Sabtu, 17 Januari 2015

Keindahan di Ujung Timur Jawa# GreenBay-Pantai Merah-Alas Purwo-Sadengan-Plengkung/G-land#eksplore banyuwangi (part 3)

                                                                                   
                                                                                       Sabtu 03 Januari 2015, Setengah delapan pagi,

Berendam di Teluk Hijau
"Selamat pagi mas Anner", sapaku saat dia mulai membantu merapikan ransel-ransel kami di bagian belakang mobil. 'Pagiii……gimana istirahatnya??" Nyenyaaak  pake banget, "balas aku. Selesai packing, kami mulai ambil posisi untuk memulai perjalanan ke Teluk Hijau alias Green Bay di Taman Nasional Meru betiri. Posisi masih seperti semula, ada mas Rully sang pilot lalu Ibeth dan Bang Anton. Baris kedua Kak Ellen dan Mas Aang ditemani Mas Anner. Baris Ketiga mbak Puji, Mak’e. Jeng Annay bersama Kak Dolly dan Bang Zul di baris ke-4. Dan saya membentuk tim trio kwek-kwek bersama mba Rini dan Trias dibagian belakang plus ransel-ransel diujung kursi. Bismillah, mobil melaju meninggalkan penginapan. 
Hari masih pagi, kami menyusuri jalanan Banyuwangi. Berbelok sebentar menjemput mas Gilang dan persiapan makan siang. Hari ini Deva absen karena mengantar tamu yang lain. Ambil posisi disamping mak’e dan mas Rully tancap gas. Green Bay terletak di desa Sarongan, di Selatan Banyuwangi. Berapa lama nih kita sampai? 2 jam lebih sahut Mas Anner. 
Keluar dari Kota Banyuwangi, kami terjebak macet, sempat tidak bergerak di tugu ( lupa namanya). Arak-arakan Kembang Endhog dengan hiasan warna warni berkumpul di sekitar tugu ini, dan ini benar-benar menghibur. Bang Anton langsung turun seakan tak ingin melewatkan momen budaya ini dalam jepretan kameranya, lalu bang Zul pun ikut mengambil beberapa gambar.
Arak-arakan Kembang Endhog
Hari ini bertepatan dengan maulid nabi Muhamad SAW, dan bersyukur sekali saya dapat menyaksikan sebuah budaya di Negri Blambangan.  Hampir sama dengan kebiasaan di tempat tinggal saya, ada arak-arakan telur dan hiasan bunga mawar dari kertas hias, saya menyebutnya pawai Mauludan. Disini disebut Arak-arakan Kembang Endhog. Ramai kami bersorak  Saat melintas endhog dengan hiasan ungu, kita       langsung teriak….Jeng Annay…itu telurmu  :D

akhirrrnya ikut panen buah naga
Mas Rully ngegas lagi, pemandangan berupa kebun buah naga mulai banyak dijumpai, ternyata Banyuwangi sentra buah naga. Dan saya termasuk orang yang baru pertama kali melihat tanaman ini lengkap dengan bunga dan buahnya. Sungguh ..sungguh indah. Keinginan berfoto ditunda karena kata mas Anner, besok akan jumpa dengan yang lebih luas kebunnya. Banyak penunjuk arah menuju pantai Merah, namun kami berbelok, kami akan ke Green Bay terlebih dahulu. Persimpangan Pancer lalu mulai memasuki kawasan hutan jati milik PTPN, selalu berteriak wow saat melihat pohon berjejer rapi. Nah…decak kagum tak berhenti karena kita memasuki wilayah kebun karet, sengon dan cacao yang sangat luas. Sepanjang tepi jalan tanaman berpucuk merah berjejer dengan sangat rapi. Ini adalah perkebunan Sungai Lembu, namanya unik jadi saya mengingatnya. Jalannya lumayan berkelok, mas Rully lupa dibelakang ada barisan ransel jadi mba Rini sempat tertimpa ransel saat kelok kanan kiri hahaha. Mas….Ingat dibelakang.., seru kami! Pucuk-pucuk merah ini terus menemani perjalanan di kebun karet, menambah indah. Pingin take a pict namun mobil harus terus melaju karena sudah mulai siang. Di dalam mobil, kami berceloteh segala hal, jeng Annay yang batrenya masih penuh, berkicau tak henti hahaha, membuat mobil tak sepi dari tawa. Mas Anner, Mas Gilang pun sampai tak punya kesempatan bicara karena sudah rame oleh canda kita.  Akhirnya pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri terlihat. Urus tiket lalu kami ngegas lagi. Tiba di pantai Rajegwesi  namun ini belum sampai ditujuan, bergegas turun karena beberapa sudah ingin ke toilet. Melihat jam, sudah lewat dhuhur, dan Tim Kemunir mempersilahkan untuk istirahat sebentar, sholat lalu makan siang berupa nasi kotak. Awan gelap, namun kami berharap tidak turun hujan. Fasilitas toilet yang minim serta antrian yang panjang membuat kami cepat-cepat berkemas. Sholat dijama ke ashar, lalu memesan kelapa muda sambil menikmati makan siang. Tandas makan siang, masuk kembali ke mobil untuk mencari lokasi parkir yang lebih dekat.

Jam satu siang, persiapan menuju Teluk Hijau
Ada dua cara mencapai Teluk Hijau, bisa melewati jalan darat dengan tracking kurang lebih satu jam, atau melewati jalur laut dengan bersampan ditengah pantai selatan kurang lebih  20 menitan. Kami memilih jalur darat, berjalan pelan sambil menikmati pemandangan kiri kanan. Pesona hijau yang disuguhkan membuat mata menjadi segaaaar, ceraah…..awan gelap bergerak menghilang, gerimispun berhenti.  Ternyata jalan yang kita susuri ini lumayan mendaki dan licin. Tali tambang besar sebagai pegangan ada disisi kiri dan kanan. Melewati lembah yang dari ketinggiannya kita dapat melihat teluk yang akan kita tuju. Berpegangan tangan, berjalan pelan, hati-hati dan harus sabar karena bergantian dari arah berlawanan pengunjung yang pulang melewati jalur ini pula. Tiba-tiba Zul menghilang, katanya mau ambil jalur baru, Rini berjalan sendiri. Tapiiiii tenyata jalur baru yang dimaksud adalah bersembunyi karena kandung kemih plus rectumnya udah gak bisa diajak kompromi, minta jatah dikeluarkan hahahaha. Hanya 1 km namun karena medannya lumayan berat kita cukup lama berjalan. 
treking ke Teluk Hijau

jalannya licin namun ada tambang pengaman

siaaaap trekking dan cari jalur baru
Pantai Batu
Teluk Hijau....................Green Bay
Daaaaan….akhirnya kami menjumpai pantai. Namun pantai ini unik, tidak berpasir melainkan berbatu hingga bibir pantai. Kata Mas Anner, pantai ini menjadi penuh batu setelah kejadian Tsunami 1994, kemungkinan baru dari dasar laut mendarat dipantai ini. Subhanallah. Beristirahat sejenak, ambil posisi berpoto sambil menunggu teman lain. Dimanakah teluk hijau??...masih harus berjalan menyusuri pantai ini 400 meteran, dibalik batu karang nan besar, 
Nyampeeee Teluk Hijau
  Lets go……kami berjalan kembali. Eksotis …..Kereeen pake bangeet, dan mempesona…………saat kami akhirnya menjumpai teluk dibalik karang. Damaaaai……indaaaah, dan memang hijau. Bang  Anton langsung bergerak mencari spot foto, sedangkan aku dan Bang Zul memilih spot teluk sebagai tempat kami mengambil gambar. Tidak kuasa menahan ingin untuk menyentuh air akhinyaa…jebuuuuur basah-basahan, dan airnya yang dingin plus jernih tentunya membuat benar-benar nyaman. Kak Ellen, Anna, Trias, Dolly  dan Mbak Puji akhirnya ikut basah pula. Belum puas bermain dengan air dan berganti pose, mas Gilang serta Anner sudah meminta kami berkumpul. 
Waaah kami belum bermain dengan pasir putihnya. Kita harus pulang, karena mengejar sunset di pulau merah. Yaaaah…kami belum puas, masih terasa susahnya perjalanan kami. Untuk perjalanan pulang, kami memilih jalur laut walaupun setengah takut, tapi mas Gilang bilang….aman, ombaknya gak besar,padahaaalllll…………….
                                                  
Dua Puluh  Menit  Yang Menegangkan
Dengan 2 Perahu kecil berkapasitas @ 6 orang, kami naik di perahu. Team 1 dengan porsi berat
perahu menegangkan
uppps, kak Dolly, Mbak Puji, Trias, Zul, Anna dan mas Gilang siap di perahu pertama, lalu saya, Ibeth, Bang Anton, Mas Aang, Rini dan kak Ellen bersiap di perahu kedua. Heeeyy..mana Mas Anner??..........waaaah ternyata dia melarikan diri bersama Mak’e, pulang pake trekking lagi gak mau naik perahu. Mas Anner memberikan kita waktu dimainkan ombak pantai Selatan…curaaaang hahahaha. Bismillah, pucat sudah wajah saya begitu perahu meninggalkan garis pantai. Tanpa pelampung, tanpa pengaman, perahu kayu mulai bermain dengan ombak. Allahuuuu akbar…maka saya dan Ibeth bersahut-sahutan takbir. Doa apapun terlontar, Asma Allah tak henti diucap, melihat ombak tinggi mengalun, mengangkat perahu kita pelan, Subhanallah, pikiran buruk mulai masuk….bagaimana jika ombak ini menggulung kami. Takbir terucap kembali, Ibeth memegang erat kaos saya, dan saya pada akhirnya memejamkan mata alias merem saat ombak datang lagi. 
senyum sebelum digoyang ombak
Ya Allah….manaaaa bibir pantaaai…sejauh mata memandang hanya lautan lepas. Saya tak bisa tengok kiri kanan lagi, padahal katanya tebing-tebing indah banget. Yang saya cari adalah….manaaa bibir pantai..hiks. Bang Anton sempat kesal dan meminta 2 ababil penumpang gelap kami tertawa senang dimainkan ombak untuk berdoa. Mungkin mereka terbiasa. Rini, Kak Ellen dan Mas Aang basah disiram ombak. Alhamdlh akhirnyaaaaa mataku menangkap bibir pantai dengan perahu-perahu bersandar. Selamat…dan bahagiaaaa bangeeet. Kami memang aneh, senang berpetualang, namun juga takut saat berhadapan dengan samudra lepas. Berbilas disumur dekat parkiran, kami tertawaaaaaa sambil mengingat dua puluh menit yang baru saja berlalu. Di perahu pertama, Anna bercerita kalo Mas Gilang menyarankan melihat pemandangannya saja biar gak takut, padahal semuanya takut dan merem hahahahah. Sambil makan bakso kami menunggu Mas Rully datang. Tak berapa lama  mobil datang,berpopok plastik merah kami duduk di jok mobil .

  Pantai dan Pulau Merah
Mobil dipacu kencang mengejar sunset di Pulau Merah, Tumpukan tas ransel dibagian belakang mulai berantakan susunannya, gerimis turun. Semoga kami masih bisa menjumpai sunset disana. Angin kencang menyambut kami saat sampai, mas rully  memarkir mobilnya namun diurungkan karena angin cukup besar, disertai hujan. Gak jadi turun, mobil putar balik menuju homestay yang tidak jauh dari pantai. Team Kemunir membagi kami menjadi 2 homestay, semua yang berpasangan dijadikan satu plus Zul dan Mak’e, sedangkan kaum single berkumpul disatu homestay. Fasilitasnya bersih, tempat tidur nyaman, serta ruang tivi yang luas. Acara mandi, bersih-bersih dimulai. Mas Anner mengingatkan bahwa nanti setelah selesai makan malam bersama di tempat yang dekat dengan pantai.
ikan bakar pantai merah untuk santap malam
Mandi dan membersihkan diri dari pasir, hujan berhenti, begitu pula angin. Kami keluar bersama untuk makan malam. Waaah…Tim Kemunir menyediakan ikan bakar di warung makan lesehan dekat pantai, tak jauh dari sana ada bangunan pura, sayang karena gelap saya tak bisa ambil gambarnya. Makanan Tersaji dan cepat tandas. Ikan bakar, cumi, serta lalaban singgah sebentar dipiring selanjutnya sudah bermukim di perut. Habis mandi, cuaca dingin, dan lelah serta sport jantung dari Green Bay membuat lapar semakin lapar hahaha. Team ancur masuk lagi ke homestay karena gerimis lagi, tapi kami gak langsung tidur. Selonjoran sambil bercerita seputar perjalanan serta lebih mengenal satu persatu. Kami benar-benar menjadi teman baru di trip ini karena sebelumnya kami tidak saling mengenal. Maka malam itu kami dibuat terpingkal-pingkal oleh ulah kak Dolly, mengurai cerita tentang Raymond, kucing ganteng yang banyak disenangi kucing tetangga namun menjadi anak durhaka karena emaknya belum laku, tentang tanamannya yang mati semua dan itu tanaman langka berjumlah 70an, hanya 4 yang selamat yaitu bayam, dan sejenisnya, tentang keberangkatannya yang bermodal nekat dan salah bawa kostum karena dia pikir kita akan lama di gunung :D, dan tentu saja semakin tergelak karena logat bahasanya yang mengalun indah khas Batam. Aku ikut terkocok perutnya sembari tangan sibuk memijat Jeng Anna. Malam itu sebuah potensi besar dalam diriku terpaksa aku keluarkan karena teman-teman kakinya kram dan lelah. Aku menjadi pemijat dan malam itu pasienku 3 orang. Setelah Anna, lalu mba Puji dan Trias. Giliran kak Dolly minta diinjak-injak, aku menyerah….lanjut oleh mbak Puji, maka malam itu homestay menjadi malpraktek pijat dan penyiksaan menginjak-injak korban :D
Anna tertidur pulas didepan ruang tivi selesai di pijat, Trias mulai merapikan kamar, semua masuk kamar, sudah hampir jam 11 malam, besok adalah hari terakhir trip kami di banyuwangi…….ooohh kami betah nih gak pingin pulang.

Minggu, 04 Januari 2015
Pagiiiiii…………dipantai merah, angin lembut serta awan sedikit mendung tak mengurungkan kami untuk merasakan pagi di pantai Merah. Sebenarnya pemandangan yang dahsyat dari Pantai-Pulau Merah adalah saat sunset, namun pagi ternyata tak kalah indah hanya saja kami tak melihat saat pulau itu disiram cahaya matahari maksimal dan terlihat merah. Icon pantai merah ini adalah bukit yang tak jauh dari pantai yang bisa kita kunjungi jika air pantai surut karena dekat dengan melewati batu-batu. Pagi ini ombak tinggi 3-4 meter dan kami hanya berfoto-foto dipinggir pantai tanpa ke pulaunya. Sepanjang pantai dihiasi paying-payung merah, karena masih pagi payung belum dibuka. Eeeeeh..akuuu menemukan ikan kecil, ternyata katanya kalau kita menyusuri pantai ada tempat pelelangan ikan. Hujaaaan…semua bergerak menepi, tapi kami masih disana. Kak Dolly dan Rini berfoto dibendera merah. Awan pergi matahari muncul dan ternyata wwwoooooow banget, bukit-bukit kecil memang berbeda warna saat disinari matahari. Masih pingin mengabadikan namun mas Anner sudah mengingatkan bahwa kami sudah ditunggu untuk sarapan pagi samping Pos, dan sudah harus packing. Destinasi terakhir sudah menanti Alas Purwo dan G-land.

Pantai Merah di pagi hari

haiiiii.............aku menemukan ikan

Sarapan pagi kali ini nasi pecel plus atributnya. Berada di Pantai Merah serasa berada di Bali. Bahasa Jawa yang digunakan sepertinya berbeda, dan memang benar sebagian besar penduduknya adalah campuran dari Osing, Madura dan Bali. Di daerah ini pula katanya terdapat penambangan emas. Berkemas kembali, ransel-ransel dirapikan mas Anner serta Rully agar tidak berjatuhan saat mobil melaju kencang. Trio Kwek-kwek masih di frekuensi yang sama. Selamat tinggal Pantai Merah, walau kami belum menjumpai kilau emas cahaya mentari saat senja, namun pagi tadi sudah cukup mengobati.

                                                             Alas Purwo, G-land
Alhamdlah menuju destinasi terakhir cuaca terus bersahabat, meski katanya di kota lain diguyur hujan berhari-hari, selama kami melakukan perjalanan hingga pagi ini semuanya berjalan lancar, sesuai harapan. Pemandangan menghijau, kami melewati berbagai perkebunan, dari jati, karet, lalu jeruk, buah naga, kacang panjang, dan tanaman lain. Segaaaaaar. Banyak teman bertanya, mengapa Alas Purwo menjadi destinasi kami, bahkan ada yang mengingatkan tentang seram dan angkernya hutan Alas Purwo. Mungkin mereka banyak yang belum tau ada surga tersembunyi di Ujung Taman Nasional Alas Purwo ini. Suasana riang didalam mobil, ditambah dengan canda dan tebak lagu dari playlist mas Rully yang genrenya bikin kita berkerut-kerut hahahaha. Apapun yang terjadi kami menikmatinya dengan sukacita. Rini tertidur, diikuti trias dan aku, begitulah kami. Menyanyi bersama, kalau capek langsung tidur, begitu bangun makan keripik, lalu nyanyi lagi hahhaha. Bang Antooooon, ini bagus bangeet foto yuuuuk….ajak kita saat melewati pohon-pohon kering di Alas Purwo, dan tentu saja mobil langsung berhenti. 
Kamera beraksi, indah menggoda melihat pohon kering menjulang ditengah hijaunya hutan. Ayoo masuk mobil lagi, perjalanan masih jauh seru Tim Kemunir. Ambil beberapa pict lalu lanjut lagi. Eeeeh ada tukang  daging pentol ayam. Anna dan Rini berseruuuuu..ayooo tunggu kita di sana hahaha (dan kita tidak tau ternyata masih jauh masuk hutannya). Penunjuk Arah Ngagelan tempat penangkaran penyu kami lewati karena menurut mas Anner tukiknya sedikit, jadi dilewati saja. Terus melaju, sinar matahari tertutup rimbunnya daun. Kami akhirnya sampai di Pancur, pantai yang merupakan starting point menuju G-land atau Plengkung. 
 Mencari toilet itu pasti menjadi tujuan pertama, dan sayaaaang banget tempat ini lagi-lagi tidak
mushola di Pancur
dilengkapi dengan fasilitas yang bersih. Air kotor serta tempat yang gelap membuat saya sedikit takut hihihi, lalu saya bersama teman menuju mushola yang lumayan besar namun sayang pula, tempat ini kotor dan berdebu. Oyaaa…….kami bertemu dengan pentol ayam dan langsung semua beli, lumayan buat obat laper. Saya membeli 3 bungkus kacang rebus serta 1 bungkus melinjo rebus. Ternyata kami harus berganti mobil, menggunakan mobil khusus karena medannya berbeda, dan tidak diperkenankan jalan kaki. Satwa Liar masih banyak disini, banteng jawa, babi hutan, anjing hutan masih berkeliaran. 


pasir G-land
Saya duduk dibelakang bersama Mas Anner dan Anna, dan surprise…………….kamiiii dibuat takjub saat mobil mulai masuk hutan…….ribuan kupu-kupu berwarna putih dan orange menyambut kami, subhanallah…..seperti dinegri dongeng….meliuk-liuk terbang diseputar mobil kami. Indaaaaaah sangat. Kami tidak pernah membayangkan berjumpa dengan ribuan kupu-kupu ini. Ternyata saat musim pancaroba atau seperti bulan januari saat ini kupu-kupu banyak sekali. Allah Maha Indah. Sampai  di G-land, kagum kami benar-benar tak henti. 
love is love

indahnya G-land
Rusa di bibir pantai
Ini tempat indah sekali, udara sejuk walau berada di pantai, rusa berkeliaran di pinggir pantai, hening dan membuat saya dan teman-teman seperti di pulau sendiri, sepiiiiiiiiiii memandang pantai nan indah serta jernih hingga dapat melihat isinya seperti rumput laut, karang dsb. Dan dibuat terpana ketika kami menginjakan kaki, pasir merica/gotri dengan warna-warni menjadi pasir pantai. 
Karang nan indah
Berjalan menyusuri pantai hingga ke tempat surfing dan karang-karang yang kece banget. Aneka pose diambil, semua sudut menjadi tempat untuk diabadikan. Sayang kami memang tidak berbasah ria disini, karena stok baju sudah menipis, esok masih bermalam di kereta. Rasanya pingin berguling-guling dipasir nan elok ini,amazing….,tapi kita harus segera pulang, Sadengan belum kita kunjungi, tempat berkumpulnya banteng jawa. Saat berjalan kaki menuju pos tak disangka kami bertemu dengan babi hutan. Ini kali pertama saya melihatnya , besar dan berwarna gelap, bikin kita berlari. Saat menunggu mobil menjemput, saya dan kak Dolly mengambil sedikit pasir untuk kami bawa pulang hehe, dan sudah diacece mas Anner.
Sampai di Pancur, santapan siang sudah tersediaa. Es jeruk terasa segar, santap siang nan nikmat lagi-lagi bikin semuanya menambah nafsu makan. Heraan selama di banyuwangi apapun yang disajikan disantap habis. Piranha semua rupanya kita ini hahaha.
Sadengan, tempat pengamatan satwa liar (banteng jawa dll)
Menuju pulang kami melewati Sadengan, padang rumput savanna dengan luas 80 hektar. Kami melihat sekawanan banteng jawa, serta burung merak di padang savana ini. Baru tau juga ternyata banteng jantan dan betina warnanya beda hehe. Jantan berwarna hitam dan yang coklat adalah banteng betina. Disini ada tempat pengamatan satwa liar tersebut. Sajauh mata memandang hamparan padang rumput nan menghijau. Ayooo angkat tangannya, lihat sini!! Teriak bang Anton kasih aba-aba, siap..kami merapat dan jepretan berkali-kali mengambil gaya kami. Lanjut dengan berfoto depan mobil yang selama 3 hari ini setia menemani. Bersiap pulang. Waah….rasanya tidak percaya jika trip ini berakhir sore ini, belum siap balik ke dunia nyata hiks hiks!.......Jadwal kreta kami Mutiara Malam jam 22.00, kami harus santap malam supaya tidak terulang kelaparan di kereta. Dan tanpa diduga setelah berhenti di pusat oleh-oleh Pelangi, Tim Kemunir mengajak kami makan rujak soto di warung mak Aisah ditepi jalan yang arahnya tidak jauh dari masjid besar Banyuwangi. 
rujak soto mantaaaapp

Rini bersemangat santap rujak soto

Dipinggir jalan kami nikmati malam
Waaaaah benar-benar surprise. Benar kata mas Gilang, nantikan saja kejutan-kejutan dari Kemunir.com :D. Rujak soto itu campuran dari rujak cingur plus usus, babat alias jeroan lalu disiram kuah soto. Nikmaaaat benner, ditambah es temulawak, sempurnalah makan malam kami di negri Blambangan ini. Kami dibekali kolak juga, sepertinya mas Anner takut kita kelaparan hehehe. Kami tertawa lepas malam itu bersama team kemunir, Bang Anton mewakili kita mengucapkan maturnuwun sanget untuk semua sambutan tim kemunir serta atas tripnya yang alhmdlh semua destinasi tercapai, cuaca bersahabat dan peserta semua sehat. Kami harus segera ke St. Karang Asem, berfoto bersama seluruh tim, lalu satu persatu masuk ke dalam ruang tunggu. Oyaa sebelumnya mas Gilang memberikan kami souvenir coverbag untuk ransel kami. Waaah kejutan kedua rupanya. Terimakasih banyuwangi. Kota ini benar-benar indah dan kita semua masuk ke dalam stasiun dengan membawa kenangan yang tentu saja benar-benar melekat dibenak kami semua, tentang semua destinasi kita, tentang team kita, dan tentu saja tentang indahnya Indonesia. Kamiiiii pulaaaaang……………selamat tinggal banyuwangi...................sampai jumpa di Indonesia Indah lainnya
 
Eksplore Banyuwangi berakhir

Rabu, 14 Januari 2015

Keindahan di Ujung Timur Jawa #Eksplore Banyuwangi_Ijen_Baluran (Part two)


Malam pertama,
Masih tanggal 1 januari, dan baru beranjak dari jam 10 malam. Namun kami semua team 12 sudah sampai di Pal Tuding. Pijakan awal menuju Kawah Ijen, di puncak Gunung Ijen dengan ketinggian kurang lebih 2368 meter diatas permukaan laut. Suasana sudah ramai dengan banyaknya para pendaki yang akan memulai perjalanan dinihari. Parkiran penuh dengan berbagai macam jenis kendaraan. Pak Rahmat, driver dari mobil kami yang banyak bercerita sepanjang perjalanan di perkebunan karet tidak ikut naik ke Ijen. Beliau akan menunggu sampai kami datang. Mas Anner  yang menyambut kami di st. Karang Asem pun tidak ikut menemani trip kami hingga besok sore karena masih harus bekerja. Kami dipandu oleh Mas Gilang, yang menggunakan tas selempang hitam dan topi serta Mas Deva, sepertinya lebih muda dari mas gilang, yang khas dengan rambut kriwil dan senyum lebarnya. 
pose sebelum nanjak
Kami dibekali dengan 1 botol air mineral plus roti manis oleh Tim Kemunir. Bersiap dengan jaket, sarung tangan, masker, serta kaos kaki kami turun dari mobil melihat-lihat kondisi sekitar Pal Tuding. Sinar lampu hanya temaram, bisa dibilang cenderung gelap. Beberapa warung menawarkan banyak pilihan makanan sebelum kami naik ke Ijen, tapi karena kami sudah makan di warung Bu Saleh depan stasiun, kami tidak memesan makanan, kami hanya duduk-duduk saja menanti dibukanya kawasan Ijen pukul 1 dinihari. Kantuk mulai menyerang, dingin sangat. Saya masuk mobil lagi bersama bang Zul dan Mak’e, mengatur posisi dan akhirnya tertidur pulas sangat pulas. Tiba-tiba saya terbangun dan suasana terdengar riuh, Bang Zul dan Mak’e masih tertidur, saya keluar dan mencari teman yang lain, gelaaaap..susaaah menemukan mereka.  Heiii….ternyata Ana tidur pulas di selasar warung.                                  
Suara Mas gilang memanggil kami untuk berkumpul. Sudah lewat sedikit dari pukul 1 dinihari. Hanya Mas Aang yang membawa ransel besarnya, yang lain hanya membawa tas kecil berisi air minum termasuk saya. Mas Gilang mengarahkan bahwa perjalanan untuk mencapai kawah ijen bisa memakan waktu 2 jam dan medannya menanjak, jadi jangan buru-buru, pelan saja dan jangan paksakan jika tidak mampu. Sebenarnya jarak tempuh hanya 3km, namun derajat kemiringan bisa sampai 35 derajat. Waaaaah……ketar ketir juga nih…masih kuatkah saya berjalan. Teringat jarang mengolah raga hehehe. Berdoa sejenak dipimpin Bang Anton kami memulai. Bismillah! Tapak kami membelah hutan di waktu dinihari. Suasana damai, lampu-lampu senter yang digunakan dikepala team lain menyinari jalan setapak. Pohon besar dikiri kanan, beberapa pohon tumbang dan membuat kami harus berhati-hati. Alhamdlh cuaca cerah, bintang dan bulan ikut menyinari. Awalnya beberapa puluh meter kami berjalan bersama, namun saat mulai menanjak kami mulai terpisah. Mas Gilang didepan bersama Mas Aang, Kak Ellen, ibeth, rini, mak’e, zul dan bang anton. Aku, Anna dan kak dolly mulai tertinggal. Dibagian belakang Trias dan mbak Puji ditemani mas Deva. Lama-kelamaan rombongan mas Aang menghilang, aku masih bertiga, dan Trias sudah tidak terlihat dibelakang. Entah berapa puluh kali kami berhenti. Kak Dolly akhirnya terpisah saat tanjakan mulai terasa lebih tinggi. Aku berdua Ana saling menyemangati. Napas pendek, berkali-kali minum, lalu berhenti. Saat kondisi begini, aku jadi ingat umur hahaha, menyadari sepenuhnya, karena semangat terus ada, namun akhirnya mengakui bahwa kondisi tubuh sudah tidak seperti dahulu lagi hahaha. Pendaki gunung palsu :D. Terus membelah malam, berjalan pelan, sesekali berhenti menunggu lampu sorot karena kami berdua hanya mengandalkan lampu dari hape, sinarnya sangat kurang. Sempat beberapa kali berteriak memanggil kak Dolly dengan sebutan Jeng Cynnnn..untuk memastikan dia ikut berjalan namun akhirnya kami tidak lagi mendengar sahutannya. Memandang kebawah rasanya takjub sekali, indahnya lampu-lampu disekitaran Bondowoso membuat aku dan Anna bertasbih melihatnya. Jalur pendakian semakin miring, kami merapat ke kanan, tanah yang berpasir membuat langkah semakin berat. Akhirnya kami sampai di Pos Bunder (posnya berbentuk lingkaran), berbelok ke kanan, dan menanjak kembali. Bau belerang sempat mampir dan terasa sekali, pedih juga dimata. Beberapa pendaki mengingatkan kami untuk membasahi masker. Semangaaaaat…..kami harus sampai ke Ijen. Itu yang membuat kami terus melangkah.  Akhirnya kami mencapai dataran yang landai, penuh dengan orang. Alhmdlh kami sampai di Kawah Ijen. Tapi….mana teman-teman kami. Keadaan masih sangat gelap, bagaimana kami menemukan team kami, bau belerang mulai terasa. Kala kami berdua bingung tiba-tiba muncul dihadapan kami Mak’e dan mba Rini………subhanallah..kami bertemu team kami. Senaaaaang banget. Angin mulai menusuk kami dengan dinginnya, Mas Gilang mencari perlindungan dibalik batu. Mak’e dan bang anton langsung dapat posisi untuk istirahat. Dingin sangat dingin. Kami menanti matahari terbit dan bergeraknya kabut yang menutupi kawah. Kak Dolly mana yaaaa….semua bertanya, lalu kami berkelakar tentang halusinasi kami di stasiun, dan membayangkan di Ijen kami menemukan fast food juga. Lalu tiba-tiba tanpa disangka-sangka saat kami berbincang, ada suara “ KFC gak ada”….dan kami berteriak suka cita..Kak Dolly…………..!! Jenk Cynnnnn…………!! Muncul dengan sandal jepitnya, sendirian, tanpa senter. Subhanallah. Perjuangannya mencapai puncak dilakoniny sendiri dan semangaaat yang menggila. Jauh dari batam harus mencapai puncak! Kok jenk Cyn bisa tau kita disini??....ditempat tertinggi dari kawah ini..dan jawab jenk Cyn dengan pasti….semua akan mencari sunrise, dan puncak tertinggi adalah pilihannya. Mantap!! Oya….Bang Zul teman kamipun terpisah dari rombongan, tapi kami yakin dia sudah ada disini. Trias dan mba Puji entah sampai dimana kami berharap bertemu, mereka berdua didampingi Mas Deva. Gerimis mulai turun, sunrise dipastikan tidak kami dapatkan. Melihat jam, kami sepakat sudah waktunya sholat subuh. Membentangkan sajadah kami bergantian sholat dengan bertayamum dan itu rasanya…masyaallah. Kami benar-benar kecil. Allah Maha Kuasa. Benar adanya bahwa inilah tiang-tiang bumi dan kami ada dipuncaknya. Sehabis subuh akhirnya Bang Zul ditemukan, ternyata dia dari bagian bawah kawah dan alhmdlh dapat mengabadikan bluefire, api biru yang merupakan sebuah keajaiban dan dapat terlihat sebelum pagi, yaaa seperti saat ini masih pukul 4 pagi. Angin berhembus, bau belerang sangat tajam. Mas Gilang bilang…jika kabut ini bergerak maka akan terlihat kawahnya. Titik api biru terlihat dari atas, dan sangat jelas saat berada dibagian bawah kawah. Sudah jam 5, gerimis lagi, Trias dan mbak Puji belum berkumpul bersama kami. Jika dalam 15 menit lagi hujan turun maka kami semua akan turun. Mas Gilang bertanya beberapa kali..yakin mau turun??...liat kawahnya dulu. 
Dan benar…………………hujan tidak  turun, kabut bergerak, lalu kami berteriak……subhanallah….bagus bangeeeet……..kereeeen banget. Indaaahnya Kawah Ijen setelah kabut perlahan pergi. Warna hijau toska terlihat jelas, weslah pokoke kayak gambar di kalender…indah..sungguh indah. 
Bluefire jepretan bang Zul yang turun ke bawah kawah

Senangnya.......ini benar-benar keren

Saat kabut belum hilang dan kawah belum tersapu seluruhnya

Haiiii.............kamiii sampai puncak Ijen
Pose.....:D
Kawah Ijen ini luasnya 5466 hektar, dalamnya 200 meter, memproduksi 36 juta meter kubik belerang dan salah satu pusat belerang terbesar di dunia. Disisi kiri lereng-lereng kawah khas sulfur mempercantik pemandangan kawah ini. Allah Maha Indah. Berdecak kagum, lalu semua ambil posisi………..take a picture, tongsis bergerak, Bang Anton sibuk dengan kameranya dan kami sangat senang menjadi modelnya. Hilang semua lelaaaaah, betis kami yang terasa berat menjadi ringan kembali. Terbayar Lunas di Puncak Ijen. Kami ingin berlama-lama namun kami harus melanjutkan perjalanan, maka tepat pukul 6 pagi kami turun, tinggalkan kawah hijau toska penuh pesona. Sambil turun kami berharap kedua teman kamipun menyaksikan fenomena indah ini, walau kami tak bertemu. Perlahan turun, udara segar, pemandangan nan mempesonaPuncak Gunung Raung dapat kita lihat di pagi ini. Bongkahan belerang disimpan disudut-sudut tanjakan. Beberapa penambang menawarkan belerang yang sudah dibuat beraneka bentuk. Mak’e membeli beberapa buah. Hutan yang semalam kami lewati begitu indah dipagi hari itu. 
Bersama Bongkahan belerang 

Ini namanya pondok Bunder

pohon raksasa hehhe


Saat turun....terlihat puncak Gunung Raung
Sampai di Pal Tuding kembali, dan yang dikejar adalah toilet, sayaaaang tempat ini tidak menyediakan toilet dalam jumlah banyak. Antrian mengular namun toilet terbatas, semoga segera ditambah lagi toiletnya. Saya tidak ikut antri namun langsung menuju warung memesan soto dan teh anget. Pingiiin banget makan gorengan seperti bakwan, tempe atau tahu tapi ternyata tidak ada. Ternyata gorengan tidak umum ditempat ini heheh. Saat makan sudah ada Trias dan mbak Puji, dan saya senang sekali mereka berdua mencapai puncak, namun sayang kita tidak bertemu. Soto yang berisi kol, bihun dan toge dibandrol di 12.000 lumayanlah menghangatkan perut dari perjalanan pagi.  Sebelum jam 9 kami sudah masuk mobil lagi, dan tetaaaap belum mandi dari kemarin ..upps. 
Kami akan menuju ke Baluran namun sebelumnya kami akan dijadikan dalam satu mobil ELF jadi makin siiipp. Sebelum memasuki perjalanan kedua, kami berhenti berganti mobil dan dibekali sarapan pagi oleh mas Aner yang saat itu berpakaian rapi mo ngantor J. Mas Gilang memutuskan sarapan di Pinggir pantai watudodol, pantainya keren di pinggir jalan. Menu sarapan pagi menjelang siang hari itu adalah ‘Pecel Pitik”, jangan bayangkan ini pecel ayam seperti yang sering kita jumpai. Pecel pitik ini ayam yang dibumbui dengan kelapa parut namun bukan serundeng. Beres makan, mas Rully sang driver membawa kita menuju Baluran. Sebuah taman nasional yang terletak di utara banyuwangi, dan nama baluran ini adalah nama gunung yang terletak didaerah tersebut yaitu gunung Baluran. Kenyang dan Lelah membuat kami tertidur pulas, dan terbangun saat mulai memasuki pintu utamanya. Horeee kami akan menjumpai Savana Indonesia. Mobil bergerak perlahan, pohon-pohon besar dengan segala keunikannya berjejer sepanjang tepi jalan. Jangan tanyakan luasnya yaa…..karena sangaaaat luas..25.000 hektar dengan aneka tumbuhan dan satwa. Kami menuju Bekol tempat pengamatan satwa, banyak monyet berkeliaran tapi monyet pintar, tidak ambil makanan bahkan coba liat…..ada yang bisa tutup dan buka kran sendiri.
pinter yaaak


Beristirahat sejenak disini, sholat dan saya saat masuk toilet sungguh senang, airnya bersih dan banyaaaak. Waaaah….senangnya akhirnya bisa jebar jebur sebentar :D,maklum sudah hari ke-2 belum jebar jebur hahahaha.
Kami lalu bergerak kembali menelusuri Taman Nasional Baluran hingga akhirnya tiba di pantai BAMA, pantai mangrove yang membuat mata tak berkedip, 
Mangrove yang bikin kita terpesona
belum lagi pantai disebelah kiri dari pintu masuk, yang eksotis dengan batu-batu besarnya. Mungkin karena memasuki bulan Januari maka sampah banyak sekali di bibir pantai. Di Pantai ini kami berjalan memasuki hutan mangrove, dan ditutup dengan makan siang berupa soto ayam di resto milik koprasi. Tidak ada yang berjualan selain koprasi ini. Selesai makan, kami kembali lagi ke SAVANA BEKOL, indaaaah dengan pesona tersendiri, pohon-pohon kering tanpa daun kokoh berdiri ditengah savanna, Gunung Baluran menambah keindahannya, dan sudah pasti kita semua ambil posisi untuk berbagai gaya. Kamera Hp, saku dan kameranya Bang Anton beredar dengan cepat. Kami seperti model-model majalah Agrowisata hahahaha, dan tentu…mas Gilang, Deva, serta Rully ikut juga menjadi model kami. 
hutan mangrove, cantiiik beneeer
salah satu sudut Pantai Bama

Pantai Bama
hahahha............inilah pelaku dari kemunir

mangrove terbesar di Asia

Kereen khan???

asssekkkk...:D

pohon kesenderian

jepretan bang Anton pasti kereeeen

Haiii.........kami reuni di Baluran
Puas mengabadikan semuanya kami keluar dari Baluran, menuju kota Banyuwangi untuk bermalam di Tanjung Asri Hotel. Perjalanan lumayan panjang 2 jam lebih, pemandangan berbeda, kami jumpai adalah pabrik semen, lalu pelabuhan Ketapang serta perkantoran. Banyuwangi penduduknya sebagian besar adalah petani. Kopi,karet, cengkeh,jeruk adalah hasil kebun andalan. Saya tidak pernah tahu jika jeruk banyuwangi begitu terkenal. Oya..dalam perjalanan ini kami buat ngileeer dengan cerita buah durian merah yang sukar sekali dijumpai,katanya mesti pesan 2-3 bulan sebelumnya jika sedang musim. Yaaaaaah..kami tidak berkesempatan mencicipi buah durian merah khas banyuwangi padahal pesannya sudah setahun, dari desember akhir 2014 sd awal Januari 2015..:D. Mas DeVa janji…mau ajak kita makan durian sayaaang gak kesampean hiks. Saat magrib kami melewati patung Gandrung, maskot kabupaten Banyuwangi. Foto??teteuuuppp…kami berhenti sebentar untuk ambil gambar ini hahahah.  Makasih mas Rully yang sudah mau putar balik untuk patung ini hahaha. 
Penari Gandrung, Maskot Banyuwangi
  Mobil berbelok ke arah kertosari...aseeeek…..............makan malam dengan sajian khas Banyuwangi, Nasi Tempong atau sego tempong. Rame buanget, antri, Mas Gilang membawa kami ke tempat yang pas banget dengan lidah kami. Mbok Nah, sang pemilik warung menyajikan sego tempong ini lengkap, dari lalaban, tempe tahu, ikan asin, perkedel jagung, telur dadar yang gedheee banget, dan lauk lainnya. Plus Sambel terasi yang bikin nampol alias tempong hahaha. Pokoke malam itu kami dibuat kenyang oleh Kemunir.com, jika kita berkunjung ke Banyuwangi wajib mampir ke Mbok Nah. 
Mbok Nah...Mantaaappp

Porsinya bikin nampol, sambelnya bener2 nempong

antri..benar-benar antri...mantaappp
Perut sudah terisi, Mas Rully sang driver mengantarkan kami ke Tanjung Asri, sejuk dan bersih tempatnya. Satu kamar berbagi dengan 2 teman, namun karena ganjil akhirnya saya, anna dan rini memutuskan untuk satu kamar. Waaaah…rasanya pingin langsung melempar badan ke kasur namun apadaya kita belum mandi dari kemaren dan kemaren ahahahaha. Sebelum masuk kamar, mas gilang mengingatkan jam 8 esok pagi kita capcus ke Meru betiri-Green Bay. Mandiiiii....segeeeer banget....lalu masuk ke selimut hahaha, tidur bareng Anna dan Rini, dan saat pagi bersemangat kembali untuk ngetrack ke GreenBay. Oyaa...tempat penginapannya nyaman banget, ditengah kota namun asri. Bisa menjadi pilihan jika ingin berlibur ke Banyuwangi. Tepat jam 7.30 pasukan 12 sudah packing lagi, Hari ini ternyata lebih gila lagi....dan lebih seruuuu....Ceritanya bersambung lagi ...ketemu di edisi GreenBay, pantai merah dan alas purwo yang memukau.
 
selesai sarapan di Tanjung Asri