Rabu, 24 Desember 2014

Maksi di Dapur LaaBid :)

Kemarin siang, aku baca postingan teman lama (teman SMP) yg sedang promo warung makannya, naaah karena blum maksi dan liat menunya asik, pingin jg kesana, dan kebetulan banget lokasinya masih cukup dekat dari rumah. 
Nah, sblum berangkat kerja aku sengaja mampir, sekaligus ktemu temen lama. dan inilah yang terjadi :::::

Mas A   ::::: siang bu, mau makan bu...
Aku      ::::::iya mas, ada menu apa??mie ayam ada??
Mas A  ......Mie ayamnya kosong, adanya prasmanan nih...ikan bakar, ayam bakar, 
                 sambil memperlihatkan ikan bakarnya..
Aku     :::::::yaaaaah...pingin mie ayam nih , tapi okelah..mau ikan bakar plus urab 
                 (ternyata ada urab dan enaaak lhooo, cobain deh)
Mas A  ::::::silakan bu

daaaan akhirnya aku makan menghabiskan ikan bakar yg lumayan besar plus sambel mentahan..sambil lirik kanan kiri...manaa yaa temen aku ...kok gak keliatan. 

Mas A  ::::bu, minumnya apa??
AKu     ::::teh anget aja.................dan langsung disediakan olehnya

Selesai....aku mendekati dia di meja kasir
... berapa ya??.....17.000 jawabnya.. (murah juga, batin aku, karena ikan bakarnya segar plus besar, serius...cobain deh)
sambil menyodorkan selembar uang, aku tanya dgn suara agak pelan..
"mas..ini warungnya mas anom ya??...........mas anomnya gak ada yaa??



Dan.......kamu tau........jawabannya??...............Ini gw ..anom.., Tatiiiiii!!!....sambil tertawa renyah plus merasa kesal karena  semenjak aku masuk aku gak mengenalinya. 

Aku  Mati gaya sesaat
.....masa iya???akuuuuu benar-benar tdk mengingatnya....berubah bangeeeet........asliiiii aku gak mengenalinya...paraaah sekali ingatanku. 1991-2014 benar-benar melumpuhkan ingatan ku...........aku benar-benar gak kenal..

akhirrrrnyaaaaaaaaaaa...akuuu cuma bisa ngakak...lalu mengalirlah cerita ringan jaman sekolah dlu...,dan aku dikenalkan dgn istrinya plus 4 anaknya yg cantik dan ganteng. 

sukses yaa mas anom...........masih ngutang mie ayam ceker yaaa..heheh

Maksi kemaren bikin gw senyum2 sepanjang jalan.....pasti aku balik lagi, mo cobain mie ayam dan menu lainnya...yuuukk kesana yuuk....


Minggu, 21 Desember 2014

Dan Aku Memanggilnya Ibu

Tepat 40 hari setelah kepergian emak, maka saya menjadi  seperti  anak ayam yang kehilangan induknya. Tidak  tahu harus berbuat apa serta bagaimana menjalani hari-hari selanjutnya. Tidak ada emak, itu yang ada dibenak. Apa yang akan saya lakukan?
Beruntungnya saya karena setelah emak pergi saya masih memiliki ibu. Ya saya menyebutnya demikian Beliau tidak melahirkan saya tapi saya merasa selalu menjadi bagian dari keluarga kecilnya. Jangan tanyakan tentang kasih, serta perhatiannya.  Ibu benar-benar memegang teguh janjinya untuk menjaga aku dihadapan emak saat menit-menit Malaikat Izroil mulai mendekati emak

Malam ini saat saya menuliskan huruf-huruf ini, hujan turun dengan deras. Hp saya tak berbunyi karena saya ada dirumah. Jika saat hujan turun dengan derasnya dan posisiku masih di tempat kerja, maka sms pastilah berbunyi….”tat, hati-hati ujan. Pake jas ujan, jangan ngebut banyak lubang. Singkat namun dikirim dengan tulus, padahal sudah saatnya jam tidur.  Itulah ibu.
Belum lagi masalah makan.  Saya  termasuk orang yang sering telat makan, bahkan malas untuk makan saat dirumah terutama jika sedang banyak tugas. Pergi keluar membeli makan saat sudah masuk rumah itu maleeees banget, biasanya nahan laper diganti susu. Maka selain sms mengingatkan untuk makan, seringkali di pintu pagar sudah ada bungkusan berisi nasi, lauk, sayur, buah yang sudah dipotong dadu plus note kecil..’tolong dihabiskan”.  Ibu juga sering mengirimkan paket makan siang kalau kami lama tak bertemu, teman-teman  di tempat saya bekerja pun mengenalnya sebagai sosok yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Nikmat Tuhan Mana yang aku dustakan?. 
Saat  subuh tak jarang  masih sempat membangunkanku agar tak kesiangan sholat subuh terutama saat ibu tau semalam aku habis kerja lembur. Itu saja??....banyak lagi. Pernah saat hujan besar  ibu sangat khawatir aku terjebak banjir jika pulang dengan motor, dan aku meyakinkannya bahwa akan pulang dengan Taxi, tapi ternyata tepat jam 10 malam ibu sudah parkir depan lobby RS hanya untuk mengantarkanku pulang. 
Seharusnya aku tidak lagi merepotkan ibu dengan hal-hal tersebut, tapi kemandirianku terkadang rapuh saat aku harus melakukannya semua sendiri. 

Oya..,dulu saat emak ada maka setiap hari ulang tahun saya. emak akan masak nasi kuning walaupun sedikit lalu membagikannya kepada beberapa tetangga dalam piring-piring kecil, dan kebiasaan itu dilanjutkan oleh ibu, membuat nasi uduk, kue tart bahkan tumpeng disetiap momen bertambah umur.  Kado-kado kecil selalu hadir dipagi itu, termasuk ketika hari raya tiba, maka kado lebaran plus kartu pasti diletakannya di meja kamarku. Tak pernah terlewatkan, meski usia terus bertambah namun ibu tak mengurangi kebiasaannya. Ucapan, pelukan serta doa dipagi hari akan diuntai oleh ibu bersama dengan sarapan pagi.

Saat aku memutuskan untuk kuliah, maka akhir pekan tidak lagi menjadi kegiatan makan bersama. Biasanya sabtu atau minggu pagi diisi dengan sarapan tempe mendoan/tempe bakar, sayur bayam dengan wortel dan tentu saja sambel kesukaan ibu. 
Maka dengan kesibukanku yang setiap hari jumat-minggu di jakarta membuat seminggu….dua minggu..bahkan tiga minggu aku tidak berjumpa dengannya. Tapi sms, note kecil, bekal makan selalu hadir. Jadwal kerja yang sering tukar dines, tukar libur membuat aku dan ibu makin jarang bertemu. 
Berangkat kuliah disubuh buta, menunggu bis diujung gang rumah, saat gelap dan sepi tiba-tiba ibu sudah ada di halte itu dengan susu panas dan sekotak sarapan pagi. Bertambahlah pesan dan bekal saat aku harus menjalaninya di Ramadhan, karena berbuka di jalan, sahur dikostan dan tentu saja ibu yakin aku terkadang malas untuk makan. Ahh...aku sedih mengingat itu semua. Beberapa bulan lalu saya sudah lulus kuliah, namun saya belum memberikan arti yang berbeda kepadanya. Begitu banyak kasih yang ibu berikan, dan aku belum membalasnya, bahkan mungkin tak akan pernah bisa. Ibu juga yang melakukan kebiasaan emak saat masih ada. Berpuasa saat aku ujian, berdoa lebih panjang diatas sajadah itu saat aku bercerita bahwa aku ada masalah entah masalah pekerjaan ataupun saat  tugas kuliah yang tak kunjung selesai, atau saat tiba-tiba melihat aku bersedih. 

Dan ternyata akhir tahun ini tujuh tahun sudah aku didampingi ibu. . Tentu dalam perjalanan waktu 7 tahun ini tubuh saya tidak selalu sehat, pernah kena types yang mesti bedrest, pernah jatuh dari motor karena menyalib  bis dan salah perhitungan sehingga terpental, pernah demam tinggi, dan ibu adalah orang yang pertama kali sibuk untuk ke dokter, bawa nasi tim, beliin buah plus susu beruang bahkan ibu juga yang merawat saya ketika saya gak mau dirawat inap, tapi memilih istirahat dirumah. Ibu selalu menjadi orang pertama yang ada di handphoneku saat seperti itu. 

 Oya…kalo ibu pergi jalan-jalan atau keluar kota maka oleh-oleh sudah pasti aku peroleh.  Dari makanan kesukaanku sampai pernak pernik yang aku suka ibu tahu banget. Bros cantik, blus unik, tas casual bahkan buku menjadi oleh-oleh dari ibu. Beliau hapal sekali dengan semua yang kusuka bahkan hingga detailnya. 
Hingga hari ini, saat usia saya terus bertambah ibu tidak mengurangi perhatian maupun kasihnya. Walau kesibukan kami membuat jarang bertemu. 

Hal yang paling menyedihkan adalah saat ibu sakit, dua tahun lalu lutut ibu bermasalah, pertumbuhan tulang rawan serta kurangnya cairan di tempurung membuat ibu susah berjalan. Tak tega rasanya melihat ibu berjalan terseok-seok, tak mampu lagi bawa mobil, berjalan cepat. Semuanya harus pelan-pelan, bahkan ibu sudah tidak ke dapur lagi karena ibu gak kuat berdiri lama-lama depan kompor. Kesedihan bertambah saat dokter bilang harus operasi. Tapi bukanlah ibu jika tidak mempunyai semangat yang kuat, ibu mencari dokter lain hingga Jakarta, menjalani terapi berkali-kali dalam seminggu, rajin minum obat, dan mulai mengurangi aktivitas. Ibu tidak lagi jogging, tidak lagi aerobic, ibu hanya berenang. 
Sediiiiiih rasanya saat kami menyaksikan pameran/ festival di Monas (aku waktu itu pingin banget liat festival tsb) ibu tidak banyak berjalan, hanya duduk menyaksikan pawai festival kerajaan. Saat ibu harus sholat di Istiqlal dalam keadaan duduk, aku tidak menangis dihadapannya. Namun sebenarnya seddiiih tiada tara. Tenaganya habis untuk kami semua. Nah....ini foto ibu waktu liat festival kerajaan di Monas. Kesampean juga akhirnya saya ke Monas :)

Ibu itu bagi saya tidak hanya supel, pintar masak, pintar berkomunikasi, pintar bertutur dengan tulisan, lincah, gesit, namun juga ibu itu atlet, serius loh….ibu suka banget berolahraga, jangan kaget menemui beliau di kolam renang pukul 06 pagi saat saya masih ditempat tidur. Saat emak masih ada, ibu juga yang mengurus sekolah, ambil raport dsb,dan tugas itu terus berlanjut sampai kemaren waktu lulus kuliah, wisuda sampai sumpah profesi. Apa yang sudah saya berikan untuknya? Belum ada. Ingin ibupun tak kunjung saya penuhi. Ibu ingin saya segera menentukan dengan siapa akan berbagi kehidupan, ibu ingin saya tak lagi sibuk dengan berbagai kegiatan tapi mulai menata kehidupan. Ya..walaupun itu keinginannya, ibu tak pernah memaksa. Sekedar berbagi ingin, selebihnya ibu banyak berdoa untuk semua kebaikan saya. Ada pesan ibu beberapa bulan lalu, mengingatkan saya sebagai perempuan yang jika terpaksa dan harus memilih maka akan lebih damai ketika dicintai oleh pasangan kita daripada kita yang mencintainya. Ibu sepertinya punya indra ke-enam karena berpesan seperti itu. Maaf, yaa ibu,  jika 9 hari lagi saat matahari menyapa di tahun 2015, saat usiaku mulai bergulir maju lagi, saat semua beranjak menuju perubahan, saya belum bisa melakukannya. Tapi saya akan terus berusaha memberikannya untuk ibu, walau saya tak tahu kapan terjadinya. 

Bulir-bulir bening terus berjatuhan saat saya menuliskan ini, terbayang wajah ibu dari 7 tahun yang lalu saat saya masih memanggilnya dengan sebutan teteh, lalu berubah menjadi ibu, karena beliau ini adalah kakak tertua saya. 
Dengan semua yang diberikan_Nya, pantaskah saya merasa tidak beruntung dalam kehidupan ini dengan semua yang telah terjadi. Sekali-kali tidak. Walau kadang rasa itu melintas, maka saya cepat-cepat memangkasnya, menikamnya. Saya adalah manusia beruntung, tidak ada kata sepi meski melewatinya sendiri. Semua begitu menyayangi saya, sapaan pagi hari selalu ada. Putra-putrinya diajarkan untuk sopan terhadap bule-nya.

Ibu slalu hadir kapanpun saya membutuhkannya. Tidak hanya untuk saya tapi kami semua lima bersaudara plus tujuh generasi penerus cucu nenek kakek yang mulai besar. Waah tak terbayangkan jika saya tidak mempunyai ibu, mungkin hidup saya tidak akan berjalan normal seperti sekarang. walau saya tidak pernah meminjam ruang di tubuh ibu, namun peran ibu menemani tujuh tahun ini teramat sangat berarti.
Untuk semua yang telah ibu lakukan, untuk semua ingin yang belum terpenuhi, maka saya hanya bisa membuat untaian doa, mengirimnya ke langit agar Arasy terguncang dan mengabulkan pinta kami semua. Sehatkan ibu, panjangkan usianya, dan selalu semayamkan rasa bahagia disetiap detik kehidupannya. Aamiin. "selamat hari ibu" 

Sabtu, 06 Desember 2014

Menghirup Oksigen di Curug Cihurang dan Cigamea Bogor

Sudah malam minggu lagi nih, dan teringat malam minggu yang lalu saat saya merencanakan pergi ke Bogor bersama  tim bunder.  Tim ini anggotanya bunder-bunder hahaha  kecuali saya.  Malam itu kami chat bersama sekadar mengobrol ringan, eeeeh ternyata kita sepakat untuk jalan di minggu pagi mencari oksigen diluar  Jakarta. Bogor tujuan kami. Sekitar jam setengah tujuh pagi saya dan bang Zul bertemu di Kebon Jeruk, lanjut ke rumah mbak Dian di daerah  Srengseng untuk sarapan pagi. Mbak Dian ini jago masak, jadi sengaja saya gak sarapan dari rumah hehe. Lupa arah menuju Srengseng  taksi muter-muter sebentar akhirnya sampai juga di Gang Mandor Salim. Mendoan, teh anget, plus mie goreng lengkap dengan udang bakso sudah menunggu untuk disantap. Selagi sarapan ketua tim datang dengan jagoan ciliknya. Utha namanya, baru 3,5 tahun, lucu dan suka ngoceh.  Menyelesaikan sarapan lalu kami semua pamit berangkat menuju  Bogor.  

Jalanan Lancar, obrolan dimobil diisi dengan rencana ingin mengadakan seminar yang tidak 100% berbau obat. Seru karena akhirnya ide-ide gila bertebaran. Ditambah cerita seputar kuliah beberapa tahun yang lalu, maka perjalanan menjadi tidak terasa.  Saya pernah mengunjungi  tempat ini  5 tahun yang lalu, namun tidak ingat arah yang pasti karena banyaknya pertigaan selama perjalanan. Yang Pasti saya harus masuk kawasan IPB Dramaga dulu baru tanya jalan menuju Cibatok lalu masuk desa Pamijahan. Kita ingin main air di curug seribu, curug yang terletak di kaki gunung salak. Ada beberapa curug disana, dan kita penasaran dengan curug yang paling tinggi dan banyak yaitu curug seribu. Tepat menjelang makan siang, kita sampai di Kawasan Wisata Gunung Salak Endah. Segeeeeer banget, udara siang tak terasa, yang ada kita pingin banget berjalan kaki sambil mengambil napas dalam-dalam. Pohon-pohon rindang dan besar disisi kiri kanan, dan sudah pasti mobil kita parkir sebentar untuk mengambil gambar. Oya untuk masuk kawasan ini, tarif masuknya Rp.5000/orang dan Rp.10.000 untuk mobil yang kita gunakan. 
Tepi jalan pintu masuk Kawasan G.Salak Endah
                                          
Utha baru bangun dan langsung ikut poto :D
        Selesai ambil gambar, kita lanjut lagi dan semua langsung berteriaaaak….Kereeeeen…mauuu Potooo…saat  melintasi hutan pinus. Mobil parkir lagi dan kali ini tidak sebentar karena tempatnya Indah sekali, utha pun ikut sibuk take a picture. Utha ini seneng banget kalo difoto, mirip dengan bundanya, mirip juga dengan tante-tantenya heheh.  Ayoo sudah selfienya..kapan nyampe curug nih…bang Zul mengingatkan kita semua. 



Hutan Pinus yang Menggoda
Bergegas masuk mobil dan mulai terlihat banyak tanda panah dengan nama-nama curug. Kawasan ini memang terkenal dengan banyaknya curug alias air terjun. Kita putuskan untuk ke Curug Cihurang, cukup jalan kaki sebentar tanpa naik turun, curug sudah terlihat. Utha masih takut untuk foto disini, sedangkan bundanya plus tantenya sibuk ambil gambar. 

Berpose di Pintu masuk Cihurang

bunda Winda bebaaas euuy

Airnya jerniiiihhh pingin mandi
Curugnya tidak terlalu tinggi namun tetap indah. Ada dua air terjun di curug cihurang ini. Jernih sekali, airnya sudah pasti dingiiiiin......Kami tidak lama disini, karena kita ingin menuju curug seribu, yang tingginya mencapai 100 meter. Curug ngumpet dan Pangeran kita lewati. Rintik Hujan mulai turun, bertanya kepada penduduk yang kita temui arah menuju curug seribu. Ternyata kami tidak disarankan kesana, selain jarak tempuh yang cukup jauh  (berjalan 2 km) ternyata banyak pohon tumbang karena hujan saat itu diikuti angin besar juga. Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti sarannya. Dan perjalanan dilanjutkan menuju curug cigamea. Angin dan sejuknya udara gunung tambah terasa, dingiiiin….breeeer…tempat parkirnya sangat luas, dan ternyata untuk mencapai curug kita mesti  naik turun tangga. Sempat take a picture dipintu masuk, lalu kami bersiap untuk menuruni anak tangga yang lumayan jauh. Dari ketinggian saya bisa melihat curug yang tersembunyi di tengah rimbunnya pohon-pohonan. Indah sangat. 


Utha...jalan naik turun tanpa gendong
Tak sabar ingin segera sampai…..eeeeh  hujan menderas, menepi sebentar dan akhirnya memutuskan sambil menunggu reda mencoba terapi dengan ikan. 
Sempat ragu karena takut akhirnya perlahan kaki mulai menyentuh air dan woowwww..geliiiiii..karena ikan-ikan kecil langsung berkerumun membersihkan sel kulit mati. Akhirnya jadi berani, kaki kiri lanjut masuk ke air. Senang…murah hanya Rp.5000 sepuasnya. Setelah bersih, ikan-ikan tersebut mulai menjauh.  
terapi ikan, pingin lagi deh
Bersamaan dengan selesainya ikan memangsa sel mati di kaki, hujan reda, mentari bersinar. Lanjut turun tangga. Utha bocah cilik yang kita khawatirkan minta digendong ternyata tidak sama sekali digendong. Sepanjang  menuruni anak tangga bernyanyi, juga berdoa…lucu sekali  si utha ini. Mungkin seperti papahnya, karena bundanya gak lucu sama sekali hahaha.  Derasnya air terdengar semakin jelas, kereeeen banget begitu curug didepan mata. Ingin rasanya langsung berada di kolam jernih dibawah air terjun namun petugas berulang kali memberi peringatan untuk tidak mendekati kolam besar dibawah curug karena bahaya longsor. Melihat pesona curug dan segarnya udara sudah pasti mengabadikan pemandangan curug dari segala sisi. 



Belum puas namun hari mulai sore dan perjalanan kami masih jauh, Jakarta lanjut
Cilegon maka kaki mulai melangkah meninggalkan curug ini. Saya dari berjalan didepan sambil ngemil kripik kentang, udara dingin membuat mulut harus sering mengunyah hahaha. Terkejutlah saya, tiba-tiba 3 ekor monyet berada tepat hanya beberapa langkah dari saya berdiri. Saya dan teman-teman baru mengetahui jika di curug ini banyak monyet dan akan keluar  rimbunnya pohon jika tercium bau makanan. Mbaa..mbaaa..jangan dibuka makanannya..teriak penjual saat mengetahui ada beberapa ekor monyet keluar dan menghadang jalan kita. Segera saya menyingkirkan bungkus keripik kentang, pucat wajah saya karena ternyata tidak hanya 3, beberapa ekor monyet turun lagi, ada juga yang menggantung di dahan-dahan.  Akhirnya makanan tsb saya simpan diwarung, lalu beberapa pengunjung memberanikan diri menerobos monyet tsb, dan berhasil….monyet-monyet menyingkir. Waaaah….ketakutan berakhir. 
tuh...ada monyetnya....
Masih ngos-ngosan alias cape karena kali ini bukan turun jalannya tapi naik, dibilas dengan sebotol air mineral. Semilir angin membuat malas untuk pulang, tapi kami harus pulang. Dari arah pintu parkir kami ambil kanan, sehingga kami akhirnya keluar menuju jln raya cibatok dengan arah yang berbeda saat datang. Kami melingkar membentuk huruf  O, Bunder…atau bulat yaa….mungkin ini yang menyebabkan dinamakan G.bunder. Curug Cihurang menjadi curug pertama dan curug Cigamea menjadi curug terakhir karena kami masuk dan keluar kawasan wisata ini dari arah yang berbeda. Menyenangkan, ada yang terlewat sehingga terpikir kapan-kapan balik lagi yaitu ke situs kuta, sebenarnya kami sudah melewatinya namun kami lewatkan, saat pulang hendak mampir waktunya sudah tidak memungkinkan.
Perut mulai berbunyi, tanda laper lagi. Pisang keju, keripik, aneka snack, sudah tandas semua. Semula kami akan makan malam di Pepes Patin di Kawasan Bogor namun karena macet kami batalkan dan beralih ke Sentul, makan sate plus gulai. Cepat tandas, karena memang lapernya mulai naik status dari siaga menjadi waspada hahaha.
Jam 8 malam kami semua berpisah, Bang Zul ke BSD, saya ke Cilegon, Tante Dian ke Kebon Jeruk, dan Utha lanjut ke Ciledug.
Lelah dengan one day trip Curug G.Salak, tapiiiiiii segarnya masih terus bertahan dimata. Sejuknya terasa dan hijaunya pemandangan disana membuat lelah menjadi terbayar. Terimakasih teman2 untuk short tripnya, januari kita bikin  lagi yak…Situ Gunung Yuukkkk hahah, special thanks buat bunda winda yang rela pake salonpas kirikanan depanbelakang buat kita semua. Anda layak dapat SIM A plus-plus hahahaha.