Senin, 11 Desember 2017

Lingkaran

Saat kita berkumpul dengan banyak orang, maka membentuk lingkaran adalah cara yang paling sering dilakukan entah dengan duduk melingkar maupun berdiri melingkar. Makan bersama dengan melingkar, diskusi dengan melingkar, ngobrol santai lebih terasa nyaman dengan melingkar dan paling enak menikmati api unggun pun dengan duduk melingkar.

Mengapa dengan bentuk melingkar menjadi pilihan?..ya saya tahu, anda akan menjawab jika bentuk jajaran genjang itu sulit, apalagi trapezium hahaha. Iya kan?

Saya mengetahui bentuk melingkar itu mengandung makna yang dalam saat saya mengikuti sebuah kegiatan training, dimana setiap diskusi kelompok maka selalu diusahakan dalam bentuk melingkar/lingkaran. Terkadang melingkar rapat tanpa celah hingga lutut saya bersentuhan dengan lutut teman sebelah. Namun ada pula kondisi lingkaran yang tidak terlalu rapat. Saat melakukan ini, saya merasakan banyak manfaatnya. Dan memang melingkar mengadung makna yang dalam.  Yuuk kita perhatikan.

Saat duduk berdekatan dengan bentuk lingkaran maka energy positif akan saling menguatkan antara satu dengan lainnya, dan mencegah energy negative masuk ke dalam diri kita. Kita merasa dekat antara satu dengan lainnya, merasakan satu kesetaraan, satu frekuensi. Akibatnya saat kita berbicara atau berdiskusi kita akan merasa lebih rileks.

Selain itu dengan duduk melingkar maka energy yang dikeluarkan jugan tidak terlalu besar untuk berbicara atau bergerak sehingga lebih efektif dan efisien juga.
Apalagi ya?? Oh yaa…duduk melingkar membuat kita menjadi lebih mudah mengenal satu dengan lainnya. Oleh sebab itu cobalah saat anda sedang memimpin diskusi kelompok kecil, buatlah lingkaran dengan rapat, dan rasakan manfaatnya.  Begitu pula saat hendak mengenal satu dengan lainnya, maka bentuklah lingkaran.

Lingkaran adalah garis tak putus, maka yang diinginkan dari semua yang ada dalam lingkaran tersebut adalah simpul-simpul yang membuat perjalanan tak pernah putus, begitu pula silatrahmi. Melingkar menimbulkan kehangatan, coba deh perhatikan ular. Hidupnya diam melingkar heheh. Eh, ini semua penafsiran  ala bule_tati yaaaa……hehehe.


Turbulensi Kehidupan

Kencangkan sabuk pengaman, jangan panik dan tetap di tempat!. 

Begitu kira-kira pesan peringatan ketika kita mengalami guncangan tidak menyenangkan saat bepergian dengan pesawat. Mungkin saat itu pesawat sedang mengalami turbulensi. Pada tingkat tertentu yang cukup parah, tentu turbulensi ini membahayakan keselamatan.

Rasanya tidak asing dengan istilah turbulensi jika kita bicara tentang pesawat, tentang penerbangan. 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, turbulensi adalah sebuah gerak bergolak tidak teratur yang merupakan ciri gerak zat alir. Sebuah ketidakberaturan itulah inti dari turbulensi menurut saya
.

Hal ini bisa saja kita alami dalam perjalanan kehidupan. Saat merasa sisi kiri kanan sempit, tidak stabil, membuat limbung dan hampir membuat kita terjatuh, saat merasa tubuh ini bergetar terhadap apa yang terjadi, maka kita seakan-akan mengalami turbulensi. Saya memberi sebutan kondisi seperti ini adalah sebuah turbulensi kehidupan. 

Kejadian ketidakberaturan, ketidakstabilan yang dialami karena hadirnya faktor dari dalam maupun luar diri kita. Pijakan harus diperkuat, cara berpikir harus diubah, kreativitas mesti diasah dan energi harus dikeluarkan agar tercapai kembali sebuah keteraturan. Turbulensi kehidupan bukanlah hal yang harus ditakutkan, namun dinikmati karena didalamnya kita akan merasakan sebuah lompatan-lompatan energi yang tinggi.  

Jika seorang pilot pesawat menyatakan bahwa turbulensi adalah bagian dari terbang, maka saya beranggapan bahwa turbulensi juga bagian dari kehidupan. Tidak nyaman namun akan bergerak menjadi nyaman, tidak stabil dan akan bergerak ke arah yang lebih stabil. 

Energi positif biasanya akan melompat dengan dahsyat dalam sebuah ketidakberaturan. Semakin dekat dengan-Nya, merasakan rasa syukur yang dalam dan hidup akan terasa lebih hidup. Mari hadapi dengan tenang jika saat ini anda sedang mengalaminya. Tidak berbahaya, akan membuat hidup menjadi lebih hidup.

Minggu, 20 Agustus 2017

Sekali Dayung, Tiga Pulau Terlampaui


Dok: Kaka Emma
"Bulek, kita jalan ke Pulau Tiga yuk”. Begitulah Mbaim memintaku untuk  membuat short trip di sekitaran Banten.  Waktu yang tersisa dalam minggu ini adalah tepat di tanggal 17 Agustus. Hanya punya waktu dua hari untuk mencari  penyuka bolang  dan mencari  informasi  tentang biaya sewa kapal serta rutenya.  “Minimal ada lima orang, kita berangkat.” 

Mbaim sepakat.  Mulailah berkirim pesan singkat ke Cikwen,  Badui serta Kakak Emma. Jawabannya Iyesss!!  Ternyata  Nong Yuni pun libur. Horeee jadilah jumlah minimal terpenuhi.  Bakalan tambah seru jika ada yang mau bergabung lagi. 

Dan kita senang banget saat Mak Vera nan cantik mau piknik ala-ala. Lalu ada Claudia Bella alias Nong Bunga. Ahaaaiii...para Nong Banten sepakat piknik bareng. Kami tidak seluruhnya saling mengenal tapi itu akan membuat perjalanan makin asik karena punya teman baru.

Selasa pagi bertelepon dengan Pak Arifin.  Pemilik kapal yang bermarkas di Dermaga Karangantu. Sssstttt..ini bukan dermaga para hantu yaak. Dermaga ini merupakan dermaga yang terletak di wilayah Kasemen, Serang  dan merupakan dermaga untuk pergi ke pulau-pulau di sekitaran Banten. Harga pun cocok, sewa kapal Rp. 400.000 untuk trip ini. Dan saya katakan bahwa akan merapat di sana sekitar pukul  08.30 bersama pasukan lengkap. Para juara Nong Banten tingkat RT

17 Agustus, pukul 07.30 pagi satu persatu memasuki  lapangan eh halaman rumah hijau. Tapi bukan untuk upacara, melainkan sebagai  tikum alias titik kumpul.  Absen logistik berjalan.  Mie goreng, nasi, serta  aksesoris makan siang sudah siap masuk kotak. Cikwen ahli perpudingan. Nong Banten lainnya bersiap dengan aneka cemilan. Maklum lah, pasukan ini kelompok piranha, semua suka hahaha.

Drama pertama dimulai. Nong Banten yang sumringah belum datang. Cindy Claudia Bella alias Bunga mulai ngantuk. Posisi duduk tegak bergeser satu persatu. Nong Mbaim dimanakah dirimu? Semua cemas, khawatir Mbaim terjebak harus bantu peserta upacara yang pingsan. Atau jangan-jangan sedang bantu Pak Polisi atur kemacetan. Mbaim suka gitu wkwkwk.  

Hampir  pukul sembilan, suara motor dan ketawa khasnya terdengar sejak dari pagar. Akhirnya Mbaiim datang juga. Alhamdullilah  yang kita khawatirkan tidak terjadi. Mbaim baik-baik saja.


Bismillah, kami berangkat! Eeits tak lupa foto sebentar. Wajah belum terpapar terik matahari. Oh iya, untuk piknik kali ini kami sepakat ber-angkot ria. Untuk menambah keakraban hahaha. Kalau bawa motor kan jalannya sendiri-sendiri. 

Angkot biru pun mengantar kami menuju Karangantu. Rp.100.000 mengantar kami hingga ke dermaga. Masyaallah, jangan ada yang lupa. Satu Nong Banten setia menunggu di halte PCI. Kaka Emma, yang terkenal dengan senyum manisnya.

“Miriiiiiip buleeeek!!” Mak Vera dan Cindy Claudia ber-Bunga teriak kompak saat Kakak Emma masuk ke angkot. Aku terbengong-bengong. Apa yang membuat kami mirip ya. Ah sudahlah, sepertinya kedua temanku ini kena halusinasi. Di dalam angkot perkenalan pun dimulai. Hai..hallo..hai...!! Bunga pun adalah teman baru bagiku. Meski sering mampir di wall namun kami tak pernah bertemu.

Perjalanan berlanjut. Menuju Kramat Watu, lalu berbelok ke kiri. Pak Arifin berkirim pesan dan bertelepon. Sepertinya beliau mulai cemas, penyewa kapal tak muncul dan tak ada kabar berita. 

Rute agak berubah sedikit, karena jalan yang biasa dilalui sedang ada pengecoran beton. Dan kami tetap menikmatinya meski jadi berputar melewati persawahan serta kebun. Pemandangan yang cukup membuat mata teduh karena hijaunya pematang sawah.

Angkot merapat dengan sempurna di Karangantu. Pak Arifin sudah menunggu. Bertegur sapa lalu langsung membeli tiket ke Pak Candra. Beliau adalah pengelola Pulau Tiga dan Pulau Empat. Di sini, kami harus membayar 15 ribu rupiah untuk tiket masuk ke dua pulau tersebut plus gratis saung untuk beristirahat. 

Para Nong Banten pun mulai naik ke dalam kapal. Pak Syafei menjadi nahkoda kapal.  Mandiri adalah kapal yang akan digunakan untuk berlayar. Cocoklah dengan para penumpangnya. Perempuan-perempuan yang masih sendiri. Upps! Pak Arifin melepas kami dengan lambaian tangan. 


                                                                   Siaaap melaut!!

Tanpa ada ombak, angin pun malas untuk hadir. Laut sangat tenang. Terik matahari mulai terasa. Perjalanan berlayar sekitar 40 menit menuju Pulau Tiga. Pulau terjauh dari 3 rangkaian kepulauan.  Cikwen mulai cari posisi untuk tidur, Nong Bunga membuka bekal dan langsung diserbu. Tandas dalam hitungan menit. Apem coklat gula aren. Enaaaak banget dinikmati dengan parutan kelapa.


Ahamdulliah, kapal merapat. Senaaaaang banget begitu sampai di Pulau Tiga. Celetukan sana sini ada saja yang dibuat oleh para Nong Banten ini. Lapaaar adalah yang paling utama. Hahaha. Perjalanan berlayar yang sebentar ini sudah membuat para Nong Banten hipoglikemia.

Buka bekal pun di mulai. Lengkaaaappp!! Terpenuhi gizi seimbang hahaha. Ada buah apel, lengkeng, karbohidrat dan protein. Hidangan penutup berupa puding mangga dan coklat pun buatan  Nong Banten Cikwen membuat teriknya matahari menjadi sedikit lebih dingin. Nyeesss dinginnya sampai ke hati.

Dok: Kaka Emma





Selesai makan siang, Nong Yuni menyodorkan potongan mangga muda. Woooow! Rasa asemnya membuat wajah Mak Vera berubah. Nong Yuni spesialisasi mengupas mangga terutama mangga dengan ukuran besar. Kebetulan mangga yang dipetik dari rumah ini ukurannya memang jumbo. Mungkin seukuran 34B eeeh...duh kok jadi bicara ukuran yak. Hmmmm, para Nong Banten memang suka begitu.


“Sudah siap?” tanyaku. Siaaappp! Kami berjalan menuju jembatan asmara. Entah mengapa namanya begitu. Mungkin yang membuat jembatan ini sedang LDR-an. Kaka Emma menjadi fotographer handal kami. Abadikan setiap momen dan sabar menerima aneka permintaan. Jarum jam bergerak lewati angka satu. Okey! Eksplore Pulau Tiga disudahi. Pemandangannya yang cantik sudah terekam dalam puluhan foto kami.









Dok : Kaka Emma
Berkemas untuk sholat. Beberapa masih jeprat-jepret di berbagai sisi Pulau Tiga. Para wisatawan yang datang ada yang asik bermain kano, ada juga yang snorkling. Kami memutuskan untuk tidak bermain air di sini. Sebelum pulang, air kelapa muda yang segar membasahi tenggorokan yang kering. Cukup 10 ribu untuk satu butir kelapa muda.

Oh ya, kami sempat menegur sekelompok pemuda yang meninggalkan sampah di saungnya. Daaaaan, teguran kami berhasil membuat mereka berbalik arah, memungut mantan eh bekas air mineral serta bungkus plastik makanannya. Mereka diam di sana, tak beranjak. Kami tertawa kecil, berhasil membuat mereka untuk tidak tinggalkan sampah. Begitulah pemuda, sering banget tinggalin mantan seenaknya eeh maksudku tinggalin sampah J.

Perahu bergerak tinggalkan Pulau Tiga.

Pak Syafei beraksi. Kami pasang posisi agar matahari yang bersinar sangat lucu ini tidak terlalu memapar kami. Kurang lebih 15 menit-an nampak pulau yang kami tuju. Horeeee kami sampai di Pulau Empat. Rencananya kami tak turun, tapi beberapa orang di sana melambaikan tangan ke arah kapal kami, seakan meminta untuk merapat.

“Lhaaaa, itu teman-temanku! Teriak Kak Emma. Kita turun...kita turun!!

Wajahnya sedikit panik dan terkejut. Beruntunglah kami mendarat di sini. Teman-teman Kak Emma ini menjadi malaikat penolong saat kami mulai berhalusinasi minuman dingin.  Gelas sampai berembun dan terbayang kulkas dengan segala isinya yang serba dingin. 

Taraaaa!! Mereka memberikannya. Beberapa botol minuman dingin langsung diberikan di tangan kami. Termasuk buah semangka. Ukurannya besar banget. Mungkin lebih dari 72B. Nong Bunga sampai mengerahkan sekuat tenaga untuk membawanya. Teman-teman Kak Emma yang berwarga negara Korea ini seakan bisa membaca pikiran kami. Atau mungkin wajah kami bertuliskan “haus..haus”.  Super, luar biasa saat apa yang kami bayangkan tiba-tiba ada di tangan kami.

Momen yang sangat jarang ini tak lupa untuk diabadikan. Wajah ceria terlihat dari kami saat menerima hadiah dan mengucapkan gamsahamnida. Begitu pun mereka, tak henti-hentinya memfoto kami. Entah apa yang menjadi daya tarik dari kami ini. Hahahah.

Suasana Pulau Empat?


Waaaah, damai.....tenang....bersih...tak ada sampah. Kami tak lama di sini karena banyak paparazi mengambil foto Kak Emma. Dan Kak Emma pun jadi sedikit gagal fokus karena tak disangka bertemu team kerjanya di sini. Para Nong Banten ini pun naik perahu lagi. Menuju Pulau Lima.  Pulau ini berbeda arah dengan Tiga dan Empat. Namun lebih mendekati ke arah pulang. Semangka merah pun disantap di perahu. Nikmat tiada dua. Bayangkanlah eta terangkanlah..., di tengah laut ada semangka merah dan dingin. Luaaar biasa. Rezeki anak yang sedang berusaha solehah.




Okey, mari kita lanjutkan perjalanan ini.  Ada Apa di Pulau Lima?

Di pulau ini kondisinya tidak terlalu terawat, saung atau gazebonya banyak yang rusak. Sampah? Banyak banget. Berbeda sekali pengelolaannya dengan Pulau Tiga dan Empat. Untuk masuk ke pulau ini, setiap pengunjung dikenakan tarif Rp. 5000. Kami di sini makan untuk kedua kalinya. Tandaskan semua. Bersih. Ntappp!!

Di hari ulang tahun kemerdekaan rasanya menjadi hambar jika kami tak melakukan apa pun untuk memperingatinya. Yess!! Kami membuat video. Koreographer nan imut mulai beraksi. Latihan sebentar, lalu action!  Penuh tawa saat membuat video dengan durasi pendek ini. Ada saja kesalahan yang dibuat. Bendera belum berkibar, kaki terpotong, atau ada pula yang berinovasi sendiri dengan gerakannya. Hahahaha...,begitulah kami. 

Gak pake lama, cukup 3 kali cut jadilah video klip ala-ala yang mempesona. Tapiiii, ada lagi salahnya. Aku bersuara dengan sangat nyaring dan terekam dengan baik di sana. Hahahah...maafkan. Maklumlah biasa jadi pelatih senam, jadi bawaannya teriak-teriak. Para Nong Banten pun menggoyang Pulau Lima. Panasnya matahari tak goyahkan keceriaannya.




Dok : Kaka Emma

Jarum jam bergerak hampir tinggalkan angka 5. Nong Bunga masih harus bekerja shift malam. Kami pun bergegas tinggalkan pulau. Sebelumnya abadikan momen cantik dengan siluet senja di bibir pantai. Perahu pun bergerak kembali, menuju Karangantu. 





Sebelum adzan magrib kapal merapat di dermaga. Kami berjalan beriringan mencari angkot terdekat. Alhamdulillah, sampai di rumah sebelum pukul tujuh malam. Berpisah dengan teman-teman dengan membawa cerita tentang keajaiban dan keceriaan sepanjang hari itu.


Sekali dayung, tiga pulau terlampaui. Itulah kami, para pejalan yang slalu membuat cerita dalam kehidupannya. Terimakasih teman seperjalanan telah membuat semua momen menjadi indah untuk di kenang. Meski berkawan baru bukan berarti tak bisa membuat perjalanan menjadi dekat dan akrab. Karena pada akhirnya bukan lama atau sebentarnya kita saling mengenal yang membuat hati kita saling bertaut. Bukankah begitu?

Penasaran dengan perjalanan kami? Ada video hasil syuuuut model kondang kelurahan Damkar Nong Cikwen. Pasti serunya.





Rabu, 31 Mei 2017

Kriuk...Kriuk...Ku suka

Kamu suka ngemil kerupuk? Jika ya…mari duduk bareng di sini. Kita bercerita tentang kerupuk yuk. Mahluk renyah, gurih dan slalu rame saat kita gigit. Mungkin karena hidupku yang berusaha slalu ku buat renyah. Akhirnya kerupuk menjadi teman keseharian yang cocok, dan setia menemani. Sebuah filosofi kerupuk yang nggak banget ya. Kriuk-kriuk seperti hidupku.

Apa sih kerupuk itu? Jika kita intip dari kamus bahasa, kerupuk adalah makanan yang dibuat dari adonan tepung dicampur dengan lumatan udang atau ikan, setelah dikukus, disayat-sayat tipis atau dibentuk dengan alat cetak lalu dijemur agar mudah digoreng. Tapi bagiku kerupuk ya mahluk renyah, setingkat di atas keripik namun di bawah kerupak. Nah looo, apaan tuh?

Keripik itu makanan renyah, ukurannya kecil. Misalnya keripik kentang, keripik bawang, keripik tempe dan lainnya. Kerupuk ukurannya lebih besar sedikit dari keripik. Kerupuk udang, kerupuk ikan, kerupuk jengkol misalnya. Dan kerupak itu adalah kerupuk yang gedeeee ukurannya, jumbo segede wajan gitu deh. Eh.., ini definisi bebas yaa. Seperti halnya rengginang dan renggining J, tidak ada di kamus resmi, adanya di kamus Tati heheh.

Kerupuk hadir di toples baik di rumah maupun apotek. Dijadikan cemilan. Anehnya meski saya suka plus doyan kerupuk, saya tidak mau menggabungkan kerupuk dengan menu makan. Kerupuk adalah cemilan, bukan teman makan. Saya akan menggigitnya setelah makan selesai. Ribet jika harus dimakan dalam satu waktu.

Nah, di bulan puasa  ada satu kerupuk yang mendunia di Cilegon. Kerupuk yang ngetop sejak saya kecil. Harganya seratus rupiah perbuah, saat itu. Kerupuk mie namanya. Disebut demikian karena warnanya kuning dan bentuknya seperti mie. Dijajakan banyak di pinggir jalan saat bulan puasa seperti ini. Bisa dijodohkan dengan asinan, soto, atau sejenisnya. Namun cara menikmati kerupuk ini yang paling asik adalah menyiramnya dengan sambel bumbu kacang.

Oh iya, kerupuk mie ini tidak ada campuran ikannya. Agak sedikit keras, kenyal di bagian yan tebal tapi ini yang bikin tidak bisa berhenti dan bagian yang saya suka. Kamu suka juga kan?

Tadi sore saya melakukan ritual merendam kerupuk mie, persis saat puluhan tahun yang lalu. Beli kerupuk mie di tetangga yang secara turun temurun menjual kerupuk mie. Dengan harga dua ribu rupiah perbuah. Sambel bumbu kacang tentu disertakan sebagai pelengkapnya. Tempat berjualannya masih sama, seperti puluhan tahun yang lalu. Di meja kayu, samping mushola yang tak jauh dari rumah.

Ritualnya pun masih sama, namun kakak dan adik tidak ikut meramaikan secara nyata berebut tempat dan berebut kerupuk seperti waktu puluhan tahun yang tlah lewat. Sore tadi  saya menikmatinya di sebuah ruang yang kanan kirinya berisi rak obat, diapers serta pajangan lainnya. Meski begitu kerupuk mie ini tetap renyah dan ruangan pun tidak sepi karena saat adzan berkumandang, kakak dan adik ramai memberikan ucapan selamat di wa. Selamat berbuka, bulek!

Selasa, 07 Maret 2017

Praktis dan Pemanis di Pergelangan Tangan

Mulai menggunakannya sejak berseragam merah putih. Itu seingat saya. Tidak satu, namun tiga sampai lima buah. Berwarna-warni. Terbuat dari atom atau plastik. Dan selalu di tangan kiri. Sering kali kakak dan adik saya berkomentar dengan hobi yang sedikit berbeda ini. Penyuka perhiasan berbentuk lingkaran. 


Dulu Emak juga terheran-heran, karena anaknya yang satu ini suka dengan benda bernama gelang dan kadang tidak cukup satu. Berisik katanya jika tangan saya bergerak.

Kesukaan itu terus berlanjut. Satu gelang berwarna hijau pemberian kakak menemani lebih dari sepuluh tahun. Mungkin jika tidak jatuh dan pecah, masih digunakan hingga kini. Tidak sampai lama, saya mendapat gantinya dengan gelang yang lain. Masih berwarna hijau namun lebih muda warnanya. Dan masih pemberian kakak. Setiap kali bepergian ke suatu daerah dia tidak perlu repot membeli oleh-oleh untuk saya. Cukup gelang dan itu akan membuat saya tersenyum lebar.

Beberapa sahabat dan teman dekat pun demikian. Saat pergi melancong dan melihat gelang jadi langsung teringat diriku hahahaha. Namun yang sering menjadi masalah adalah ukuran pergelangan tangan saya cukup kecil. Pernah ada gelang yang saya dapat dari teman kuliah. Cantik terbuat dari rangkaian batu-batu kecil. Sayang, ukurannya kebesaran. Saya berusaha mengecilkannya namun gagal. Talinya putus dan….byaaaar, jatuh deh batu-batu mungilnya. Berantakan. Tamatlah gelang itu sebelum saya gunakan.

Ternyata kesukaan ini tidak berhenti meski sudah memasuki dunia kerja. Perhiasan berupa gelang tetap saya gunakan. Tentu saja tidak berwarna-warni jika sedang bekerja. Khawatir pasien yang bertemu menjadi gagal fokus melihat warna-warni gelang yang saya gunakan. Cukup yang tidak mencolok mata. Walaupun pernah juga kelupaan. Belum melepas aksesoris bermain saat memanggil pasien. Gelang aneka temali berwarna-warni. Begitu tersadar, perlahan saya lepas.
Gelang yang saya miliki sebagian besar memang pemberian dari sahabat.  Ada yang terbuat dari kain, anyaman tali, batu, kayu, dan lain sebagainya. Saya tidak terbiasa memadu padankan warna gelang dengan pakaian yang dikenakan. Suka-suka sajalah. Ketika saya ingin memakai gelang warna biru, kuning atau lainnya, yaa saya langsung pakai. Bagi saya semua cocok.  Selama saya suka, apa pun bentuknya.

Ada kisah di setiap gelang. Minimal saya akan mengingat nama pemberinya. Ada pemberian teman dari jauh. Ada pula yang saya beli sendiri saat melintas di sebuah etalase yang memajang aneka gelang. Berapa yang saya miliki? Tidak banyak. Kadang ada beberapa yang harus dimusnahkan karena talinya sudah tak kencang lagi atau bentuknya sudah tak layak. Oh Iya, saya pernah belajar membuat gelang dari tali-temali. Ilmu yang saya peroleh dari seorang kakak relawan yang super canggih tangannya. Meski tidak sempurna anyamannya, saya suka menggunakannya karena karya sendiri hihihihi.

Hingga kini pergelangan tangan saya tidak lepas dari benda berbentuk lingkaran ini. Rasanya aneh serasa ada sesuatu yang hilang jika saya tak menggunakannya sama sekali. Tiga gelang berwarna putih menemani keseharian, menjadi teman setia selama bertahun-tahun. Rupanya lingkar tangan ini pun konstan jadi tetap bisa digunakan. Hanya lingkar pinggang sepertinya yang berubah :D

Dan akhirnya perhiasan ini seakan menjadi ciri khas saya. Mudah sekali cara menggunakannya, gak pakai repot. Praktis namun menjadi pemanis heheh. Anda penyuka gelang juga? Atau ingin berbagi gelang? Saya dengan dengan senang hati menerimanya.