Minggu, 20 Agustus 2017

Sekali Dayung, Tiga Pulau Terlampaui


Dok: Kaka Emma
"Bulek, kita jalan ke Pulau Tiga yuk”. Begitulah Mbaim memintaku untuk  membuat short trip di sekitaran Banten.  Waktu yang tersisa dalam minggu ini adalah tepat di tanggal 17 Agustus. Hanya punya waktu dua hari untuk mencari  penyuka bolang  dan mencari  informasi  tentang biaya sewa kapal serta rutenya.  “Minimal ada lima orang, kita berangkat.” 

Mbaim sepakat.  Mulailah berkirim pesan singkat ke Cikwen,  Badui serta Kakak Emma. Jawabannya Iyesss!!  Ternyata  Nong Yuni pun libur. Horeee jadilah jumlah minimal terpenuhi.  Bakalan tambah seru jika ada yang mau bergabung lagi. 

Dan kita senang banget saat Mak Vera nan cantik mau piknik ala-ala. Lalu ada Claudia Bella alias Nong Bunga. Ahaaaiii...para Nong Banten sepakat piknik bareng. Kami tidak seluruhnya saling mengenal tapi itu akan membuat perjalanan makin asik karena punya teman baru.

Selasa pagi bertelepon dengan Pak Arifin.  Pemilik kapal yang bermarkas di Dermaga Karangantu. Sssstttt..ini bukan dermaga para hantu yaak. Dermaga ini merupakan dermaga yang terletak di wilayah Kasemen, Serang  dan merupakan dermaga untuk pergi ke pulau-pulau di sekitaran Banten. Harga pun cocok, sewa kapal Rp. 400.000 untuk trip ini. Dan saya katakan bahwa akan merapat di sana sekitar pukul  08.30 bersama pasukan lengkap. Para juara Nong Banten tingkat RT

17 Agustus, pukul 07.30 pagi satu persatu memasuki  lapangan eh halaman rumah hijau. Tapi bukan untuk upacara, melainkan sebagai  tikum alias titik kumpul.  Absen logistik berjalan.  Mie goreng, nasi, serta  aksesoris makan siang sudah siap masuk kotak. Cikwen ahli perpudingan. Nong Banten lainnya bersiap dengan aneka cemilan. Maklum lah, pasukan ini kelompok piranha, semua suka hahaha.

Drama pertama dimulai. Nong Banten yang sumringah belum datang. Cindy Claudia Bella alias Bunga mulai ngantuk. Posisi duduk tegak bergeser satu persatu. Nong Mbaim dimanakah dirimu? Semua cemas, khawatir Mbaim terjebak harus bantu peserta upacara yang pingsan. Atau jangan-jangan sedang bantu Pak Polisi atur kemacetan. Mbaim suka gitu wkwkwk.  

Hampir  pukul sembilan, suara motor dan ketawa khasnya terdengar sejak dari pagar. Akhirnya Mbaiim datang juga. Alhamdullilah  yang kita khawatirkan tidak terjadi. Mbaim baik-baik saja.


Bismillah, kami berangkat! Eeits tak lupa foto sebentar. Wajah belum terpapar terik matahari. Oh iya, untuk piknik kali ini kami sepakat ber-angkot ria. Untuk menambah keakraban hahaha. Kalau bawa motor kan jalannya sendiri-sendiri. 

Angkot biru pun mengantar kami menuju Karangantu. Rp.100.000 mengantar kami hingga ke dermaga. Masyaallah, jangan ada yang lupa. Satu Nong Banten setia menunggu di halte PCI. Kaka Emma, yang terkenal dengan senyum manisnya.

“Miriiiiiip buleeeek!!” Mak Vera dan Cindy Claudia ber-Bunga teriak kompak saat Kakak Emma masuk ke angkot. Aku terbengong-bengong. Apa yang membuat kami mirip ya. Ah sudahlah, sepertinya kedua temanku ini kena halusinasi. Di dalam angkot perkenalan pun dimulai. Hai..hallo..hai...!! Bunga pun adalah teman baru bagiku. Meski sering mampir di wall namun kami tak pernah bertemu.

Perjalanan berlanjut. Menuju Kramat Watu, lalu berbelok ke kiri. Pak Arifin berkirim pesan dan bertelepon. Sepertinya beliau mulai cemas, penyewa kapal tak muncul dan tak ada kabar berita. 

Rute agak berubah sedikit, karena jalan yang biasa dilalui sedang ada pengecoran beton. Dan kami tetap menikmatinya meski jadi berputar melewati persawahan serta kebun. Pemandangan yang cukup membuat mata teduh karena hijaunya pematang sawah.

Angkot merapat dengan sempurna di Karangantu. Pak Arifin sudah menunggu. Bertegur sapa lalu langsung membeli tiket ke Pak Candra. Beliau adalah pengelola Pulau Tiga dan Pulau Empat. Di sini, kami harus membayar 15 ribu rupiah untuk tiket masuk ke dua pulau tersebut plus gratis saung untuk beristirahat. 

Para Nong Banten pun mulai naik ke dalam kapal. Pak Syafei menjadi nahkoda kapal.  Mandiri adalah kapal yang akan digunakan untuk berlayar. Cocoklah dengan para penumpangnya. Perempuan-perempuan yang masih sendiri. Upps! Pak Arifin melepas kami dengan lambaian tangan. 


                                                                   Siaaap melaut!!

Tanpa ada ombak, angin pun malas untuk hadir. Laut sangat tenang. Terik matahari mulai terasa. Perjalanan berlayar sekitar 40 menit menuju Pulau Tiga. Pulau terjauh dari 3 rangkaian kepulauan.  Cikwen mulai cari posisi untuk tidur, Nong Bunga membuka bekal dan langsung diserbu. Tandas dalam hitungan menit. Apem coklat gula aren. Enaaaak banget dinikmati dengan parutan kelapa.


Ahamdulliah, kapal merapat. Senaaaaang banget begitu sampai di Pulau Tiga. Celetukan sana sini ada saja yang dibuat oleh para Nong Banten ini. Lapaaar adalah yang paling utama. Hahaha. Perjalanan berlayar yang sebentar ini sudah membuat para Nong Banten hipoglikemia.

Buka bekal pun di mulai. Lengkaaaappp!! Terpenuhi gizi seimbang hahaha. Ada buah apel, lengkeng, karbohidrat dan protein. Hidangan penutup berupa puding mangga dan coklat pun buatan  Nong Banten Cikwen membuat teriknya matahari menjadi sedikit lebih dingin. Nyeesss dinginnya sampai ke hati.

Dok: Kaka Emma





Selesai makan siang, Nong Yuni menyodorkan potongan mangga muda. Woooow! Rasa asemnya membuat wajah Mak Vera berubah. Nong Yuni spesialisasi mengupas mangga terutama mangga dengan ukuran besar. Kebetulan mangga yang dipetik dari rumah ini ukurannya memang jumbo. Mungkin seukuran 34B eeeh...duh kok jadi bicara ukuran yak. Hmmmm, para Nong Banten memang suka begitu.


“Sudah siap?” tanyaku. Siaaappp! Kami berjalan menuju jembatan asmara. Entah mengapa namanya begitu. Mungkin yang membuat jembatan ini sedang LDR-an. Kaka Emma menjadi fotographer handal kami. Abadikan setiap momen dan sabar menerima aneka permintaan. Jarum jam bergerak lewati angka satu. Okey! Eksplore Pulau Tiga disudahi. Pemandangannya yang cantik sudah terekam dalam puluhan foto kami.









Dok : Kaka Emma
Berkemas untuk sholat. Beberapa masih jeprat-jepret di berbagai sisi Pulau Tiga. Para wisatawan yang datang ada yang asik bermain kano, ada juga yang snorkling. Kami memutuskan untuk tidak bermain air di sini. Sebelum pulang, air kelapa muda yang segar membasahi tenggorokan yang kering. Cukup 10 ribu untuk satu butir kelapa muda.

Oh ya, kami sempat menegur sekelompok pemuda yang meninggalkan sampah di saungnya. Daaaaan, teguran kami berhasil membuat mereka berbalik arah, memungut mantan eh bekas air mineral serta bungkus plastik makanannya. Mereka diam di sana, tak beranjak. Kami tertawa kecil, berhasil membuat mereka untuk tidak tinggalkan sampah. Begitulah pemuda, sering banget tinggalin mantan seenaknya eeh maksudku tinggalin sampah J.

Perahu bergerak tinggalkan Pulau Tiga.

Pak Syafei beraksi. Kami pasang posisi agar matahari yang bersinar sangat lucu ini tidak terlalu memapar kami. Kurang lebih 15 menit-an nampak pulau yang kami tuju. Horeeee kami sampai di Pulau Empat. Rencananya kami tak turun, tapi beberapa orang di sana melambaikan tangan ke arah kapal kami, seakan meminta untuk merapat.

“Lhaaaa, itu teman-temanku! Teriak Kak Emma. Kita turun...kita turun!!

Wajahnya sedikit panik dan terkejut. Beruntunglah kami mendarat di sini. Teman-teman Kak Emma ini menjadi malaikat penolong saat kami mulai berhalusinasi minuman dingin.  Gelas sampai berembun dan terbayang kulkas dengan segala isinya yang serba dingin. 

Taraaaa!! Mereka memberikannya. Beberapa botol minuman dingin langsung diberikan di tangan kami. Termasuk buah semangka. Ukurannya besar banget. Mungkin lebih dari 72B. Nong Bunga sampai mengerahkan sekuat tenaga untuk membawanya. Teman-teman Kak Emma yang berwarga negara Korea ini seakan bisa membaca pikiran kami. Atau mungkin wajah kami bertuliskan “haus..haus”.  Super, luar biasa saat apa yang kami bayangkan tiba-tiba ada di tangan kami.

Momen yang sangat jarang ini tak lupa untuk diabadikan. Wajah ceria terlihat dari kami saat menerima hadiah dan mengucapkan gamsahamnida. Begitu pun mereka, tak henti-hentinya memfoto kami. Entah apa yang menjadi daya tarik dari kami ini. Hahahah.

Suasana Pulau Empat?


Waaaah, damai.....tenang....bersih...tak ada sampah. Kami tak lama di sini karena banyak paparazi mengambil foto Kak Emma. Dan Kak Emma pun jadi sedikit gagal fokus karena tak disangka bertemu team kerjanya di sini. Para Nong Banten ini pun naik perahu lagi. Menuju Pulau Lima.  Pulau ini berbeda arah dengan Tiga dan Empat. Namun lebih mendekati ke arah pulang. Semangka merah pun disantap di perahu. Nikmat tiada dua. Bayangkanlah eta terangkanlah..., di tengah laut ada semangka merah dan dingin. Luaaar biasa. Rezeki anak yang sedang berusaha solehah.




Okey, mari kita lanjutkan perjalanan ini.  Ada Apa di Pulau Lima?

Di pulau ini kondisinya tidak terlalu terawat, saung atau gazebonya banyak yang rusak. Sampah? Banyak banget. Berbeda sekali pengelolaannya dengan Pulau Tiga dan Empat. Untuk masuk ke pulau ini, setiap pengunjung dikenakan tarif Rp. 5000. Kami di sini makan untuk kedua kalinya. Tandaskan semua. Bersih. Ntappp!!

Di hari ulang tahun kemerdekaan rasanya menjadi hambar jika kami tak melakukan apa pun untuk memperingatinya. Yess!! Kami membuat video. Koreographer nan imut mulai beraksi. Latihan sebentar, lalu action!  Penuh tawa saat membuat video dengan durasi pendek ini. Ada saja kesalahan yang dibuat. Bendera belum berkibar, kaki terpotong, atau ada pula yang berinovasi sendiri dengan gerakannya. Hahahaha...,begitulah kami. 

Gak pake lama, cukup 3 kali cut jadilah video klip ala-ala yang mempesona. Tapiiii, ada lagi salahnya. Aku bersuara dengan sangat nyaring dan terekam dengan baik di sana. Hahahah...maafkan. Maklumlah biasa jadi pelatih senam, jadi bawaannya teriak-teriak. Para Nong Banten pun menggoyang Pulau Lima. Panasnya matahari tak goyahkan keceriaannya.




Dok : Kaka Emma

Jarum jam bergerak hampir tinggalkan angka 5. Nong Bunga masih harus bekerja shift malam. Kami pun bergegas tinggalkan pulau. Sebelumnya abadikan momen cantik dengan siluet senja di bibir pantai. Perahu pun bergerak kembali, menuju Karangantu. 





Sebelum adzan magrib kapal merapat di dermaga. Kami berjalan beriringan mencari angkot terdekat. Alhamdulillah, sampai di rumah sebelum pukul tujuh malam. Berpisah dengan teman-teman dengan membawa cerita tentang keajaiban dan keceriaan sepanjang hari itu.


Sekali dayung, tiga pulau terlampaui. Itulah kami, para pejalan yang slalu membuat cerita dalam kehidupannya. Terimakasih teman seperjalanan telah membuat semua momen menjadi indah untuk di kenang. Meski berkawan baru bukan berarti tak bisa membuat perjalanan menjadi dekat dan akrab. Karena pada akhirnya bukan lama atau sebentarnya kita saling mengenal yang membuat hati kita saling bertaut. Bukankah begitu?

Penasaran dengan perjalanan kami? Ada video hasil syuuuut model kondang kelurahan Damkar Nong Cikwen. Pasti serunya.