Minggu, 30 Maret 2014

Tak Ada Cuaca Yang Buruk




Tak ada cuaca yang buruk, yang ada adalah cuaca yang cepat berubah. Aku lupa rangkaian huruf tersebut aku baca di buku yang mana, namun dengan kejadian pagi hingga malam tadi kalimat tersebut kembali melintas di benakku. Pagi saat matahari belum seutuhnya menampakkan diri aku meninggalkan rumah. Angin pagi berhembus pelan, ku tahan dengan jaket bermotif batik agar dinginnya tak menembus ke dalam tulang. Memacu sepeda motor dengan kecepatan rendah menuju terminal. Cuaca cerah ternyata menemani hariku. Terbangun mendengar teriakan kondektur bis..,”Kebon Jeruk..Jeruk..Jeruk.. hmm…satu jam lebih aku tanpa sadar telah melanjutkan tidur dalam bis ini. Sinar matahari terhalang kaca jendela namun tetap membuat tidurku tak lagi enak untuk dilanjutkan. Tak lama bis melaju gerimis mulai turun. Pancoran hujan, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana pagi di tempat ini. Kampus cerah, terang benderang, awan biru, tak ada tanda sama sekali disebelah sana telah turun hujan deras. Semuanya cepat sekali berubah. Pun sama saat sore menjelang. Bergegas mengejar bis karena hujan mulai turun, ternyata awan tak menurunkan airnya di jalan tol…yaa..cuaca begitu cepat berubah..hujan, lalu cerah kemudian hujan dan cerah kembali.

Tak ada cuaca yang buruk, yang ada adalah cuaca yang cepat berubah. Menikmati malam minggu dengan sepeda  motor, sesekali membunyikan klakson dengan sengaja ketika melewati pasangan yang beriringan, berpegangan tangan. Tersenyum ketika mereka terkaget-kaget dengan tingkah isengku. Malam minggu memang memiliki pemandangan yang berbeda. Hampir sampai rumah, teringat janji seorang teman di tempat kerjaku. Maka kulanjutkan kembali perjalanan ini. Sebentar saja, dan tiba-tiba cuaca indah berubah menjadi hujan deras tak kepalang, sangat. Tertegun tak bergerak. Menepi menghindari derasnya air, dalam hitungan menit rinainya menghilang, belum sempat merapikan jas hujan yang baru saja aku kenakan, tiba-tiba hujan turun lagi deras sangat. Kali ini sedikit lebih lama, lalu seperti sebelumnya seakan-akan patuh menerima perintah dari Sang Maha, tetes airnya menghilang berhenti tak turun lagi. Tanpa berangsur-angsur namun benar- benar berhenti. Memacu sepeda motor menikmati dinginnya malam dan bulir bening di pipi yang jatuh terbawa suasana betapa Engkau Sang Maha telah membuat malam ini membuat saya berpikir tak ada yang sulit bagi-Mu. Akulah yang membuatnya rumit. Mendatangkan dengan deras lalu menghentikannya berganti dengan bintang. Cepat sekali berubah dan itu mudah bagi-Mu.

Tak ada cuaca yang buruk, yang ada adalah cuaca yang cepat berubah. Mungkin itu pula kalimat yang tepat untuk menggambarkan  dengan urusan perasaan, terkadang cerah namun tiba-tiba berubah menjadi hujan disertai petir. Aku yang akan membuatnya rumit atau kulepaskan agar semuanya menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami. 



Indonesian Kids Don't Know How Stupid They Are (Elizabeth Pisani)

Tertarik dengan judul artikel tersebut, saya melanjutkan membaca tulisan seorang Elizabeth Pisani; pemerhati, epidemiologis, dan mantan jurnalis yang begitu prihatin dengan hasil survey
Programmme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2012 yang dirilis diawal Desember 2013 lalu. Berdasarkan data PISA Indonesia menduduki peringkat paling bawah dari 65 negara, dalam pemetaan kemampuan matematika, membaca dan sains. Kemampuan matematika siswa-siswi di Indonesia menduduki peringkat bawah dengan skor 375. Di bidang kemampuan membaca, Indonesia mendapatkan skor 396 dan kemampuan sains mendapatkan skor 382. Ini semua ada pada level bawah. Menyedihkan sangat. Begitu bodohnya kah kita?
Add caption
Dia tidak berpikir bahwa anak-anak Indonesia bodoh, ketika tulisan dalam blognya diserang oleh ratusan komentar. Namun, dia merasa anak-anak Indonesia sangat dirugikan oleh sebuah sistem pendidikan yang terjadi disini. Menarik sekali. Sistem pendidikan kita seperti apakah, hingga membuat bodoh anak-anak Indonesia. Ratusan komentar bernada tidak terima, namun banyak juga yang mengamini bahwa memang sistem pendidikan di negeri kita sudah sangat amburadul. Mari jernihkan hati sebentar dan baca ulang apa yang ia tulis. Saya rasa tidak ada yang salah, dia sedang mengemukakan pendapatnya dan jika dicermati memang demikianlah yang terjadi. Ada beberapa yang menonjol hingga menjadi juara Sains dll ditingkat dunia namun tentu menjadi sangat sedikit jika kita membandingkannya dengan jutaan anak Indonesia. Saya bukanlah seorang pengajar sehingga tidak tahu persis yang terjadi dalam sistem pendidikan kita, dan saya juga belum memiliki putra-putri dimana saya berkonsentrasi penuh terhadap pendidikannya, yang saya tahu keponakan2 yang masih di pendidikan dasar saat berangkat sekolah tasnya penuh dengan buku terkadang dia sendiri tak kuat menahan beban tas dipunggungnya yang masih sangat kecil.  Miris memperhatikan ini semua. Cinta saya terhadap dunia pendidikan dan anak-anak membuat saya selalu menyempatkan diri untuk terus belajar mengetahui lebih banyak tentang hal ini. Berbicara tentang dunia pendidikan maka tak akan terlepas dari sebuah profesi mulia. Sebuah profesi yang membuat manusia lain menjadi lebih bermanfaat. Mengorbankan dirinya memilih sebuah profesi yang sangat besar tanggung jawabnya, karena bukan hanya sekedar mengajar namun mendidik. Ditengah maraknya oknum berprofesi guru (tidak semua guru) yang menjadikan pendidikan dan anak-anak ladang bisnis mereka dengan LKSnya, dengan baju seragam dan lain-lain saya yakin dan percaya masih banyak guru yang tetap memegang amanahnya. Jadi saya tak akan menyudutkan dan berbicara banyak tentang sebuah profesi dari hasil survey diatas. Tidak cukup dengan itu sebuah data lain yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan anak Indonesia adalah data UNESCO yang pada tahun 2012 mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca.. Padahal kita semua tahu, membaca adalah kunci dari banyak hal, membaca adalah kunci dari ilmu pengetahuan. Bagaimana kita bisa mencapai indeks baca 0.45-0.62 seperti rata-rata di negara lain dan tidak lagi menjadi urutan ketiga dari bawah di dunia. Budaya membaca termasuk hal yang sulit diajarkan. Saat ini membaca pasti dilakukan oleh sebagian besar anak Indonesia namun bukan membaca yang sesungguhnya, karena yang dibaca adalah status serta komen di media socialJ
Setelah membaca artikel-artikel terkait dengan ini semua, maka kepala saya jadi pening hehe. Tidak mudah mengubah ini semua. Berbicara sistem pendidikan sepertinya harus bersuara di Gedung DPR agar didengar, bicara tentang guru juga bukan pada tempatnya jika kesalahan ini kita tumpahkan kepadanya.  Hmmm…orang tua dan rumah mungkin bisa menjadi solusi terbaik saat ini. Tidak lagi menyerahkan anak-anak kepada guru walaupun guru memiliki andil besar disitu, mendidiknya dari rumah dengan keteladanan. Mengajarkan anak akan kejujuran. Ini sebuah perintah bukan pilihan. Mengajarkan anak akan kesederhanaan, berpikir kritis, menguasai teknologi dan kreatif. Percayalah setiap anak punya bakat masing-masing untuk menghadapi masa depan. Teringat taglinenya Ayah Eddy bahwa Indonesia kuat diawali dari rumah.









Sabtu, 29 Maret 2014

Cinta (lagi)

Tak terasa 31 hari di bulan Januari lewatlah sudah. Mulai menapaki minggu pertama di Pebruari. Hari Raya Imlek pun sudah lewat namun hujannya masih belum usai. Cuaca masih cepat berubah hingga kadang tak dapat dibaca apakah mentari atau petir teman kita di sepanjang hari. Tetes air hujan tak henti menyiram tanah ini seakan ingin menumbuhkan benih-benih yang tertanam terlalu dalam hingga sulit mendapatkan segarnya air. Pebruari memang bersahabat dengan hujan. Tidak hanya itu, baru teringat jika Pebruari pun bersahabat erat dengan cinta.
Pusat perbelanjaan mulai menghias dirinya dengan ornament berbau cinta. Menengok toko buku kesayangan di daerah Depok rupanya tak mau ketinggalan juga, mulai memajang buku-buku bertema “love” di deret terdepan dan baru saja membaca email yang masuk dari komunitas pencinta buku, isinya pun membicarakan cinta. Rupanya Pebruari bertabur cinta benarlah adanya hehe.

Membicarakan cinta tak akan ada habisnya, jika Pebruari adalah bulan cinta, maka 11 bulan yang lain bukan berarti berkurang cinta didalamnya. Tetaplah ada , tak kurang sedikitpun dengan Pebruari. Cinta terletak didasar, bersembunyi dalam senyap, menjadi bagian terdalam dalam tubuh yaitu hati, namun reaksinya sangat menakjubkan. Menggoncangkan bagian tubuh yang lain bahkan terkadang melumpuhkan saraf-saraf hingga tak dapat bekerja lagi dengan normal. Walaupun dia hanyalah  segumpal perasaan namun akan terus membesar hingga terkadang bisa jadi sulit dikendalikan lagi. Itulah dahsyatnya cinta.

Lantas dengan kekuatan yang super itu, alangkah indahnya jika kita bisa mempelajarinya di kursus singkat, atau di fakultas cinta hingga kita paham benar dengan seluk beluk cinta dan memilikinya tanpa harus berurai air mata terlebih dahulu. Itulah cinta, segumpal perasaan yang tidak dapat dipelajari di kelas ataupun di kursus seperti tadi, cinta dipelajari lewat kehidupan. Ia akan tumbuh di hati kita dengan kondisi yang berbeda di setiap jiwa tergantung bagaimana kita memperlakukannya, bisa biasa saja atau menjadi cinta yang luar biasa saat tumbuh di hati yang tepat# Afgan mode on hehe

Cinta adalah rahmat dari Tuhan kita, menyatu dalam setiap sendi kehidupan. Suburkanla ia agar tumbuh menjadi kekuatan yang luar biasa, mengakar dalam hati dan dahan-dahannya tumbuh dengan rindang. Cinta yang luar biasa akan membuat pengorbanan menjadi tak bermakna Cinta yang begitu kuat dan dahsyat membuat sesuatu menjadi mudah dan tak rumit. 

Itulah dahsyatnya cinta, Dan Setiap cinta telah memiliki waktunya.  #Insomnia080214.

Jumat, 28 Maret 2014

Berbagi Cerita, Nyalakan Cita di Hati Mereka_ Ibu Guru Tiwul

Mendapat kabar bahwa saya termasuk relawan yang akan mengisi kelas inspirasi pada hari rabu 20 Pebruari 2013 dari tim Solo Mengajar yaitu mas Anto membuat saya senang karena ini yang saya tunggu, "mengajar" dan unik karena ini bercerita tentang profesi saya. Keinginan untuk bergabung di Indonesia Mengajar terwakili dengan adanya kelas ini. Berkumpul, bercerita, berada diantara mereka adalah keinginan lamaku. Entah apa yang membuat saya memilih kota Solo dari 5 kota pilihan yang ada. Jarak yang cukup jauh, tak ada sanak saudara rupanya tidak menjadi halangan, mungkin pengaruh media tentang nama “Solo” beberapa bulan terakhir yang membuat saya yakin untuk memilih kota ini. Penasaran dengan Solo.
Perjalanan untuk berada di Kelas Inspirasi saya mulai dengan berada di Gedung Ungu, Kampus UNS, gedung yang berada di ujung dari kampus ini. Bertemu dengan teman-teman baru, mengenal profesi mereka menjadi awal saat duduk di kelompok SD Serengan II.
Hmmm...rasanya lama sekali saya tak menyanyikan lagu kebangsaan, bergelut dengan rutinitas pekerjaaan. Terobati rasa kangen, terbayang kembali masa-masa berseragam merah,dan biru. Satu lagi, hari itu saya menyanyikan lagu Solo Mengajar, suka sekali..sangat suka, syairnya mengingatkan saya untuk terus bergerak. Hari ini kuhabiskan waktu bersama tim, duduk lesehan di lantai kampus, menyusun strategi masuk kelas, hingga membicarakan amunisi yang akan dibawa. Dibimbing fasilitator mbak nicky dan katrin kami coba selesaikan semua termasuk mensurvey SD yang akan menjadi markas mengajar kami. SD Serengan II masih berada dalam lingkungan kota Solo, letaknya mudah dijangkau, gedungnya cukup bagus, didepannya ada masjid sekolah yang cukup besar untuk ukuran SD, keren.
Hari itu merupakan hari baru bagiku. Mencoret salah satu ingin, yaitu  punya banyak teman dan mengajar.

Selasa Pagi
Coba selesaikan perlengkapan yang akan dibawa ke lokasi nanti, lantai kamar penginapan penuh dengan guntingan-guntingan kertas. Yaaa..saya akan mainkan puzle gambar tentang profesi saya, farmasis. Besok saya akan mengajar di 4 kelas. Jadi gimick dan permainan saya coba rancang perkelas. wahhhh....rasanya koq deg-degan yaaa...,bisakah saya menaklukkan anak-anak tersebut, karena ini adalah kali pertama dalam sejarah belajar saya. Perlengkapan meracik (saya pinjam dari RS tempat saya bekerja), aneka kapsul warna warni, bentuk sediaan obat, dan hadiah2 yang sudah saya siapkan bergerak masuk dalam ransel serta tas jinjing saya. Bismilah...semoga besok saya gak mati gaya..,batin saya. Rasa khawatir tentang bahasa, budaya juga hinggap di hati saya. Dari banten menuju Solo heheh
Malam menjelang, saya bertemu dgn teman2 relawan Jakarta. Orang-orang hebat, super sibuk tapi masih menyempatkan diri utk hari inspirasi, pertemuan diakhiri dengan borong buku lagi :)

Rabu pagi
Satu gelas teh manis hangat, serta 2 potong kue mengisi lambungku, berharap dapat mengurangi rasa tak karuan. Tepat pukul 7 pagi kami bertemu di halaman parkir SamiLuwes, ku pastikan tidak tersesat dan terlambat dengan bertanya saat naik Solo Trans. Bus yang nyaman dan menemaniku saat berada di Solo. Mas Fajar, Mas Mufid, Mas Luke, Mbak Eki serta Mas Ubed siap semua. Kamipun meluncur...ke tekape. Jangan tanya apa yang saya rasakan...karena makin gak karuan detak jantungnya, seperti mau ujian heheh, dan akhirnya kami tiba di halaman itu, berdiri bersama, dan memperkenalkan diri di hadapan ratusan anak-anak yang mungkin bertanya-tanya.....siapakah orang-orang ini.
Dan sesuai dugaan, maka profesi farmasis (asist apt/apt ) belum familiar, terlebih saya menggunakan jas profesi, berwarna putih yang sejenis dengan jasnya para dokter.

Terlambat 10 menit dari jadwal, saya masuk di kelas pertama.
Wooooww.....seru abis, kelas II  kelas hebat, ramai, penuh tawa, dan tentu saja penuh dengan cerita. Puzle dimainkan dengan cepat, dan berkali-kali anak- anak tersebut salah menyebut profesi saya. Puncaknya adalah saat mereka mencoba meracik obat, bergantian menggerus, memegang kapsul warna warni. Sayang...sepertinya masih banyak yang harus diceritakan namun bel sudah berbunyi. Ternyata 40 menit cepat berlalu.
Bergegas menggendong tas ransel, masuk ke kelas berikutnya di lantai dua. Kelas 4. Tak ada satupun yang bercita-cita menjadi apoteker, mungkin mereka juga baru mendengar kata apoteker hehe. Bercerita tentang apa yang saya kerjakan di rumah sakit, hingga belajar melipat kertas puyer, dan akhirnya 40 menitpun tak cukup juga. Waktu itu saya berpikir 40 menit akan terasa lambat, hingga mungkin mematikan gaya dan suara saya...tapi ternyata tidak. Saya dibuat tak berhenti bicara dan bercerita oleh ulah anak-anak yang begitu menyenangkan, hingga akhirnya saat menutup sesi ini beberapa anak mengangkat tangannya dan mengatakan ingin menjadi farmasis.
Mulai terasa hangus, satu gelas air putih habis membasahi tenggorokan. Kelas ke tiga yang saya masuki adalah kelas 6. Tidak bermain puzle, tapi hadiah tetap ada, kembali bermain, namun tetap disisipi bahwa belajar adalah sebuah keharusan, bersekolah tinggi bukan tidak mungkin, semuanya berawal dari keinginan dan mimpi. Disini sayapun bercerita bahwa masa kuliah saya nikmati setelah saya bekerja. Bersungguh-sungguhlah pesan terakhir di kelas 6.
Dan saat bel berbunyi, saya beristirahat sejenak di ruang guru. Benar-benar menguras energi, suara serak, tapi benar-benar seru...dan ternyata saya ketagihan. Sebelum masuk di kelas terakhir dan jam terakhir saya sempatkan berkeliling dari kelas ke kelas.

Tiba saatnya masuk kelas 1, kelas yang riuh rendah, bersemangat ketika saya coba ajak bernyanyi, dan tentu saja saya harus menahan tawa dan senyum ketika mendengar celoteh mereka. Dialek bahasa terasa kental di kelas ini. saya bu guru..saya bu guru..itu yang sering diucapkan dengan dialek jawa. O’ya...saat berkenalan saya ajak mereka bermain melempar bola lalu menyebutkan namanya serta nama apapun yang huruf awalnya sama. Saya pun memberi contoh...”nama ibu adalah Tati, jadi coba sebutkan nama makanan yang huruf awalnya T...........serempak mereka menjawab “TIWUL” ...bu guru.
ho..ho..ho..,kaget saya mendengarnya, shock karena tak terbayang jika kata itu yang kan muncul, semua tertawa. okee...baiklah...Tati Tiwul, lalu saya lempar bola kertas tersebut dan kembali riuh kelas ini. Menyenangkan sangat.



Rabu Siang
Acara mengajar berakhir, kami semua berkumpul di lapangan, menulis cita dan menerbangkannya bersama balon berwarna warni. Berharap penghuni langit menangkap mimpi anak-anak hebat ini dan membantu mewujudkannya. Jangan biarkan mimpi itu tak berwujud, doaku untuk mereka.
Tak ingin berpisah namun saatnya kami pamit, menyalami kami dengan berbaris rapi. Beberapa dari mereka membawa sarung dan peci karena waktu sholat sudah tiba, beberapa anak lain membawa alkitab, karena ini pula saatnya kebaktian. Sungguh pemandangan yang indah, seharusnya orang-orang “besar” di sana melihat ini semua. Indah dalam perbedaan, mereka memberi saya banyak pelajaran hari ini.
Sebelum berkumpul di Taman Cerdas Mojosongo, kami sempatkan makan siang bersama tim, di warung nasi. Waaah....mengajar setengah hari laparnya luarr biasa..hahaha, jadi ingat lagi dengan guru-guru SD awal dimana saya mengenal dan merangkai aksara. Pasti lelahnya.


Selepas makan siang, melakukan refleksi dengan semua relawan. waahh..seru..mendengar cerita teman-teman yang lain, banyak yang ingin saya ceritakan, namun saya sudahi tulisan ini, point penting di hari itu, sepertinya bukan saya yang menginspirasi mereka, namun saya banyak mendapatkan inspirasi. Melihat mereka, bersama mereka, mengingatkan saya bahwa dalam kehidupan yang saya jalani, nikmat yang saya miliki, ada hak mereka atas semua itu. Teruslah membaca dan belajar karena itu akan berguna kelak. Percayalah.
Solo Mengajar...memang layak ditiru. Teringat kota dimana saya tinggal, kota urban. Terimakasih telah menjadikan saya sebagai bagian dari relawan di hari itu. Jika mencari candu, inilah candu yang saya nanti-nantikan. Berharap banyak dapat bergabung di lain kesempatan.
oh..yaa..tak cukup di situ, pada saat pulang, saya di antar oleh relawan seorang konsultan besar yang terkenal dengan salam sapinya, dan sungguh saya pun beruntung bertemu dengan beliau. Apa yang saya dapatkan akan saya ceritakan di tulisan saya yang lain yaa.. inspiratif..
sudah malam....................:)


Pagi di Ujung Maret




Maret hampir usai, April bersiap menjelang
Sangat lama tak berceloteh di area ini
Kesibukan yang membabi buta ataukah kemalasan yang tak terkira
Sinkronisasi semua aktivitas
mahasiswa, pekerja, ngurus rumah, plus sederet kewajiban lainnya
berharap di ujung maret ini otak, hati dapat bekerja dengan lebih baik
usir semua malas, hidupkan kembali jari-jari merangkai aksara
semoga cita kan terwujud...