa yang menjadi daya tarik dari kami ini. Hahahah.

Suasana Pulau Empat?


Waaaah, damai.....tenang....bersih...tak ada sampah. Kami tak lama di sini karena banyak paparazi mengambil foto Kak Emma. Dan Kak Emma pun jadi sedikit gagal fokus karena tak disangka bertemu team kerjanya di sini. Para Nong Banten ini pun naik perahu lagi. Menuju Pulau Lima.  Pulau ini berbeda arah dengan Tiga dan Empat. Namun lebih mendekati ke arah pulang. Semangka merah pun disantap di perahu. Nikmat tiada dua. Bayangkanlah eta terangkanlah..., di tengah laut ada semangka merah dan dingin. Luaaar biasa. Rezeki anak yang sedang berusaha solehah.




Okey, mari kita lanjutkan perjalanan ini.  Ada Apa di Pulau Lima?

Di pulau ini kondisinya tidak terlalu terawat, saung atau gazebonya banyak yang rusak. Sampah? Banyak banget. Berbeda sekali pengelolaannya dengan Pulau Tiga dan Empat. Untuk masuk ke pulau ini, setiap pengunjung dikenakan tarif Rp. 5000. Kami di sini makan untuk kedua kalinya. Tandaskan semua. Bersih. Ntappp!!

Di hari ulang tahun kemerdekaan rasanya menjadi hambar jika kami tak melakukan apa pun untuk memperingatinya. Yess!! Kami membuat video. Koreographer nan imut mulai beraksi. Latihan sebentar, lalu action!  Penuh tawa saat membuat video dengan durasi pendek ini. Ada saja kesalahan yang dibuat. Bendera belum berkibar, kaki terpotong, atau ada pula yang berinovasi sendiri dengan gerakannya. Hahahaha...,begitulah kami. 

Gak pake lama, cukup 3 kali cut jadilah video klip ala-ala yang mempesona. Tapiiii, ada lagi salahnya. Aku bersuara dengan sangat nyaring dan terekam dengan baik di sana. Hahahah...maafkan. Maklumlah biasa jadi pelatih senam, jadi bawaannya teriak-teriak. Para Nong Banten pun menggoyang Pulau Lima. Panasnya matahari tak goyahkan keceriaannya.




Dok : Kaka Emma

Jarum jam bergerak hampir tinggalkan angka 5. Nong Bunga masih harus bekerja shift malam. Kami pun bergegas tinggalkan pulau. Sebelumnya abadikan momen cantik dengan siluet senja di bibir pantai. Perahu pun bergerak kembali, menuju Karangantu. 





Sebelum adzan magrib kapal merapat di dermaga. Kami berjalan beriringan mencari angkot terdekat. Alhamdulillah, sampai di rumah sebelum pukul tujuh malam. Berpisah dengan teman-teman dengan membawa cerita tentang keajaiban dan keceriaan sepanjang hari itu.


Sekali dayung, tiga pulau terlampaui. Itulah kami, para pejalan yang slalu membuat cerita dalam kehidupannya. Terimakasih teman seperjalanan telah membuat semua momen menjadi indah untuk di kenang. Meski berkawan baru bukan berarti tak bisa membuat perjalanan menjadi dekat dan akrab. Karena pada akhirnya bukan lama atau sebentarnya kita saling mengenal yang membuat hati kita saling bertaut. Bukankah begitu?

Penasaran dengan perjalanan kami? Ada video hasil syuuuut model kondang kelurahan Damkar Nong Cikwen. Pasti serunya.





Rabu, 31 Mei 2017

Kriuk...Kriuk...Ku suka

Kamu suka ngemil kerupuk? Jika ya…mari duduk bareng di sini. Kita bercerita tentang kerupuk yuk. Mahluk renyah, gurih dan slalu rame saat kita gigit. Mungkin karena hidupku yang berusaha slalu ku buat renyah. Akhirnya kerupuk menjadi teman keseharian yang cocok, dan setia menemani. Sebuah filosofi kerupuk yang nggak banget ya. Kriuk-kriuk seperti hidupku.

Apa sih kerupuk itu? Jika kita intip dari kamus bahasa, kerupuk adalah makanan yang dibuat dari adonan tepung dicampur dengan lumatan udang atau ikan, setelah dikukus, disayat-sayat tipis atau dibentuk dengan alat cetak lalu dijemur agar mudah digoreng. Tapi bagiku kerupuk ya mahluk renyah, setingkat di atas keripik namun di bawah kerupak. Nah looo, apaan tuh?

Keripik itu makanan renyah, ukurannya kecil. Misalnya keripik kentang, keripik bawang, keripik tempe dan lainnya. Kerupuk ukurannya lebih besar sedikit dari keripik. Kerupuk udang, kerupuk ikan, kerupuk jengkol misalnya. Dan kerupak itu adalah kerupuk yang gedeeee ukurannya, jumbo segede wajan gitu deh. Eh.., ini definisi bebas yaa. Seperti halnya rengginang dan renggining J, tidak ada di kamus resmi, adanya di kamus Tati heheh.

Kerupuk hadir di toples baik di rumah maupun apotek. Dijadikan cemilan. Anehnya meski saya suka plus doyan kerupuk, saya tidak mau menggabungkan kerupuk dengan menu makan. Kerupuk adalah cemilan, bukan teman makan. Saya akan menggigitnya setelah makan selesai. Ribet jika harus dimakan dalam satu waktu.

Nah, di bulan puasa  ada satu kerupuk yang mendunia di Cilegon. Kerupuk yang ngetop sejak saya kecil. Harganya seratus rupiah perbuah, saat itu. Kerupuk mie namanya. Disebut demikian karena warnanya kuning dan bentuknya seperti mie. Dijajakan banyak di pinggir jalan saat bulan puasa seperti ini. Bisa dijodohkan dengan asinan, soto, atau sejenisnya. Namun cara menikmati kerupuk ini yang paling asik adalah menyiramnya dengan sambel bumbu kacang.

Oh iya, kerupuk mie ini tidak ada campuran ikannya. Agak sedikit keras, kenyal di bagian yan tebal tapi ini yang bikin tidak bisa berhenti dan bagian yang saya suka. Kamu suka juga kan?

Tadi sore saya melakukan ritual merendam kerupuk mie, persis saat puluhan tahun yang lalu. Beli kerupuk mie di tetangga yang secara turun temurun menjual kerupuk mie. Dengan harga dua ribu rupiah perbuah. Sambel bumbu kacang tentu disertakan sebagai pelengkapnya. Tempat berjualannya masih sama, seperti puluhan tahun yang lalu. Di meja kayu, samping mushola yang tak jauh dari rumah.

Ritualnya pun masih sama, namun kakak dan adik tidak ikut meramaikan secara nyata berebut tempat dan berebut kerupuk seperti waktu puluhan tahun yang tlah lewat. Sore tadi  saya menikmatinya di sebuah ruang yang kanan kirinya berisi rak obat, diapers serta pajangan lainnya. Meski begitu kerupuk mie ini tetap renyah dan ruangan pun tidak sepi karena saat adzan berkumandang, kakak dan adik ramai memberikan ucapan selamat di wa. Selamat berbuka, bulek!

Selasa, 07 Maret 2017

Praktis dan Pemanis di Pergelangan Tangan

Mulai menggunakannya sejak berseragam merah putih. Itu seingat saya. Tidak satu, namun tiga sampai lima buah. Berwarna-warni. Terbuat dari atom atau plastik. Dan selalu di tangan kiri. Sering kali kakak dan adik saya berkomentar dengan hobi yang sedikit berbeda ini. Penyuka perhiasan berbentuk lingkaran. 


Dulu Emak juga terheran-heran, karena anaknya yang satu ini suka dengan benda bernama gelang dan kadang tidak cukup satu. Berisik katanya jika tangan saya bergerak.

Kesukaan itu terus berlanjut. Satu gelang berwarna hijau pemberian kakak menemani lebih dari sepuluh tahun. Mungkin jika tidak jatuh dan pecah, masih digunakan hingga kini. Tidak sampai lama, saya mendapat gantinya dengan gelang yang lain. Masih berwarna hijau namun lebih muda warnanya. Dan masih pemberian kakak. Setiap kali bepergian ke suatu daerah dia tidak perlu repot membeli oleh-oleh untuk saya. Cukup gelang dan itu akan membuat saya tersenyum lebar.

Beberapa sahabat dan teman dekat pun demikian. Saat pergi melancong dan melihat gelang jadi langsung teringat diriku hahahaha. Namun yang sering menjadi masalah adalah ukuran pergelangan tangan saya cukup kecil. Pernah ada gelang yang saya dapat dari teman kuliah. Cantik terbuat dari rangkaian batu-batu kecil. Sayang, ukurannya kebesaran. Saya berusaha mengecilkannya namun gagal. Talinya putus dan….byaaaar, jatuh deh batu-batu mungilnya. Berantakan. Tamatlah gelang itu sebelum saya gunakan.

Ternyata kesukaan ini tidak berhenti meski sudah memasuki dunia kerja. Perhiasan berupa gelang tetap saya gunakan. Tentu saja tidak berwarna-warni jika sedang bekerja. Khawatir pasien yang bertemu menjadi gagal fokus melihat warna-warni gelang yang saya gunakan. Cukup yang tidak mencolok mata. Walaupun pernah juga kelupaan. Belum melepas aksesoris bermain saat memanggil pasien. Gelang aneka temali berwarna-warni. Begitu tersadar, perlahan saya lepas.
Gelang yang saya miliki sebagian besar memang pemberian dari sahabat.  Ada yang terbuat dari kain, anyaman tali, batu, kayu, dan lain sebagainya. Saya tidak terbiasa memadu padankan warna gelang dengan pakaian yang dikenakan. Suka-suka sajalah. Ketika saya ingin memakai gelang warna biru, kuning atau lainnya, yaa saya langsung pakai. Bagi saya semua cocok.  Selama saya suka, apa pun bentuknya.

Ada kisah di setiap gelang. Minimal saya akan mengingat nama pemberinya. Ada pemberian teman dari jauh. Ada pula yang saya beli sendiri saat melintas di sebuah etalase yang memajang aneka gelang. Berapa yang saya miliki? Tidak banyak. Kadang ada beberapa yang harus dimusnahkan karena talinya sudah tak kencang lagi atau bentuknya sudah tak layak. Oh Iya, saya pernah belajar membuat gelang dari tali-temali. Ilmu yang saya peroleh dari seorang kakak relawan yang super canggih tangannya. Meski tidak sempurna anyamannya, saya suka menggunakannya karena karya sendiri hihihihi.

Hingga kini pergelangan tangan saya tidak lepas dari benda berbentuk lingkaran ini. Rasanya aneh serasa ada sesuatu yang hilang jika saya tak menggunakannya sama sekali. Tiga gelang berwarna putih menemani keseharian, menjadi teman setia selama bertahun-tahun. Rupanya lingkar tangan ini pun konstan jadi tetap bisa digunakan. Hanya lingkar pinggang sepertinya yang berubah :D

Dan akhirnya perhiasan ini seakan menjadi ciri khas saya. Mudah sekali cara menggunakannya, gak pakai repot. Praktis namun menjadi pemanis heheh. Anda penyuka gelang juga? Atau ingin berbagi gelang? Saya dengan dengan senang hati menerimanya.

Selasa, 27 Desember 2016

Belajar Dari Daun Nangka

Deret Daun Nangka ( foto by  Bpk Titi Bachtiar )
Sore tadi menyempatkan diri untuk datang ke rumah salah seorang teman baik yang baru saja kehilangan  ibundanya, dan saya Alhamdulillah diberi kesempatan mengenal beliau. Sosok ibu yang sudah lanjut usia namun jika bercerita terlihat berusaha mengingat-ingat kisah masa lalu, masa kecil anak-anaknya hingga kesukaan lainnya. Saya tidak bisa hadir memberikan penghormatan terakhir kepada beliau karena sesuatu hal, sehingga baru sore tadi berkesempatan untuk hadir dan membuka kembali kenangan beberapa bulan yang lalu saat terakhir bertemunya. Ibu bagi saya merupakan sosok yang selalu mengagumkan. Mendengar kisah bagaimana proses perpisahan jiwa dan raga terjadi di tengah malam itu, teringat dengan alm Ibu, Aaaah sudahlah.., kisah ini tak perlu saya lanjutkan. Ibunda yang tlah lanjut usia ini, sudah cukup bahagia dengan perjalanan hidupnya. Muda yang penuh semangat lalu menua bersama anak menantu serta cucu tercinta dan pergi dengan perasaan bahagia. Insyaallah.

Perjalanan hidup, yaaaa itulah yang aku dapatkan sore ini di minggu terakhir penghujung tahun. Seperti apa hidup ini ingin kita buat, seperti apa kita ingin dikenang, bagaimana orang akan mengingat kita, ingin seperti apa saat kita berpisah dengan kehidupan ini serta berbagai tanya lainnya tetiba melintas kembali saat saya berkendara menuju rumah.

Teringat sebuah gambar deret daun nangka dari berwarna hijau hingga menguning, proses perjalanan sehelai daun. Bisa jadi perjalanan hidup kita seperti itu. Dari usia muda hingga akhirnya menua. Tentulah berproses layaknya daun nangka tersebut. Menguning secara bertahap, dari bagian atas daun hingga akhirnya seluruh bagiannya berubah warna. Lalu membiarkan dirinya jatuh diterpa angin, tak kuasa menolak, tak kuasa menahan dirinya untuk tidak jatuh. Melayang lalu terhempas, namun diterimanya dengan ikhlas, sebuah bentuk penerimaan.  Begitu pula yang seharusnya kita sadari, proses berkehidupan berjalan meski tidak tertutup kemungkinan kita tidak mengalami masa menua/menguning. Saat hijau diruntuhkan pun dapat saja terjadi. Perjanjian untuk kembali tidak ada yang tahu kapan saatnya. Apa yang dapat kita lakukan saat berada di fase “segar”, hijau dan terlihat kokoh? Daun nangka yang muda menyebarkan nutrisi yang dia dapatkan kepada daun yang lain, berbagi kebaikan. Kita? Asik dengan kehidupan sendiri, mempertahankan bagaimana agar eksis di fase itu, tidak peduli sekitar lalu berusaha menolak proses menua.

Tuhan memberi isyarat di setiap proses, namun kita menjadi mahluk yang tidak peka. Kesehatan yang menurun, daya ingat yang tidak setajam dulu, kelelahan fisik yang sering terjadi, dan isyarat lainnya. Sebuah pertanda bahwa ada fase yang akan dimasuki. Persis seperti deret gambar daun nangka. Mengingat itu semua rasanya menjadi takut untuk menghadapi apa yang dinamakan kematian, sebuah fase yang seharusnya tidak perlu kita takuti karena itulah bentuk penerimaan, tidak bisa kita hindari karena itu adalah sebuah kepastian. Tapi lagi-lagi kita dibuat lupa bersiap dengan sesuatu yang pasti.

Motor masih melaju perlahan, rinai hujan menemani, jalanan tidak sepadat kemaren, aroma akhir tahun mulai tercium. Beberapa hari lagi Tahun 2016 akan kita tutup. Ratusan hari yang akan kita tinggalkan akan menjadi sebuah kenangan. Isyarat  nyata dan mudah tentulah ada. Usia akan bertambah, mendekat ke arah perjanjian perpisahan. Bagi saya yang dilahirkan di bulan Maret, pergantian tahun selalu mengingatkan usia akan segera berubah, tidak lama lagi. Entah apa yang akan terjadi di tahun tersebut, akankan impian yang tertulis di kertas putih ini tercapai atau saya diberi kesempatan untuk menulis ulang. Saya pandangi catatan impian yang saya tulis di awal tahun 2016. Beberapa tercapai dengan cara-Nya. Meski berliku akhirnya dapat digapai. Namun banyak pula yang belum,  banyak hal yang semestinya tidak saya lakukan namun lagi-lagi saya memafkan diri atas semuanya. Apa pun yang terjadi tidak ada yang kebetulan, garis Tuhan ada di sana, Lalu pinta yang penting adalah Tuhan Maha Baik memberikan ridho atas semua ini, Tuhan Maha Pengasih selalu memberkahi langkah kaki ini. Banyak hal yang telah terjadi di 360 hari kemaren, dan saya akan menuliskannya nanti.


Penerimaan atas segala hal dan yakini rencana Tuhan akan slalu lebih baik. Berharap sangat akan banyak keajaiban di tahun depan, lebih belajar lagi menata diri agar deret daun nangka ini dapat aku lalui dan nikmati setiap prosesnya hingga saat itu tiba. Berfokus pada hal-hal baik, mencari magnet-magnet kebaikan, melupakan yang tidak perlu diingat.

Rabu, 21 Desember 2016

Kado Dari Bapak Untuk Emak


Setiap tanggal 22 Desember, semua dari kita diingatkan kembali tentang hari Ibu. Postingan di berbagai media, berita di televisi hingga kegiatan yang berfokus pada peringatan hari Ibu. Saya selalu mengingat tanggal ini, selain hari Ibu, tanggal 22 Desember menjadi amat berarti bagi kami sekeluarga.

Tiga puluh tahun lalu, bertepatan dengan hari Ibu, bapak memberikan kado kepada emak.  Kado berupa sebuah status baru yang melekat pada diri saya, kakak dan adik serta emak dimulai di hari itu, kado yang teramat spesial karena kami diberikan kepercayaan untuk melanjutkan hidup tanpa arahan dari bapak. Beliau yakin meski tentu dengan berat hati melepaskan kami, begitu pula yang terjadi pada kami. Ingin menolak namun memang sudah diberi, jadi berusaha menjalani semuanya, berusaha membuat beliau tersenyum hingga hari ini. Berusaha sama-sama mengikhlaskan diri saat itu,  Allah memintanya untuk kembali, maka kami tak bisa menahannya meski air mata tumpah.

Tiga puluh tahun yang lalu, cerita ini ditutup. Tapi semua yang terjadi di hari itu dan ribuan hari sebelumnya masih lekat di benak. Tidak pergi bahkan terus ada, meski lama sekali telah berlalu. Minggu, saat adzan magrib berkumandang, emak memeluk kami semua lima anak yang belum begitu paham dengan hidup yang akan dilalui. Sambil terisak, emak berjanji akan dibesarkannya kami semua dengan tangannya. Kondisi sesulit apa pun tak akan kami dipisahkan. Begitulah memang yang terjadi, hari-hari panjang dilampaui, dari berseragam merah putih, hingga masuk ke jenjang perguruan tinggi. Lalu usai saat kami semua sudah mengenakan seragam kerja. Usai tugas emak, beliau pun pergi sesuai janjinya. Kami lanjutkan perjalanan kembali. Tanpa peta dari kedua orangtua.


Setelah 22 Desember di hari Minggu itu, tak ada lagi kesibukan pagi bercampur suara mesin motor vespa, tidak ada lagi suara berat di sore hari meminta kami untuk mandi. Tidak ada kesibukan memberi sarapan ayam-ayam kesayangan. Tidak ada lagi yang menegur kami karena sandal/sepatu tidak diletakkan pada tempatnya. Tidak ada tawa keras khas, dan tidak ada yang masak pakai bumbu klewek lagi. Semua berubah, tidak ada lagi panggilan “Bapak” di dalam rumah.

Tegas, disiplin itulah Bapak. Tidak ada yang berani membantahnya ketika perintah sudah dikeluarkan, namun dibalik itu semua juga ada saja kelucuan yang dibuatnya. Pernah saat sudah siap berangkat sekolah, dan bapak pun sudah duduk di motor vespanya tetiba bapak minta tolong emak mencari kacamatanya. Semua sigap mencari, namun tak ditemukan. Kamar tidur, tempat baca, hingga ke meja makan. Klakson motor berbunyi, eeeh tapi bukan telolet yaaaa hahaha, artinya jangan lama-lama. Emak tergopoh berlari ke halaman, dan hahahaha…kita semua tertawa kacamata bapak ada di kepala. Bapak lupa hahaha, bapak berhasil membuat kita sibuk semua.

Kami berlima mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Meski adik belum bersekolah, namun tetap juga punya tugas. Merapikan sandal misalnya. Tidak ada sandal yang posisinya terbalik, semua dipasangkan dan diletakkan pada tempatnya. Kedua adik saya bertugas mengurus itu. Saya mempunyai tugas pegang kemoceng di pagi dan sore hari, mengelap debu jendela, lemari, kursi dan perabot lainnya. Cara bapak mengecek apakah saya mengerjakan tugas adalah membuka taplak meja sedikit dan menyeka bagian bawahnya, jika masih berdebu artinya saya hanya membersihkan bagian yang terlihat. Jadi saat membersihkan saya diajarkan untuk mengangkat asbak, vas bunga, lalu taplak mejanya. Harus dibersihkan walaupun tidak terlihat, pelajaran sederhana namun terus diingat hingga sekarang. Merapikan meja makan, atau menyiapkan peralatan makan semua dikerjakan dengan berbagi. Jika sudah jam makan, emak akan siapkan masakan, saya siapkan piring, kakak akan siapkan teko air, semua bergerak sesuai tugasnya. Dengan tubuh kecil bukan berarti tidak punya peran. Belajar itu yang sering dikatakannya.

Bapak memelihara ayam, kandangnya rapi. Terbuat dari bambu. Membersihkan kandang ayam tugas kakak laki-laki, meski letaknya di samping rumah, namun tetap tidak boleh bau. Kotoran ayam dibersihkan tiap hari, disemprot dengan slang air sambil ayamnya ikut mandi heheh.  Memberi makan ayam menjadi kesenangan bapak. Kesibukan pagi adalah selain menyiapkan sarapan untuk kami, bapak juga sibuk menyiapkan sarapan untuk ayam. Dedak dicampur air panas dan nasi panas. Hohohoho…………, dikepal-kepal, lalu ayamnya digendong sambil diajak ngomong, ayamnya sehat, makanannya penuh gizi. Kakak lelaki saya ketika sore harus memastikan ayam-ayam masuk kandang, tidak ada yang berkeliaran diluar. Pernah di suatu sore, satu ayam tidak mau masuk kandang, bertengger di pohon belakang rumah, sudah dicoba untuk ditangkap lhaaa kok malah kabur. Hingga sore berganti malam, kakak masih sibuk merayu ayam untuk turun. Saya pun waktu itu ikut bantu merayu ayam agar pulang ke kandang hahaha. Ayam-ayam ini jika sudah waktunya akan menjadi santapan keluarga di meja makan, kadang jadi gak tega kalau ingat tubuh gemuknya yang kita pelihara dari kecil.

Kakak yang paling besar akan sibuk menyiram pohon di sore hari, rumah kami penuh dengan aneka tanaman saat itu. Jeruk Bali, cengkeh, nangka, ceremai, belimbing wuluh, belimbing bintang, jambu air, mangga, hingga pisang ada di halaman rumah. Tidak banyak, setiap jenis ada satu pohon. Belum lagi tanaman hias milik emak seperti Kuping Gajah, duuuuh mesti tetap hijau dan segar. Tanahnya harus digemburkan, jadi akarnya sehat. Begitulah urusan tanaman, emak yang akan banyak bicara. Untuk menyikat kamar mandi pun dibuatkan jadwal. Semua bekerja, belajar bertanggung jawab. Hari Minggu kami akan sibuk mencuci sepatu. Kaos kaki dan sepatu menjadi tanggung jawab masing-masing. Kami akan ngantri di tempat cuci belakang rumah, bergantian nunggu sikat sepatu, kadang saya merayu kakak menitipkan sepatu  hehehe. Seru sekali jika kami sedang mengingat masa kecil.

Apa yang tidak disukai bapak? Bapak sangat marah jika kami berbohong, kakak saya sehabis pulang sekolah rupanya berenang di sungai dengan kawannya. Kulitnya hitam terbakar matahari, lalu pulang sore hari. Eeeh saat ditanya tidak mau bilang habis berenang, hohoho, Bapak marah, menurut bapak jika sudah berbohong nanti pasti akan terbiasa berbohong. Jujur saja, mengaku salah. Itu lebih baik dan aman. Ada pesan juga dari bapak, jika mengaku salah tunjukkan wajahmu merasa salah, jangan cengar-cengir, senyum dan sebagainya. Pesan seperti ini terus saja teringat, karena saya pernah melakukannya, mengaku salah tapi wajah saya tidak menunjukkan itu. Bapak juga tidak suka kita bermalas-malasan, bangun harus pagi, tidur tepat waktu dan jika luang yang dilakukan adalah membaca buku/koran, serta mengisi Teka Teki Silang di harian Kompas Minggu waktu itu. Televisi dinyalakan saat tertentu saja, tidak semua acaranya boleh ditonton.

Dan menurut bapak, kita harus bersyukur jika masih ada yang mau menegur, memarahi atau menasihati kita, karena jika sudah didiamkan, dicuekin, dianggap tak ada padahal ada, itu akan menyakitkan sekali. Nasehat lama ini benar adanya. Saya meyakininya sekarang.

Lalu dimanakah emak saat itu? Emak paling sibuk di dapur, ada saja makanan yang dibuatnya. Di tangannya semua jadi enak. Kami tidak mengenal jajan, setiap ingin jajan emak bisa membuatnya, jadi yaaa sudah….kami tak perlu jajan. Dari siomay, bakso, roti sobek, bubur kacang, putu ayu hingga kue lainnya slalu bisa dibuat. Bapak mengharuskan kami bisa berenang, main bulu tangkis, serta lari. Sayangnya saya masih kecil, jadi jika Bapak bermain bulutangkis di lapangan sebelah rumah, saya hanya bertugas mengambilkan shuttlecock, dan menonton saja. Dua kakak saya menjadi lawan mainnya. Raket hanya untuk kakak, sedangkan saya bermain-main melempar cock dengan piring plastik. Tubuh bapak saya yang gemuk tidak membuatnya sulit bergerak, tetap lincah mengajarkan smash, atau pun mengembalikan shuttlecock. Makanan lah yang membuatnya menjadi sakit, penggemar jeroan dan tentu wedang legi plus kentel. Gula batu menjadi teman di pagi dan sore hari. Meski dokter sudah melarangnya namun berat meninggalkan kebiasaan, hingga akhirnya menyerah meski usia baru berkepala empat.

Bapak selain mengajarkan tentang disiplin juga mulai mendidik kami menghargai uang. Bagaimana cara kami mendapatkan sesuatu?...ya menabung. Celengan ada di atas meja belajar kami, jika ada keinginan harus dibuka, nanti bapak akan cukupkan jumlahnya. Oh yaa, bapak saya jago masak juga. Untuk beberapa masakan, emak akan kalah. Terutama masakan Jawa tentunya heheh. Rawon dengan bumbu keluwek menjadi masakan kesukaannya. Aneka soto, bahkan bubur ayam, nasi tim pun itu dibuat di dapur emak. Tempe hadir setiap hari di meja makan. Lalu bapak mencoba membuat tempe sendiri dan hasilnya luar biasa. Produksi tempenya diminati oleh tetangga dan teman-temannya. Rak besi tinggi ada dibelakang rumah tempat bapak dan emak membuat tempe. Nah, membuat tempe biasanya dilakukan saat hari Minggu, semaleman rendam kedelai dan cuci hingga bersih. Lalu emak yang akan memasukkan dalam plastik, saya akan menusuk-nusuk plastik dengan lidi yang sudah diruncingkan, agar proses fermentasi berjalan sempurna. Ternyata ada polanya juga, tidak asal tusuk sana sini. Tapiiiii…..yaaa begitulah saya, masih saja tidak berpola, berantakan terlihat saat tempenya sudah jadi. Mengantar tempe yang sudah jadi ke tetangga juga sebagian dari tugas saya, pernah saat hendak mengantar, bawa tempenya menggunakan piring, eeeh ada Soang, angsa yang lehernya panjang mengejar saya hingga jatuh dan tempenya berantakan, piringnya juga entah kemana. Rasanya seperti dikejar apa yaaa….lari sekuat tenaga tapi ternyata paruhnya berhasil menangkap ujung baju. Ngeriiiii membayangkan Soang waktu itu. Hahahah. Masa lalu dengan soang berleher panjang.

Rak tinggi untuk menyimpan tempe beralih fungsi setelah bapak pergi, baskom besar dan lain-lain dibiarkan berdebu. Tak ada yang menyentuhnya, emak sempat sakit dan bingung harus mengerjakan apa, alhamdullilah akhirnya semangat itu hadir kembali. Hidup harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah dan berhenti begitu saja.  

Lalu, setelah waktu berjalan begitu panjang, setiap hari Ibu di 22 Desember pastilah emak akan bilang, kado dari bapak abadi sepanjang masa. Slalu diingat, perayaan bagi emak, tapi juga kami akan berkirim doa mengingat bapak. Hari ini tepat 30 tahun. Sarung kotak hijau dan kaos putih yang sering dikenakan bapak, kadang melintas menjadi kerinduan. Rindu serindu-rindunya, hingga kadang jatuh bulir bening tanpa sebab. Beliau menginginkan kami anak-anaknya menjadi anak yang tangguh, tidak cengeng dan tidak rapuh, pembelajaran yang saya dapat dalam perjalanan 30 tahun tanpanya. Rasanya menjadi aneh jika saya terisak untuk hal yang tidak penting, karena banyak hal penting sudah berhasil dilalui tanpa  terisak.

"Terimakasih kado istimewanya Pak", jangan khawatir anak gadismu yang satu ini terus semangat dan semangat terus. Seperti yang slalu diajarkan untuk berikan yang terbaik, belajar dalam segala hal, berani, dan strooooong. Meski kadang jika sedang sedih gegara ada yang bikin ulah saya tak bisa lapor bapak, seandainya bapak ada………….hmmmm tinggal ditelolet kelar deh hidupnya dia, berani-beraninya yang bikin anak gadis bapak menangis. Eeeh, sudah, sudahlah…..bapak tidak perlu tahu hal ini. Tenanglah di sana bersama emak.

Al- fatihah untuk bapak dan emak dari kami di ruang yang berbeda. Insyaallah kita akan bertemu di Jannah-Nya. Saya percaya, bapak dan emak slalu temani di rumah hijau ini. 

**foto Cik Wening