Minggu, 04 September 2016

Aku dan Bangunan itu


 Aku mencoba mengingat sejak kapan aku membangunnya, sayang ingatanku  tak berhasil membuka lipatan memori di korteks benak
Pertanyaanmu tak bisa aku jawab. 

Bukan karena terlalu panjang atau pun pendek waktunya hingga aku lupa, namun memang aku tak mampu mengingatnya. Dan kadang tak perlu juga kan ? Tak ada jaminan bahwa dimensi waktu akan memperkokoh atau membuat rapuh bangunan ini. Tidak sedikit menyaksikan kehancurannya meski dibangun dalam waktu yang lama, dan aku bisa temukan juga banyak yang berdiri kokoh,  tak goyah meski aku tahu gempa berskala Richter berusaha menggoyangnya. Aku belajar dari sekitar pun dari diri sendiri, puing yang berserak dicoba untuk di sapu bersih. Membangun kembali tanpa pernah tahu kapan aku mulai kembali melakukannya. Perlahan bangunan ini mulai berdiri dan penuh warna warni unsur pembentuknya.

Aku masih diam, ketika tanya itu datang lagi. Perlahan aku habiskan air minum dihadapan. Baiklah, aku akan menjawab tanyamu, kataku perlahan

Iya, aku tahu, banyak orang mensyaratkan banyak hal untuk mendirikan bangunan ini namun aku mulai mencoret unsur yang menurutku bukan bahan utama. Warna yang tidak aku butuhkan. Kebutuhanku tidak lagi seperti mereka. Bisa jadi karena semesta mengajarkan aku banyak hal sehingga aku membuat sedikit perbedaan. Bisa jadi karena rentetan kejadian yang telah banyak aku alami. Aku menggeser tempat dudukku. Lalu aku lanjutkan kembali.

Bangunan tentu yang mendasar adalah pondasinya, Bagiku, saat kejujuran diletakkan sebagai pondasinya maka aku yakin akan kekuatannya. Kepercayaan akan semua hal yang ada. Aku tak perlu menghabiskan banyak waktu hanya untuk mempertanyakan sesuatu terjadi begitu pula dirimu.  Tak perlu. Sering ku katakan  bahwa persahabatan yang akan bertahan lama adalah yang dibangun atas kejujuran. Bukan karena sebuah kepentingan karena ini bukan sebuah hubungan politik meski terjadi bilateral J. Dan ini bukan hubungan jual beli. Tidak ada yang mengambil margin keuntungan, tidak ada pula kerugian di dalamnya. Tidak ada syarat dan ketentuan berlaku, atau pun ‘kecuali dinyatakan lain’. Ini adalah pondasi awal untuk mendirikan bangunan ini. Kejujuran/kepercayaan serta komitmen akan segala hal yang ada dihadapan.

Aku hanya belajar tentang memahami. Pemahaman yang baik adalah jendela kita untuk saling memandang sejajar, saling mengerti.  Rasanya menyenangkan ketika pemahaman mulai hadir, tidak perlu berdebat kusir untuk semua  perbedaan. Namun bukan pula  menafikan perbedaan. Mendiskusikan banyak hal menjadi awal bagaiman kita belajar saling memahami. Cara pandang dari diri kita masing-masing. Saat hadir pengertian, maka hadirlah pemahaman. Apakah kita menghadirkan ini? Aku rasakan iya. Entah denganmu. 

Jika jendela dari bangunan ini adalah pemahaman, maka pintu bangunannya adalah saling memaafkan. Kita tahu bahwa maaf adalah satu kalimat sakti yang mampu memadamkan amarah, meredakan perselisihan dan membuat hati menjadi lebih nyaman.  Tak perlulah kita bertahan merasa bahwa ini adalah benar, itu adalah salah. Meminta maaf membutuhkan energi yang besar, oleh sebab itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang tidak mempermasalahkan siapa yang harus minta maaf atau memberi maaf. Melelahkan bukan,  saat kita mendapatkan seseorang yang sukar sekali minta maaf. Bisa jadi yang  melintas saat kata maaf terlontar, maka itu ekuivalen bahwa penyebab kesalahan adalah kita. Mestinya tidak begitu kan? Meminta maaf tidak akan turunkan digit  yang kita miliki. Terkadang setelah kata maaf terucap, segalanya menjadi lebih terang. Benang kusut nan rumit pun berhasil kita urai, menjadi simpul-simpul yang menguatkan, terjalin dari rasa marah yang berhasil kita redam. Pintu yang kokoh dalam bentuk saling memaafkan menjadi unsur esensial menurutku.

Dan layaknya sebuah bangunan, selain jendela dan pintu, tentu kita membutuhkan atap yang dapat melindungi dari angin, badai, hujan dan teriknya matahari.  Jangan biarkan hal-hal yang bersifat merusak masuk melalui atap ini. Penerimaan akan segala yang kurang, rasa syukur akan segala yang lebih tentu akan membuat segalanya menjadi lapang. Berapa banyak kita lihat kehancuran sebuah bangunan yang awalnya sangat kokoh gegara ada yang merasa lebih sempurna, lebih baik atau bisa jadi karena ada yang merasa hanya menjadi beban, banyak hal yang kurang dalam dirinya. Jika penerimaan sudah ada di bangunan ini, tentu akan mengusir rasa yang merasa “paling”. Bukankah kita akan melangkah dengan tujuan yang sama. Cita yang sama, impian yang sama. Jadi teringat semboyannya Ibu Dorce yang sangat terkenal “kesempurnaan itu milik Allah”. Tersenyum dirimu mendengar kata ini. 

Kita sungguh penuh dengan kurang namun juga dibekali dengan lebih. Saling melengkapi dan saling menguatkan. Kita sama-sama takut, namun akan menjadi berani jika jari-jari kita menyatu. Kita sama-sama ragu, namun akan menjadi yakin jika keraguan ini berkumpul dalam satu muara.  Melengkapi itulah atap bangunan ini.

Aku tambah lagi air di gelas bertangkai ini, dan aku hanya mampu katakan…

Bangunan ini telah berdiri, pondasinya yang berupa kejujuran dan kepercayaan direkatkan dari awal. Dan lihatlah jendelanya terbuka lebar, udara bersih memenuhi bangunan ini. Singkirkan segala sesuatu yang tak baik secara perlahan.  Pintunya meski belum sekuat yang lain namun telah ada. Dan tentu saja atapnya yang kuat melindungi banguan ini.

Kamu tahu bangunan ini?
Ini adalah bangunan cinta dan sayang yang dibangun dengan hal-hal baik agar kokoh dan tahan lama. Halamannya aku isi dengan pohon kerinduan serta kicauan senda gurau dan kelucuan yang sering hadir. Tidak gersang, ada kenyamanan saat memandang bangunan ini. 



Kita akan merawat, memperkokoh bangunan  ini atau akan membiarkannya hingga hancur kembali menjadi kepingan berserak,

Aku balik bertanya kepadamu.