Minggu, 16 Agustus 2015

Terkenang Kolam Raksasa di 365 Hari Yang Lalu

365 hari yang lalu, di malam yang sangat pekat karena tak tak ada aliran listrik, aku bermalam di pulau kecil yang terpencil dengan aliran listrik yang terbatas, pulau ini merupakan daratan yang paling dekat dengan Gugusan Krakatau dan turut menjadi saksi kedahsyatan letusan besar Krakatau tahun 1883. Pulau Sebesi, nama pulau yang aku tinggali selama semalam. 
Berdasarkan hasil googling nama Sebesi kemungkinan berasal dari bahasa Sansekerta, Sawesi (Savvesi).
Malam yang tak panjang, karena sebelum pukul tiga dinihari kami sudah harus bangun bersiap untuk mengarungi samudra menuju anak Gunung Krakatau. Mengejar matahari yang akan terbit disana. 

Tidur saat mata belum mengantuk, karena baru saja menyaksikan malam peringatan hari kemerdekaan di pulau ini, sambil santap malam. Namun mata harus terpejam agar esok tidak perlu mata lelah apalagi mengantuk. Suara alarm dan panggilan dari pintu pagar membangunkan kami. ‘Tolong nyalakan lampunya kak, pinta saya karena gelap sekali. "Dek, jatah lampu menyala sudah habis”, jawab kaka cantik. Masyaallah…,aku lupa, di pulau ini lewat dari pukul 12 malam maka listrik akan padam. Dalam gelap kami berkemas, sinar dari lampu senter tak begitu kuat. Kaos kaki, jaket dan tas kecil sudah siap. “sudah siap?....teman-teman lain saling bertanya. Bismillah, pintu kami buka dan ternyata suasana di luar rumah lebih mengasikkan, semua bergegas keluar dari home stay, menuju pantai. Begitu pula aku dan teman-teman.
kondisi setelah porak poranda
Belum pukul empat pagi, kami semua dipastikan sudah masuk ke perahu atau kapal yang akan membawa kami ke Anak Krakatau. Langit cerah, tak ada hujan. Besok pagi bendera akan berkibar disana. Kolam raksasa akan kami arungi, tak ada rasa khawatir atau rasa was-was sedikit pun, karena seharian tadi saat kami bermain ke Pulau Sebuku, Pulau Umang semuanya Nampak bersahabat, ombak dan angin menyambut kami dalam ketenangan. Semua sudah dalam posisi yang nyaman, angin laut terasa sangat dingin, berdoa sesaat sebelum akhirnya kami berangkat. 
saat ombak siang bersahabat
Temanku Tongbro dan Mikha sudah di atap, begitu pula kaka cantik asik berbincang menatap lautan. Sarapan berupa nasi uduk dan telur yang sudah ada di tangan kami perlahan di buka. Waktu subuh belum sampai, aku dan teman-teman sudah membuka sarapan, tawa dimulai saat kami bergeser-geser mencari posisi yang nyaman. Dekat saya ada mbak Dian, Pipit, Cikwen, Bang Derry dan di ujung ada Bang Indra teman seperjalanan. Di  sisi yang lain ada kak Dewi, Ocha, Bang Zul dan lainnya. 

Suapan pertama sudah mulai bergerak ke lambung, dan tiba-tiba, kapal bergoyang. Pelan lalu mulai kencang, angin menyambut kami dengan amukan, ombak pun seakan dibangunkan dari tidur malamnya karena suara mesin kapal kami. Kapal oleng bertambah kencang, Nahkoda melaju tanpa lampu. Langit malam yang awalnya cerah mulai menurunkan beban air di awan. Teman lain sudah mulai berteriak, aku hanya diam lalu mencoba berganti posisi tidak lagi duduk, namun tiduran di sela- sela teman yang lain. Rasa takut sangat menyelimuti diri saya di pagi itu, gelap sangat gelap. Dzikir, tahmid mengalun dari mulut kami sejadi-jadinya, teriakan Allahu Akbar pun terdengar. Ombak mengganas, badai datang. Aku sudah tak ingat siapa-siapa lagi, mataku terpejam. Ya Allah selamatkan kami ya allah. begitu kecil kapal beserta isinya di kolam buatan-Mu ya Allah. Satu persatu teman kami mulai mengambil pelampung orange. Saya masih memejamkan mata, hanya mendengar suara minta pelampung, lalu suara teman lain yang sama-sama ketakutan. Saya tidak berani melihat dahsyatnya badai itu menghantam kapal kami. Rasanya kapal ini berubahseperti layaknya  permainan Kora-Kora di Dufan sana, kadang tinggi lalu tiba-tiba turun dan oleng. Entahlah apa yang ada di benak teman lain, saat itu yang ada di kepala saya adalah saya dan teman-teman harus selamat, saya tidak ingin tenggelam disini ya Allah, begitu terus pinta saya. Terbayang wajah ibunda, wajah kakak dan adik saya, terbayang wajah teman-teman, Ya Allah hamba takut sekali. Teman kami yang ada di atas atap kapal, benar-benar merasakan dan melihat bagaimana ombak mengamuk mempermainkan kapal kecil ini, dengan para penghuninya yang benar-benar pucat pasi. Berpegangan kepada tiang atap kapal. Tak ada lagi senda gurau, yang terdengar adalah lantunan ayat-ayat Allah untuk melembutkan ombak, dan hujan. Goyangan oleh gelombang membuat isi perut pun ikut keluar. Muntah yang tak cukup sekali. Lama sekali rasanya aku berada di samudra ini, dimanakah bibir pantai. Tak Nampak kah oleh nahkoda.

pelaku :D
Dan saat sinar mulai menerpa lautan, maka gelombang di lautan perlahan turun. Jaket dan semua pakaian basah tersiram air yang masuk ke dalam kapal saat dimainkan gelombang, tak peduli dengan sinar orange yang perlahan naik, aku dan teman-teman langsung sujud syukur dan memuji nama-Nya karena akhirnya berhasil menginjakkan kaki di bibir pantai ini, di kaki Anak Gunung Krakatau dengan pasirnya yang hitam. Beberapa teman masih lemas, setelah mengeluarkan isi perutnya berkali-kali. Mual, pusing baru saja berakhir. Sesaat aku dan beberapa teman hanya duduk memandang kapal kecil itu. Setelah semua jiwa kembali masuk ke dalam tubuh,   akhirnya aku mulai mencari matahari yang sudah mulai tinggi, dan bergegas masuk ke dalam kawasan Cagar Alam Krakatau. Pelan-pelan mulai mendaki anak Gunung Krakatau, sebuah gunung yang aktif, yang saat ini mucul di permukaan laut dengan ketinggian kuran lebih 300 mdpl. Sambil berjalan melewati hutan kecil, aku membayangkan Krakatau yang meletus di tahun 1800an dengan dahsyatnya.

Keindahan pulau sebuku, sebesi, umang dan lainnya Nampak jelas saat aku memandangnya dari puncak. 
Terbayar sudah rasa takut yang melumuri tubuhku subuh tadi. Saat aku dibuat diam tak berkutik selama perjalanan. Maha Suci Engkau Ya Allah, semuanya indah. Itu yang keluar dari bibirku saat berada di puncak melihat indahnya, tenangnya lautan, yang mengelilingi pulau-pulau itu. 
Puas mengambil gambar, dan tak lupa berfoto dengan bendera karena hari itu tepat tgl 17 Agustus, kami merapat melakukan upacara kecil. Mengingat sedikit perjuangan para pendahulu kami. Teksturnya tanah yang berpasir dan berbatu membuat aku sempat terjatuh beberapa kali saat kaki bergerak turun. 




Hari belum siang, namun matahari sangat puas memancarkan sinar teriknya. Rencana mengitari anak gunung dibatalkan, dan kami sepakat mengamininya karena ombak untuk berputar cenderung belum tenang. Batalkan saja pinta kami. Lebih baik ke Legon Cabe, untuk melihat alam bawah lautnya, tepat di bawah gunung Rakata. Rasa khawatir masih ada dihati kami, jika harus berlama-lama di kapal kecil ini.
sayonara



lelaaaaaah
Bergerak kapal kami meninggalkan Krakatau, Cikwen yang berada di sebelah sudah tidak merasa mual. Maka kami pun siap bersenang-senang. Dan Wooooooow indaahnya, ketika nahkoda mulai mematikan mesinnya, tepat di bawah kapal, aku dapat melihat dengan jelas ikan berwarna warni berkeliling di antara terumbu karang. Tanpa perlu menyelam aku dan teman-teman berdecak kagum menyaksikan ini dari atas kapal. "Ayoooo turun, "Bang Indra dan Derry bersuara. 
'Aku gak bisa berenang", jawabku. Gak pa-pa, semua gak ada yang bisa berenang, dan aku tahu dia berdusta hahaha. Cik turun yuk, ajak aku mencari teman. "Mikhaaa......, aku mau turun tapi pegangin yaa, teriak aku memanggil Mikha yang sudah asik bermain dengan ikan. 
Mas Rudi memberikan aku botol plastic berisi makanan ikan untuk disemprotkan saat aku turun nanti. Yesss….berani, batinku. Maka ku kenakan pelampung berwarna cerah itu dan byuuuuuur. Cikwen pun begitu. Lalu aku mulai merasakan kesukaan saat mata ini menatap ikan-ikan aneka warna berputar disekitar tubuhku. Senang sangat. 

kolam bercampur

Tetiba Cikwen naik lagi ke perahu, pusing katanya. Aku masih asik memberi makan. Tapi mengapa…..,saat aku tidak menyemprot botol ini ikan-ikan tetap berkumpul di sekitarku, ada makanan lain rupanya. Olahan lembut hingga ikan-ikan menyukainya. Aku tidak memperhatikan siapa yang memberi makan dari atas kapal. Semakin banyak ikan berkumpul di sekitarku, dan aku mendongak ke arah kapal. Aku langsung menjadi mual dan berteriak, cikweeeeeen…..jangan muntahin ke bawah.  Hentikaaaaaaaaaaaannn!!!
Ternyata ikan-ikan berkumpul dekatku karena tepat dari atas isi perut cikwen di keluarkan, dan aku berenang-renang di dalamnya. Haduuuuuuuuh, geuleuh dan entah apalagi yang ku rasakan, cik wen masih saja menumpahkan ke dalam lautan dan langsung disambut oleh ikan-ikan yang sepertinya sangat suka dengan nasi uduk olahan lambung cikwen sedari subuh tadi. Aku buru-buru menepi lalu mencari daerah yang bersih sambil menghilangkan rasa mual yang tiba-tiba datang. 
Bergegas naik ke kapal dan terbahaklah semua melihat aku dan cikwen berpandangan sesaat. Wajahnya pasi, mungkin banyak yang dikeluarkannya, urung tanganku mencubit pipinya. Mencoba membantunya agar tak mual lagi. Biarlah persoalan isi perut ini akan saya selesaikan lain waktu hahahahha. Rasanya ingin berendam cepat- cepat jika mengingat tentang kolam ikan ini beserta makanan halusnya. Ya begitulah aku dan dia, kadang terjebak dalam kekonyolan dan kebodohan yang membuat aku tersenyum saat mengingatnya di lain waktu. Dan saat tgl 17 ini, tepat 365 hari yang lalu, saya jadi ingat lagi tentang rendaman mujarab itu.
Menjijikan, menggelikan namun juga menjadi sebuah lintasan kecil yang susah untuk dibiarkan begitu saja, tetap ada di lipatan memori ku. Cikwen aku belum membalasnya yaaa. Ingat itu hahaahaahaaha.
Usai berendam dalam kolam raksasa, maka kami kembali menuju Sebesi dan bersiap untuk pulang. Mengarungi samudra kembali, namun kali ini lebih rileks karena tidak berlayar dalam kegelapan. Cikwen masih juga membuang olahan makanan lewat mulutnya, mbak Dian sudah tidak lagi. Sampai di Dermaga Canti, menyempatkan untuk makan karena perjalanan masih cukup jauh. Suasana sore itu berbeda tidak seperti saat pagi kemaren. Tidak ada lagi penjual pete dan pisang yang berlimpah. Semua bergegas mengejar kapal, dan berharap mendapatkan tempat yang nyaman seperti saat hendak berangkat, dan lagi-lagi kami bertemu dengan banyak pasukan ber-ransel bisa jadi ini kelompok yang sama-sama saat awal berangkat.

saat berangkat



  


 Dan malam ini, 365 hari yang lalu membuat aku menjadi berkurang keberanian berada di kapal kecil untuk menyebrang. Hingga akhirnya aku mengalaminya lagi saat berada di Green Bay/ Teluk Hijau. Dan yang lebih parah, entah mengapa setiap melihat pelampung di kolam raksasa itu yang ku ingat adalah aku pernah ada disana, berendam dalam ramuan spesial hasil olahan si mungil bermata sipit.

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkkkkkkkk,tunggu pembalasanku


Jumat, 14 Agustus 2015

Tragedi Meja 22

Di meja itu,
Aku tidak pernah tahu bahwa siang itu saat jarum jam perlahan mendekati angka 2, ada sebuah kejadian yang membuatku harus menuliskannya di sini, sebagai pengingat. Entahlah sepertinya hari itu  sangat sakral sekali, kala matahari menumpahkan semua sinarnya, kala kecerahan hari Minggu sedang berada di puncaknya, kala kami usai bersuka cita mengurai tawa di tempat indah, kami tanpa kebetulan ( karena hidup aku yakini tidak ada yang kebetulan )  berkumpul di sebuah tempat makan cabang ke -2, dikota yang berkode 022, dimeja bernomor 22, di hari ke-2 bulan Agustus, setelah kami merayakan perjalanan yang ke-22, dan tentu ketika kami duduk ber dua –dua pula, maka tragedi di mulai. Yaa…., sebuah tragedi yang tertanam dibenak.

Di meja itu,
Aku merasakan sebuah gerakan dahsyat di bagian dalam organku. Pertanda, waktu makan siang sudah terlewat dan aku membatin, “bundaaa…aku lapar”. Untungnya salah seorang sobat mungilku mengerti sangat bahwa harus ada yang segera masuk ke dalam usus duabelas jariku, sebelum organ itu memberontak lebih dahsyat. Pilihan yang tepat, ketika yang menjadi idenya adalah sebuah menu segar menggugah selera. Menu berbentuk bulat, berbahan daging dengan campuran tulang rusuk dan tahu yang khas menjadi pilihan aku, dia, dan mereka. Bergegas meminta untuk disegerakan dipilihkan tulang rusuknya :D, eeeh maksudnya disegerakan menu pesanan kami, namun harapan tinggal harapan. Satu persatu kekecewaan harus aku telan dan dikunyah bersama saliva yang ada.

Di meja itu,
Pembawa pesan tulang rusuk untuk aku, dia dan mereka datang. Maaf tulang rusuk habis tak bersisa, begitu pesan singkatnya tanpa ada ekspresi. Diam sejenak, bagiku tak masalah ketika tulang rusuk tak ada, karena aku membutuhkan tulang punggung hahahahha#gagalpokus. Aku memperhatikan teman yang lain, dan semua sepakat, ambillah walau tak lengkap tanpa tulang rusuk. Demi merasakan sesuatu yang berbeda maka tak lengkap pun tak mengapa. Gerakan persitaltik dimulai lagi. Wahai penghuni, sabarlah sejenak. Aku akan persembahkan sebuah menu terbaik dan terdahsyat. Rayu aku dalam bahasa yang hanya dimengerti aku dan usus 12 jariku.

Dimeja itu,
Hmmmmmmmmmmm, inikah yang aku pesan? Tanya yang kesekian kalinya mampir lagi di benakku. Tak apa, semoga ini hanya tampilannya saja, otakku mulai melakukan perlawanan. Melihat pesanan yang lain, sepertinya tidak lebih baik, wajah-wajah penuh tanya saat satu persatu yang mereka pesan sampai dihadapan mereka. Inikah Yamin???seingatku bukan seperti ini?, inikah arti special? Pikiranku diaduk-aduk oleh apa yang aku lihat.
“Sendoknya mana?, tanya aku. Tak terjawab hingga waktu berlalu. Penantian yang tak berujung, tak berbalas. Oh sedihnya aku dibiarkan menunggu depan mangkok itu. Pertanyaan datang lagi, minumnya mana?, sudah hampir selesai minuman dingin tak jua keluar. Masa iya, aku harus menghabiskan kuahnya sebagai pengganti hausku?, ooooh apa yang terjadi, aku dibiarkan lagi menunggu tanpa jawaban yang pasti. Penantian tanpa jawaban itu sungguh tak mengenakan. Semua mulai bereaksi, tak ada balasan yang berarti. Akhirnya aku menyadari bahwa ini semua merupakan sajian istimewanya, tidak ada tempat lain yang memiliki menu ini.  Saling berpandangan dan akhirnya aku melanjutkan untuk melakukan closing terhadap transaksi yang ada. Daaaaaaaaaaaan lagi-lagi, lapisan kesabaranku dikoyak, mesin cash register tidak berfungsi, kalkulator tidak ada, dan harganya pun mereka tak hapal. Ooooooh……ada apa gerangan?, apakah ini semua petugas jadi-jadian, atau aku duduk di meja yang sakral?, lapisan sabarku terlepas kembali, Ohhh…lama nian kau menghitung ini semua. Mataku menyapu isi ruangan, pikiran ku mulai bermain. Benarkah ini tempat nyata? atau hanya tempat tanpa wujud. Petugas berseragam aku amati, kakinya bertapak ke lantai. Jeng..jeng.....aku merasakan sebuah pertanda, sepertinya aku salah berada disini. Analisaku mulai bekerja. Akhirnya selesai dan kami lanjut untuk mencari yang lain. Masih lapppeeer hiks. Aku bergegas melangkah mengikuti jejak kaki yang lain.

Di meja itu,
Yah, di meja 22 di hari ke-2, di kota 022, di perjalanan ke-22, dan di saat jarum jam menuju angka 2 ………semua terjadi. Ada cerita yang akhirnya membuat kami tertawa sepanjang perjalanan. Itulah kami, semuanya menjadi ringan dan lucu saja. Benar banget bahwa tidak penting apa yang kami santap siang itu, yang penting dan teramat penting adalah dengan siapa kita berada saat itu. Jika bukan dengan pasukan “KP” alias pasukan KurangPikniK mungkin ceritanya akan berbeda. Dengan KP semuanya menjadi istimewa, jika tidak cerita meja 22 mungkin perjalanan menjelang sore itu menjadi tidak istimewa. Hambar dan tidak enaknya sajian siang itu tidak menjadikan pertemuan kami menjadi hambar. Obrolan aku  menjadi lebih penuh warna dan intrik plus aksesoris. Usus 12 jari pun seakan mengerti, berdiam sejenak untuk akhirnya beraksi kembali di ujung malam. Kue cubit menjadi obat malam itu. Rasa original membuat jadi full rasa. Rasa sabar, rasa lapar, rasa senang, rasa ingin untuk makan lagi dan rasa ingin memiliki kamu, uuppps hahahahah

Di meja itu,
Sampai hari ini kisah itu masih ada di lapiasan benak aku, menurut data yang masuk dari Badan Statistik Pasukan KP, kami salah meja. Sajian istimewa hanya ada di meja 12 bukan 22 ;D. dan seharusnya jangan jam 2 kesana, tapi jam 12 pula, dan kami harusnya bukan di cabang yang ke-2. …………dan yang lebih utama adalah kesalahan kami semua adalah memesan tulang rusuk, secara ada teman kami yang sudah punya tulang rusuk di rumahnya, dan dia coba-coba pesan tulang rusuk lagi, jelas banget ini melanggar hak- hak pertulangan. Pastilah pesanan tak dikabulkan. Jika dia sempat mencicipi tulang rusuk yang lain, terbayang deh marahnya tulang rusuk yang ada di rumah. Dan teman yang lain juga nekat pesan tulang rusuk padahal belum mandi, waaaah…tulang rusuknya kabur deh gak mau dekat-dekat. Pesan tulang rusuk kok coba-coba, mesti khusyu lah bro hahahah.  Satu kealpaan lagi adalah saya juga ikut pesan tulang rusuk, jelas sudah pasti tak akan diberi, karena seharusnya saya pesan tulang punggung.
Hahahaha…..itu analisa yang penting banget dari kejadian meja 22.  Menjadi sebuah kisah antara aku, kamu dan dia.

Di meja itu......................................inilah yang harusnya kami dapatkan :D.



Minggu, 09 Agustus 2015

Kareumbi di Awal Agustus #Tidak hanya sekedar piknik_Mata Bumi

Pasukan ^KurangPikNik^ Cilegon
Aku sebelumnya tidak mengenal komunitas ini, sampai kurang lebih satu bulan lalu salah seorang teman lama di Cimohay eh Cimahi mengirimkan pesan tentang kegiatan yang akan dilakukan oleh komunitas tersebut di awal Agustus, bermalam di rumah pohon. Sangat ingin bergabung namun hiruk pikuk lebaran membuat pesan ini terabaikan, dan saat teman-teman mulai berada di kampung halaman, aku baru teringat kembali dengan rumah pohon. Mencoba mencari tahu tentang kegiatan komunitas ini, karena sepertinya berbeda dengan yang lainnya apa yang dimaksud dengan geologi, geotrek dan hal lainnya. Menarik pake banget, dan langsung ku hubungi nomer handphone Kang Ronny yang dijadikan Contac Person untuk langsung pesan 6 seat.

Rumah pohon kami, nyaman banggettt
Alhamdulillah seat masih tersedia, langsung sebarkan info kepada pasukan ^kurangpiknik^.  Tidak ada satu pun dari team yang pernah jalan bareng dengan komunitas ini heheh, namun kami yakin bahwa trip ini akan menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Oya, anggota pasukan akhirnya bertambah menjadi 8 orang, di hari terakhir Bang Anton memutuskan untuk bergabung, begitu pula salah seorang pembesar dari teman kami. Disebut pembesar karena volume tubuhnya yang cukup besar hahahah Pasukan kami tidak seluruhnya pernah bertemu. Temannya teman, lalu temennya bawa teman lagi, begitulah kebiasaan kami saat piknik, namun dengan niat silaturahmi dan berhappy ria, kami selalu menikmatinya walaupun belum saling kenal sebelumnya.
Jumat usai sholat magrib, ditemani rinai hujan yang masih malu-malu kami meninggalkan Cilegon, menuju Bandung. Anay, Ibeth dan Bang Anton sudah sedari pagi di Bandung karena ada tugas kantor dari Jakarta. Hujan menderas, jarak pandang semakin pendek. Henio atau Mang Ucon berkonsentrasi penuh perlahan menembus hujan. Zul seorang teman yang tinggal di BSD sudah menunggu di Rest Area Karang Tengah. Mereda sebentar saat mobil memasuki rest area, dan akhirnya menderas kembali. Kecepatan mobil semakin berkurang karena antrian kendaraan semakin panjang. Macet di akhir pekan menjadi sebuah santapan menuju Bandung. Mengisi perjalanan dengan segala obrolan, saling berkenalan, dan tentu mengunyah semua camilan yang tersedia. Hampir pukul 2 dinihari, mobil yang membawa kami tepat melewati Tol Pasteur…..yeaaa setelah 7 jam akhirnya sampailah kami di Kota Bandung. Perjalanan yang lumayan melelahkan Jjauh dari prediksi yang biasanya hanya butuh 3,5 sampai dengan 4 jam. Sebentar lagi pagi, maka kami memutuskan tidak menuju hotel namun kami ke rumah teman, yang tidak jauh dari Museum Geologi. 

Kue lebaran dan teh anget dari mas Adi
Adi teman kami yang menyambut di kostannya. Teh panas dan kue lebaran disediakannya. Perut meminta jatahnya, maka nasi goreng pun menjadi santapan dinihari. Tak berapa lama Cikwen nyenyak tertidur berbalut selimut biru, alarm semoga membangunkan kami pukul 05 pagi. Aku ikut merebahkan badan disampingnya, dan terlelap semua.


“Waaaah, Mang Ucon baru saja tidur.” begitu jawab Agung saat aku bergegas mandi. Acara makan bubur di pagi hari gagal, karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 07 pagi dan Mang Ucon baru bersiap. Anay, Ibeth dan Bang Anton sudah di halaman Museum Geologi. Aku bergegas turun bersama CikWen lalu melakukan registrasi. Tiba-tiba ada yang memanggilku, Haiiii…..akhirnya aku bertemu dengan teman lamaku  yang sudah bertahun-tahun tidak bersua. Uda panggilanku untuknya. Masih seperti dulu namun sepertinya berat badannya turun beberapa kilogram, jadi terlihat lebih kurus. 

inilah kami 
Belum sempat ngobrol panjang dan melepas tawa,  ternyataaaaa…..teman-teman lain sudah membuat lingkaran dan sedang berkenalan satu dengan lainnya. Sambil merapikan atribut syal hijau cerah dan pin, aku ikut ambil bagian mengenalkan diri begitu pula Cikwen dan Uda. Di pagi inilah, aku akhirnya mengenal bpk Titi Bachtiar ( Pak TeBe), Kang Ronny dan panitia lainnya. Kesan pertama di pagi itu sosok Pak Tebe sangat bersahabat meski ini adalah pertemuan dan perjalanan pertama kami dengan beliau. Usai saling mengenalkan diri, tentu momen foto keluarga menjadi momen wajib. Diabadikan dengan indah oleh Teh Kuke sang fotographer geotrek yang mungil dan kece. Belum puas, aku dan teman-teman mengulanginya lagi dengan judul kontingen Cilegon hahah. Uda Budi yang dari Cimohay pun hari itu resmi mutasi ke wilayah Cilegon hahaha. Haiiii………….peserta bersiap masuk kedalam truk TNI, maka aku dengan formasi lengkap masuk ke armada yang berwarna
hallooooo.......seru deh naik truk TNI
hijau tua ini, khas armada TNI. Ibeth dan Bang Anton mengambil posisi di sudut. Aku, Anay dan Cikwen berbaris dalam deret kanan. Uda dan Zul sepertinya serius bercerita duduk bersebrangan denganku. Mang Ucon beserta Agung sudah mendapatkan posisi paling enak melantai tanpa bangku. Tepat jam 8, truk mulai berjalan. Bersama kami ada sebuah keluarga yang sangat mengasyikan. Putranya yang masih tergolong balita mencuri perhatian kami semua. Dibuatnya kami semua terpesona dengan gaya coolnya, tidak seperti kebanyakan anak seusianya, terlihat sangat mandiri. Aku duduk bersebelahan dengan bundanya. Farhan nama bocah berusia 4 tahun tersebut, memang sangat memimpikan pergi seperti ini. Tidak banyak bicara, namun terlihat sangat menikmati perjalanan di pangkuan ayahnya.
Truk mulai meninggalkan kota Bandung, mulai memasuki Tol Cileunyi. Tujuan kami adalah Taman Buru Gn. Masigit Kareumbi. Perjalanan lancar, sambil berkenalan kiri kanan, kami juga mulai menghabiskan aneka keripik dari yang berbentuk hingga yang tinggal bubuk hehe. Anay ingat banget jika aku  adalah penggemar rengginang, maka bekal dari Cirebon adalah rengginang udang khas dari sana. Eeeitttt….jalannya truk mulai melambat, kami mulai terguncang, mulai menanjak dan berkelok, rupanya kami mulai masuk kawasan bukit ‘Candi”, setengah jam kurang lebih dari pintu tol. Turunlah kita semua, Nampak gunung pasir atau apa yak….matahari terik menyengat. Saya mulai bertanya-tanya bagian mana yang indah. Mengapa Pak Tebe menurunkan kami disini. Eeeeeh knapa semua berlari ke lapangan yang luas itu. Ternyata ada sesuatu yang indah disana. Sawah bertingkat seperti di Bali sana, menghampar dibawah tebing tempat kami berdiri. Bagaikan karpet hijau. Panas tidak terasa lagi, terajana eh terasering menghipnotis sebagian dari kami.  Saat beberapa teman masih sibuk mengabadikan kawasan Candi saat Pak Tebe mulai menjelaskan tentang Bandung. Tidak sedikitpun nampak lelah di raut wajahnya, meski panas sangat. Tangannya sibuk menggambarkan sungai, lereng, tanah, daratan yang menjadi sebuah sejarah Bandung. Pak Tebe bercerita tentang meander (aku mengingatnya “minder”), yaitu aliran sungai yang lambat, karena terjadi karena pengalihan alias buatan manusia. Jadi Cileley itu sungai yang meander berbeda dengan Citarik yang deras. Penjelasan seperti inilah yang tidak ditemukan dalam piknik lain, saya jadi belajar tentang sesuatu yang baru. Lalu kisah dilanjutkan kembali dengan kisah Gunung Sunda Purba, Gunung Giri, dan Tangkuban Perahu, ternyata mereka itu satu turunan dari mulai buyut sampai dengan cicit. Gunung pun berkembang biak. Menurut Pak TeBe, kota Bandung termasuk daerah yang mudah hancur jika terkena gempa, kota yang terbentuk dalam cekungan namun terlihat rata karena sudah diratakan oleh tumpahan gunung-gunung tersebut.
jepretan teh Kuke, makasih yaaa :)
Mengenal arti magma, lahar, lava. Olaala..ternyata istilah lahar panas dan dan lahar dingin pun tak tepat. Lahar yang turun itu dikarenakan ada hujan yang mendorongnya untuk mengalir, jadi tetap panas walaupun disebut lahar dingin. Penjelasan terus berlanjut mengenai istilah Masigit, tujuan akhir kami. Berbeda dengan apa yang saya pikirkan, saya kira bernama Masigit karena berada di sekitar masjid atau diliputi banyak masjid. Masigit yang dimaksud disini adalah seperti gigit sedikit demi sedikit, begitu kata Pak TeBe. Jadi tempat ini adalah tempat yang habis secara pelan-pelan seperti digigit begitu. Usai menyimak kisah tentang gunung dan teman-temannya semua pasukan kembali ke dalam truk, eeh tapi kita berfoto dulu dengan pak TeBe, bapak yang keren banget. Lanjut meninggalkan candi. Sebentar, ada tukang tahu. Sibuk diserbu penghuni truk pertama. Kami yang di truk berikutnya sudah tak sempat lagi. Yaaa sudahlah, biarkan tahu anget itu.  Lupakan kataku terhadap Anay, yang matanya masih tak berkedip memandang tukang tahu tersebut. Atmosfer mulai terasa berbeda, jalanan mulai mengecil, dan ooooh…..saat melewati sebuah gapura di jalan desa, terpal truk kami ikut tersangkut, sobek deh. Terhenti sebentar lalu berjalan perlahan kembali. Jalan menikung membuat saya akhirnya berubah posisi, melantai bersama farhan menjadi lebih terasa aman. Sebagian teman berpegangan kuat khawatir ikut melantai juga. Debu terasa memenuhi rongga hidung, kemarau membuat tanah semakin berdebu rupanya.

Sampaiiiii…..mulai gerak-gerak badan tapi tiba-tiba…..buuuugggh, wah..salah seorang peserta terjatuh, bapak yang duduk persis di mulut truk, oh..semoga tak apa2. Sempat berdiri namun tiba-tiba beliau mengeluh pusing dan gemetaran, bapak yang ternyata bernama pak Naka dan jepretannya yahuud benar, beristirahat sebentar, mencoba menormalkan detak jantung dan kepusingannya yang tiba-tiba datang. alhamdulilah tangannya tidak terluka atau terjadi sesuatu.
Kami bersiap lanjut, eeeh sebentar tukang tahu yang tadi kami lihat di daerah Candi sudah bersama kami. Hebaaaat, tak lelah mengejar truk kami. Maka tahu dan bacang pun menjadi santapan awal kami sebelum berjalan kaki menuju rumah pohon yang berada di dasar kaldera Gunung Kareumbi yang meletus ratusan tahun lalu. Gunung ini tingginya 4000an dpl, nah mangkok raksasa alias kaldera inilah tempat kami akan berkemah. 
Akhirrrrrnya tahuuuuuuuu..:)

Bu Inen, sang pencerah kehutanan
Hijau dan penuh dengan pohon pinus yang menjulang waaah segaaaar, begitu kami sampai di lokasi. Selonjoran sambil mendengarkan Pak Tebe bercerita kembali tentang Taman Buru yang satu-satunya berada di Pulau Jawa, dari 14 Taman Buru di Indonesia.
Kisah berlanjut dengan menu dari ibu Inen, beliau salah satu peserta dan berasal dari departemen Kehutanan. Ceritanya sungguh menarik, bagaimana proses penghijauan kita yang salah kaprah.  Ingin serba cepat alias instan maka pinus dan akasia menjadi pohon penghijauan. Tanah kita rusak, mereka cepat sekali bertumbuh tapi juga mengganas, memakan semua tumbuhan lainnya. Sifatnya yang lapar membuat vegetasi lain terganggu, tidak bisa tumbuh. Ooh sediiiih saya mendengar penjelasan dari bu Inen. Mengapa ini terjadi yaa?.........benarlah adanya jangan suka adops semua yang dari luar, karena belum tentu sesuai dengan kondisi lokal. Jadi semestinya bertahanlah dengan vegetasi lokal. Karena itulah tempat mereka tumbuh. Hukum ini berlaku pula dalam mencari pasangan..uppps#gagalpokus.

Waiiiiits ….tunggu..kenapa farhan menangis sambil berlari-lari, Bundaaaaa aku lapaaar. Memecah keheningan. Olaaaalaa ternyata farhan kelaparan, walaupun cemilan sudah disuplai untuk farhan, tapi nasi harus kudu dan wajib. Duuh Farhan kamu jadi makin menggemaskan aja. Dan mulai saat itu, teman-teman saya slalu berteriak dengan gaya Farhan, Buleeek aku lapar. Buleeek aku ngantuuuk begitulah password temanku saat ini. Sebelum makan siang, kang Dharmanto orang penting di Kareumbi menjelaskan pula tentang TB Kareumbi ini. Ada sebuah tips tentang menangani sampah yang bisa jadi ditinggalkan oleh pengunjung. Jadi setiap pengunjung yang akan bermalam diwajibkan membayar uang kebersihan Rp.500.000 yang akan dikembalikan jika saat mereka selesai dan harus dipastikan sampah tidak ada. Kereeen nih caranya, terbayang gunung yang sering menjadi tempat sampah para pendaki. Mengaku mencintai alam tapi hmmm….tidak ramah sama sekali terhadap alam. Acara makan siang siap, wow….ada ikan mas goreng dan sambel tomat. Dengan kondisi lapar santapan menjadi cepat sekali tandas. Nasi liwet yang nikmat dimakan di tengah hutan.





Ini kamar mandi kami, airnya dingiiiiin dan segar
Bersiap sholat, waaaaaah airnya dingin dan seger banget, itu saya rasakan saat mengambil air wudhu.Aliran airnya tidak berhenti dari pancuran, baik sekali alam terhadap kita. Eeeeh ada yang menemukan pacet, hewan penghisap darah yang menurut Pak Tebe tidak perlu membuat kita takut.
Acara berlanjut, bersiap traking mengelilingi sebagian hutan bersama pak Djuandi, sahabat herba. Tidak kalah keren dengan pak TeBe, pak Djuandi memperlihatkan kepiawaiannya dalam menjelaskan aneka tanaman yang kita jumpai. Bahasa latin meluncur deras tanpa jeda dari pakar tanaman ini. Beliau bergelut kurang lebih 34 tahun bersama tanaman. Seruuu sambil bernyanyi, walaupun saya tidak tahu artinya karena banyak menggunakan istilah bahasa sunda. Mengikuti jejak kaki beliau pikiran saya jadi teringat dengan mata kuliah farmakognosi. Pelajaran yang menguras daya ingat hahaha bertahun lalu. Kecombrang, aneka talas, daun cabe-cabean, serta ki urat masih saya ingat walau sudah seminggu berlalu, eeh ada yang lebih melekat lagi tentang ki tombe. Tanaman yang berfungsi sebagai obat ketombe. Tumbuhan dengan ciri khas ungu mengingatkan saya kepada Anay, maka sejak hari itu Anay resmi berganti nama menjadi Ki tombe hahaha. Kami pun menemukan banyak jenis kupu-kupu dengan warna sayap yang langka kami temui di kota, capung dengan warna hitam dan biru, laba-laba aneka jenis. 



Pak Djuandi mengingatkan juga tentang fungsi tanaman yang bisa saja menjadi berbeda saat digunakan oleh suatu ras/suku bangsa karena berhubungan dengan makanan yang dikonsumsinya. Lanjut berjalan bertemu dengan daun poh-pohan, beluntas dan akhirnya menepi mencari kareumbi. Seperti apa kereumbi itu??...tetiba pak djuandi memegang pohon yang sedari tadi ada dihadapan kita. Ternyata pohon itu ada depan kita berdahan merah. Belum terlalu tinggi. Waah, wajah pak Djuandi saat itu terlihat riang sekali, berhasil membuat kami pesertanya berlelah mencari Kareumbi. Ternyata pohonnya didekat kita.




Waaaah senangnya ada rujak buah dan bakwan yang baru saja diangkat dari penggorengan. Ubi rebus pun ada. Teteh panitia Geotrek mengerti benar kita ingin makan rujak hahaha. Saat kita sampai di perkemahan. Istirahat sejenak, ikutan masuk antrian depan kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari rumah pohon kami. Ohyaaa..kami menginap di rumah pohon yang berlantai dua. Menyenangkan sekali, nah kaum adamnya dikelompokan dalam satu tenda, Bersiap untuk makan lama, api unggun sudah menyala. Makan malamnya istimewa karena menunya tumpeng. Yaa…acara geotrek kali ini sekaligus peringatan ulang tahun Mata Bumi yang ke-5. Potong tumpeng didekat api unggun, lanjut makan bersama. 
Dan kami memilih makan bersama dalam satu tampah. Nasi kuning lengkap dengan tempe oreg dan telur. Diterangi cahaya purnama kami menghabiskan malam dengan aneka permainan. Konsentrasi ayo konsentrasi hahaha. Tertawalah kami saat salah seorang peserta bernomer 10 tak pernah muncul, apakah ini nomer jadi-jadian?....olala ternyata ada tapi sedang ke toilet. Dan toiletny jaaaauh ke sumedang hahaha. Kang Sandi namanya. Lanjut dengan permainan oleh kang Deny….wah bagi-bagi hadiah juga. Malam itu diujung permainan, saya dan uda berhasil membawa pulang satu kaos. Sedangkan agung dinobatkan sebagai om dumang karena persembahannya bergaya dumang hahaha. Merapatkan diri dalam kantong tidur, sebenarnya masih ingin bertukar cerita namun karena perjalanan dari Cilegon yang melelahkan kami akhirnya merapatkan diri untuk tidur. Indaaaah sekali malam itu. Bulan bulat bersinar penuh dengan cahaya keemasan menjadi penerang malam itu, belum lagi ujung-ujung pinus yang menjulang menjadi atap kami. Pagiiiiii kami dikejutkan dengan suara Farhan…………..Bundaaaaa aku dingin. Pecahlah kesunyian pagi itu. 


Berolah raga sejenak, bermain melepas penat, tertawa lepas memainkan game seru dari panitia. Menikmati pagi di Kareumbi, menikmati tubuh ini ini bermandi cahaya pagi yang benar-benar cerah. Masih banyak yang bermalasan di tenda, ataupun bergoyang di hammock. Sungguh indah semburat cahaya menembus daun pinus. Malas mandi tapi harus mandi, Segaaaar pada akhirnya.  Berlanjut dengan materi yang tertunda. Kami belajar membaca kompas, membaca peta. 

Om dumang belajar kompas
Waaaah….keren, saya belajar menentukan arah obyek dengan lengkap hahaha. Target kena, 180 derajat. Seruuuu. Trimakasih ilmunya kang. (lupa namanya). 

Acara hampir selesai….berkemas dan kami lanjut ke penangkaran rusa. Eeh ada tomat, ternyata hamparan kebun tomat pun tak jauh dari situ. Tomatnya enak banget, dagingnya tebal, kang ….satu dus deh. Pinta saya pada salah seorang
akang yang sedang memilah tomat. Senangnya berada diantara para petani tomat. Mampir sebentar ke tempat rusa, sayang rusanya belum banyak, hanya ada beberapa ekor, saya lebih banyak berbincang dengan petani tomat. Selagi berbincang datang lagi tomat 2 keranjang besar. Waah senangnya. Usai sudah, kami bersiap kembali
masuk truk yang akan membawa kami ke Kota Bandung, menuju awal kita berkumpul. Museum Geologi.

Perjalanan kemarin melahirkan banyak inspirasi bagi saya. Bergabung dengan kurang lebih 55 peserta dari jabodetabek dan Bandung tentunya, dengan team perjalanan yang hebat. Salut untuk Pak TeBe yang memiliki ide cemerlang ini, membuat piknik tidak sekedar piknik, namun belajar dengan mengasyikan, mencintai alam dan menumbuhkan rasa bangga bahwa alam kita begitu mempesona mata terlebih jika kita mengetahui sejarahnya, mengetahui proses terjadinya, maka kecintaan kita terhadap bangsa ini seharusnya lebih dan lebih.  Wajahnya selalu ceria, dan humoris, ilmunya dibagikan dengan rasa cinta dan penuh ketulusan. Tidak hanya itu saya juga belajar tentang peran penting orang tua terhadap putra-putrinya menumbuhkan rasa cinta terhadap alam dengan cara yang menyenangkan. Belajar mandiri, belajar berinteraksi dengan orang lain, sedari kecil. 
Farhan dan Fakhri
Piknik kali ini, menjadi sebuah wisata keluarga. Bunda wiwi…, saya belajar banyak lho. Farhaaan..terima kasih ya untuk semua keceriaannya. Bergabung di Geotrek Mata Bumi membuat ngetrip dan piknik bukan hanya sekedar piknik.

Cerita masih berlanjut karena setelah mendarat dengan selamat di Museum Geologi, kami pasukan ^KurangPiknik^ melanjutkan ekspedisi ke kota. Nanti berlanjut yaaa dengan tragedi meja 22 hahaha.