Selasa, 27 Desember 2016

Belajar Dari Daun Nangka

Deret Daun Nangka ( foto by  Bpk Titi Bachtiar )
Sore tadi menyempatkan diri untuk datang ke rumah salah seorang teman baik yang baru saja kehilangan  ibundanya, dan saya Alhamdulillah diberi kesempatan mengenal beliau. Sosok ibu yang sudah lanjut usia namun jika bercerita terlihat berusaha mengingat-ingat kisah masa lalu, masa kecil anak-anaknya hingga kesukaan lainnya. Saya tidak bisa hadir memberikan penghormatan terakhir kepada beliau karena sesuatu hal, sehingga baru sore tadi berkesempatan untuk hadir dan membuka kembali kenangan beberapa bulan yang lalu saat terakhir bertemunya. Ibu bagi saya merupakan sosok yang selalu mengagumkan. Mendengar kisah bagaimana proses perpisahan jiwa dan raga terjadi di tengah malam itu, teringat dengan alm Ibu, Aaaah sudahlah.., kisah ini tak perlu saya lanjutkan. Ibunda yang tlah lanjut usia ini, sudah cukup bahagia dengan perjalanan hidupnya. Muda yang penuh semangat lalu menua bersama anak menantu serta cucu tercinta dan pergi dengan perasaan bahagia. Insyaallah.

Perjalanan hidup, yaaaa itulah yang aku dapatkan sore ini di minggu terakhir penghujung tahun. Seperti apa hidup ini ingin kita buat, seperti apa kita ingin dikenang, bagaimana orang akan mengingat kita, ingin seperti apa saat kita berpisah dengan kehidupan ini serta berbagai tanya lainnya tetiba melintas kembali saat saya berkendara menuju rumah.

Teringat sebuah gambar deret daun nangka dari berwarna hijau hingga menguning, proses perjalanan sehelai daun. Bisa jadi perjalanan hidup kita seperti itu. Dari usia muda hingga akhirnya menua. Tentulah berproses layaknya daun nangka tersebut. Menguning secara bertahap, dari bagian atas daun hingga akhirnya seluruh bagiannya berubah warna. Lalu membiarkan dirinya jatuh diterpa angin, tak kuasa menolak, tak kuasa menahan dirinya untuk tidak jatuh. Melayang lalu terhempas, namun diterimanya dengan ikhlas, sebuah bentuk penerimaan.  Begitu pula yang seharusnya kita sadari, proses berkehidupan berjalan meski tidak tertutup kemungkinan kita tidak mengalami masa menua/menguning. Saat hijau diruntuhkan pun dapat saja terjadi. Perjanjian untuk kembali tidak ada yang tahu kapan saatnya. Apa yang dapat kita lakukan saat berada di fase “segar”, hijau dan terlihat kokoh? Daun nangka yang muda menyebarkan nutrisi yang dia dapatkan kepada daun yang lain, berbagi kebaikan. Kita? Asik dengan kehidupan sendiri, mempertahankan bagaimana agar eksis di fase itu, tidak peduli sekitar lalu berusaha menolak proses menua.

Tuhan memberi isyarat di setiap proses, namun kita menjadi mahluk yang tidak peka. Kesehatan yang menurun, daya ingat yang tidak setajam dulu, kelelahan fisik yang sering terjadi, dan isyarat lainnya. Sebuah pertanda bahwa ada fase yang akan dimasuki. Persis seperti deret gambar daun nangka. Mengingat itu semua rasanya menjadi takut untuk menghadapi apa yang dinamakan kematian, sebuah fase yang seharusnya tidak perlu kita takuti karena itulah bentuk penerimaan, tidak bisa kita hindari karena itu adalah sebuah kepastian. Tapi lagi-lagi kita dibuat lupa bersiap dengan sesuatu yang pasti.

Motor masih melaju perlahan, rinai hujan menemani, jalanan tidak sepadat kemaren, aroma akhir tahun mulai tercium. Beberapa hari lagi Tahun 2016 akan kita tutup. Ratusan hari yang akan kita tinggalkan akan menjadi sebuah kenangan. Isyarat  nyata dan mudah tentulah ada. Usia akan bertambah, mendekat ke arah perjanjian perpisahan. Bagi saya yang dilahirkan di bulan Maret, pergantian tahun selalu mengingatkan usia akan segera berubah, tidak lama lagi. Entah apa yang akan terjadi di tahun tersebut, akankan impian yang tertulis di kertas putih ini tercapai atau saya diberi kesempatan untuk menulis ulang. Saya pandangi catatan impian yang saya tulis di awal tahun 2016. Beberapa tercapai dengan cara-Nya. Meski berliku akhirnya dapat digapai. Namun banyak pula yang belum,  banyak hal yang semestinya tidak saya lakukan namun lagi-lagi saya memafkan diri atas semuanya. Apa pun yang terjadi tidak ada yang kebetulan, garis Tuhan ada di sana, Lalu pinta yang penting adalah Tuhan Maha Baik memberikan ridho atas semua ini, Tuhan Maha Pengasih selalu memberkahi langkah kaki ini. Banyak hal yang telah terjadi di 360 hari kemaren, dan saya akan menuliskannya nanti.


Penerimaan atas segala hal dan yakini rencana Tuhan akan slalu lebih baik. Berharap sangat akan banyak keajaiban di tahun depan, lebih belajar lagi menata diri agar deret daun nangka ini dapat aku lalui dan nikmati setiap prosesnya hingga saat itu tiba. Berfokus pada hal-hal baik, mencari magnet-magnet kebaikan, melupakan yang tidak perlu diingat.

Rabu, 21 Desember 2016

Kado Dari Bapak Untuk Emak


Setiap tanggal 22 Desember, semua dari kita diingatkan kembali tentang hari Ibu. Postingan di berbagai media, berita di televisi hingga kegiatan yang berfokus pada peringatan hari Ibu. Saya selalu mengingat tanggal ini, selain hari Ibu, tanggal 22 Desember menjadi amat berarti bagi kami sekeluarga.

Tiga puluh tahun lalu, bertepatan dengan hari Ibu, bapak memberikan kado kepada emak.  Kado berupa sebuah status baru yang melekat pada diri saya, kakak dan adik serta emak dimulai di hari itu, kado yang teramat spesial karena kami diberikan kepercayaan untuk melanjutkan hidup tanpa arahan dari bapak. Beliau yakin meski tentu dengan berat hati melepaskan kami, begitu pula yang terjadi pada kami. Ingin menolak namun memang sudah diberi, jadi berusaha menjalani semuanya, berusaha membuat beliau tersenyum hingga hari ini. Berusaha sama-sama mengikhlaskan diri saat itu,  Allah memintanya untuk kembali, maka kami tak bisa menahannya meski air mata tumpah.

Tiga puluh tahun yang lalu, cerita ini ditutup. Tapi semua yang terjadi di hari itu dan ribuan hari sebelumnya masih lekat di benak. Tidak pergi bahkan terus ada, meski lama sekali telah berlalu. Minggu, saat adzan magrib berkumandang, emak memeluk kami semua lima anak yang belum begitu paham dengan hidup yang akan dilalui. Sambil terisak, emak berjanji akan dibesarkannya kami semua dengan tangannya. Kondisi sesulit apa pun tak akan kami dipisahkan. Begitulah memang yang terjadi, hari-hari panjang dilampaui, dari berseragam merah putih, hingga masuk ke jenjang perguruan tinggi. Lalu usai saat kami semua sudah mengenakan seragam kerja. Usai tugas emak, beliau pun pergi sesuai janjinya. Kami lanjutkan perjalanan kembali. Tanpa peta dari kedua orangtua.


Setelah 22 Desember di hari Minggu itu, tak ada lagi kesibukan pagi bercampur suara mesin motor vespa, tidak ada lagi suara berat di sore hari meminta kami untuk mandi. Tidak ada kesibukan memberi sarapan ayam-ayam kesayangan. Tidak ada lagi yang menegur kami karena sandal/sepatu tidak diletakkan pada tempatnya. Tidak ada tawa keras khas, dan tidak ada yang masak pakai bumbu klewek lagi. Semua berubah, tidak ada lagi panggilan “Bapak” di dalam rumah.

Tegas, disiplin itulah Bapak. Tidak ada yang berani membantahnya ketika perintah sudah dikeluarkan, namun dibalik itu semua juga ada saja kelucuan yang dibuatnya. Pernah saat sudah siap berangkat sekolah, dan bapak pun sudah duduk di motor vespanya tetiba bapak minta tolong emak mencari kacamatanya. Semua sigap mencari, namun tak ditemukan. Kamar tidur, tempat baca, hingga ke meja makan. Klakson motor berbunyi, eeeh tapi bukan telolet yaaaa hahaha, artinya jangan lama-lama. Emak tergopoh berlari ke halaman, dan hahahaha…kita semua tertawa kacamata bapak ada di kepala. Bapak lupa hahaha, bapak berhasil membuat kita sibuk semua.

Kami berlima mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Meski adik belum bersekolah, namun tetap juga punya tugas. Merapikan sandal misalnya. Tidak ada sandal yang posisinya terbalik, semua dipasangkan dan diletakkan pada tempatnya. Kedua adik saya bertugas mengurus itu. Saya mempunyai tugas pegang kemoceng di pagi dan sore hari, mengelap debu jendela, lemari, kursi dan perabot lainnya. Cara bapak mengecek apakah saya mengerjakan tugas adalah membuka taplak meja sedikit dan menyeka bagian bawahnya, jika masih berdebu artinya saya hanya membersihkan bagian yang terlihat. Jadi saat membersihkan saya diajarkan untuk mengangkat asbak, vas bunga, lalu taplak mejanya. Harus dibersihkan walaupun tidak terlihat, pelajaran sederhana namun terus diingat hingga sekarang. Merapikan meja makan, atau menyiapkan peralatan makan semua dikerjakan dengan berbagi. Jika sudah jam makan, emak akan siapkan masakan, saya siapkan piring, kakak akan siapkan teko air, semua bergerak sesuai tugasnya. Dengan tubuh kecil bukan berarti tidak punya peran. Belajar itu yang sering dikatakannya.

Bapak memelihara ayam, kandangnya rapi. Terbuat dari bambu. Membersihkan kandang ayam tugas kakak laki-laki, meski letaknya di samping rumah, namun tetap tidak boleh bau. Kotoran ayam dibersihkan tiap hari, disemprot dengan slang air sambil ayamnya ikut mandi heheh.  Memberi makan ayam menjadi kesenangan bapak. Kesibukan pagi adalah selain menyiapkan sarapan untuk kami, bapak juga sibuk menyiapkan sarapan untuk ayam. Dedak dicampur air panas dan nasi panas. Hohohoho…………, dikepal-kepal, lalu ayamnya digendong sambil diajak ngomong, ayamnya sehat, makanannya penuh gizi. Kakak lelaki saya ketika sore harus memastikan ayam-ayam masuk kandang, tidak ada yang berkeliaran diluar. Pernah di suatu sore, satu ayam tidak mau masuk kandang, bertengger di pohon belakang rumah, sudah dicoba untuk ditangkap lhaaa kok malah kabur. Hingga sore berganti malam, kakak masih sibuk merayu ayam untuk turun. Saya pun waktu itu ikut bantu merayu ayam agar pulang ke kandang hahaha. Ayam-ayam ini jika sudah waktunya akan menjadi santapan keluarga di meja makan, kadang jadi gak tega kalau ingat tubuh gemuknya yang kita pelihara dari kecil.

Kakak yang paling besar akan sibuk menyiram pohon di sore hari, rumah kami penuh dengan aneka tanaman saat itu. Jeruk Bali, cengkeh, nangka, ceremai, belimbing wuluh, belimbing bintang, jambu air, mangga, hingga pisang ada di halaman rumah. Tidak banyak, setiap jenis ada satu pohon. Belum lagi tanaman hias milik emak seperti Kuping Gajah, duuuuh mesti tetap hijau dan segar. Tanahnya harus digemburkan, jadi akarnya sehat. Begitulah urusan tanaman, emak yang akan banyak bicara. Untuk menyikat kamar mandi pun dibuatkan jadwal. Semua bekerja, belajar bertanggung jawab. Hari Minggu kami akan sibuk mencuci sepatu. Kaos kaki dan sepatu menjadi tanggung jawab masing-masing. Kami akan ngantri di tempat cuci belakang rumah, bergantian nunggu sikat sepatu, kadang saya merayu kakak menitipkan sepatu  hehehe. Seru sekali jika kami sedang mengingat masa kecil.

Apa yang tidak disukai bapak? Bapak sangat marah jika kami berbohong, kakak saya sehabis pulang sekolah rupanya berenang di sungai dengan kawannya. Kulitnya hitam terbakar matahari, lalu pulang sore hari. Eeeh saat ditanya tidak mau bilang habis berenang, hohoho, Bapak marah, menurut bapak jika sudah berbohong nanti pasti akan terbiasa berbohong. Jujur saja, mengaku salah. Itu lebih baik dan aman. Ada pesan juga dari bapak, jika mengaku salah tunjukkan wajahmu merasa salah, jangan cengar-cengir, senyum dan sebagainya. Pesan seperti ini terus saja teringat, karena saya pernah melakukannya, mengaku salah tapi wajah saya tidak menunjukkan itu. Bapak juga tidak suka kita bermalas-malasan, bangun harus pagi, tidur tepat waktu dan jika luang yang dilakukan adalah membaca buku/koran, serta mengisi Teka Teki Silang di harian Kompas Minggu waktu itu. Televisi dinyalakan saat tertentu saja, tidak semua acaranya boleh ditonton.

Dan menurut bapak, kita harus bersyukur jika masih ada yang mau menegur, memarahi atau menasihati kita, karena jika sudah didiamkan, dicuekin, dianggap tak ada padahal ada, itu akan menyakitkan sekali. Nasehat lama ini benar adanya. Saya meyakininya sekarang.

Lalu dimanakah emak saat itu? Emak paling sibuk di dapur, ada saja makanan yang dibuatnya. Di tangannya semua jadi enak. Kami tidak mengenal jajan, setiap ingin jajan emak bisa membuatnya, jadi yaaa sudah….kami tak perlu jajan. Dari siomay, bakso, roti sobek, bubur kacang, putu ayu hingga kue lainnya slalu bisa dibuat. Bapak mengharuskan kami bisa berenang, main bulu tangkis, serta lari. Sayangnya saya masih kecil, jadi jika Bapak bermain bulutangkis di lapangan sebelah rumah, saya hanya bertugas mengambilkan shuttlecock, dan menonton saja. Dua kakak saya menjadi lawan mainnya. Raket hanya untuk kakak, sedangkan saya bermain-main melempar cock dengan piring plastik. Tubuh bapak saya yang gemuk tidak membuatnya sulit bergerak, tetap lincah mengajarkan smash, atau pun mengembalikan shuttlecock. Makanan lah yang membuatnya menjadi sakit, penggemar jeroan dan tentu wedang legi plus kentel. Gula batu menjadi teman di pagi dan sore hari. Meski dokter sudah melarangnya namun berat meninggalkan kebiasaan, hingga akhirnya menyerah meski usia baru berkepala empat.

Bapak selain mengajarkan tentang disiplin juga mulai mendidik kami menghargai uang. Bagaimana cara kami mendapatkan sesuatu?...ya menabung. Celengan ada di atas meja belajar kami, jika ada keinginan harus dibuka, nanti bapak akan cukupkan jumlahnya. Oh yaa, bapak saya jago masak juga. Untuk beberapa masakan, emak akan kalah. Terutama masakan Jawa tentunya heheh. Rawon dengan bumbu keluwek menjadi masakan kesukaannya. Aneka soto, bahkan bubur ayam, nasi tim pun itu dibuat di dapur emak. Tempe hadir setiap hari di meja makan. Lalu bapak mencoba membuat tempe sendiri dan hasilnya luar biasa. Produksi tempenya diminati oleh tetangga dan teman-temannya. Rak besi tinggi ada dibelakang rumah tempat bapak dan emak membuat tempe. Nah, membuat tempe biasanya dilakukan saat hari Minggu, semaleman rendam kedelai dan cuci hingga bersih. Lalu emak yang akan memasukkan dalam plastik, saya akan menusuk-nusuk plastik dengan lidi yang sudah diruncingkan, agar proses fermentasi berjalan sempurna. Ternyata ada polanya juga, tidak asal tusuk sana sini. Tapiiiii…..yaaa begitulah saya, masih saja tidak berpola, berantakan terlihat saat tempenya sudah jadi. Mengantar tempe yang sudah jadi ke tetangga juga sebagian dari tugas saya, pernah saat hendak mengantar, bawa tempenya menggunakan piring, eeeh ada Soang, angsa yang lehernya panjang mengejar saya hingga jatuh dan tempenya berantakan, piringnya juga entah kemana. Rasanya seperti dikejar apa yaaa….lari sekuat tenaga tapi ternyata paruhnya berhasil menangkap ujung baju. Ngeriiiii membayangkan Soang waktu itu. Hahahah. Masa lalu dengan soang berleher panjang.

Rak tinggi untuk menyimpan tempe beralih fungsi setelah bapak pergi, baskom besar dan lain-lain dibiarkan berdebu. Tak ada yang menyentuhnya, emak sempat sakit dan bingung harus mengerjakan apa, alhamdullilah akhirnya semangat itu hadir kembali. Hidup harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah dan berhenti begitu saja.  

Lalu, setelah waktu berjalan begitu panjang, setiap hari Ibu di 22 Desember pastilah emak akan bilang, kado dari bapak abadi sepanjang masa. Slalu diingat, perayaan bagi emak, tapi juga kami akan berkirim doa mengingat bapak. Hari ini tepat 30 tahun. Sarung kotak hijau dan kaos putih yang sering dikenakan bapak, kadang melintas menjadi kerinduan. Rindu serindu-rindunya, hingga kadang jatuh bulir bening tanpa sebab. Beliau menginginkan kami anak-anaknya menjadi anak yang tangguh, tidak cengeng dan tidak rapuh, pembelajaran yang saya dapat dalam perjalanan 30 tahun tanpanya. Rasanya menjadi aneh jika saya terisak untuk hal yang tidak penting, karena banyak hal penting sudah berhasil dilalui tanpa  terisak.

"Terimakasih kado istimewanya Pak", jangan khawatir anak gadismu yang satu ini terus semangat dan semangat terus. Seperti yang slalu diajarkan untuk berikan yang terbaik, belajar dalam segala hal, berani, dan strooooong. Meski kadang jika sedang sedih gegara ada yang bikin ulah saya tak bisa lapor bapak, seandainya bapak ada………….hmmmm tinggal ditelolet kelar deh hidupnya dia, berani-beraninya yang bikin anak gadis bapak menangis. Eeeh, sudah, sudahlah…..bapak tidak perlu tahu hal ini. Tenanglah di sana bersama emak.

Al- fatihah untuk bapak dan emak dari kami di ruang yang berbeda. Insyaallah kita akan bertemu di Jannah-Nya. Saya percaya, bapak dan emak slalu temani di rumah hijau ini. 

**foto Cik Wening

Kamis, 24 November 2016

Singgah pay............

Perut sangat lapar, meronta ingin segera diisi saat kami selesai mandi dan bersih-bersih.  Aneka makanan ringan sebagai bekal sudah habis dibagi untuk ikan-ikan di Taman Nemo hehehe. Ayooo segera masuk mobil untuk lanjutkan perjalanan. Kami sengaja melaparkan diri agar saat santap makanan dalam kondisi lapar maksimal J

Jam makan siang sudah lewat, mobil melaju menuju arah kota Bandar Lampung ( BanLam).
Tujuan kami adalah mencari tempat makan yang menyajikan masakan khas Lampung. Saya dan teman-teman penikmat masakan daerah. Hanya kemplang yang kami tahu sebagai ciri dari Lampung. Bang Zul merekomendasikan Cikwo Resto, menurutnya itu adalah resto paling lengkap untuk masakan khas Lampung. Mari kita buktikan.

‘Ini ke arah mana Zul…? Om Didi mencoba mengingat tanah kelahiran yang sudah lama ditinggalkannya. “Teluk Betung, Om”, sahut dari kursi belakang. Okey…sippp…belok kanan. Itu dia  Jln Nusa Indah. Resto Cikwo ada di sisi kanan Jln Nusa Indah, Papan nama besar terpasang di bagian pagarnya. Halamanny cukup luas dengan aneka tanaman, dibuat seperti rumah tinggal. Ciri dibagian depan yang lain adalah siger, simbol khas dari daerah ini berbentuk segitiga berwarna emas dengan jumlah lekuk tertentu, ada yang berjumlah 7 ada yang berjumlah 9. Di sini diletakkan persis di halaman depan, berukuran besar.


Begitu memasuki pintu resto, aroma Lampung sudah sangat terasa. Tagline resto menggunakan bahasa daerah, di dinding banyak sekali perkakas dapur namun sudah langka untuk saat ini dan merupakan khas Lampung. Yeaaaay ada pakaian adat yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk diabadikan, dan tentu saja kami semua memanfaatkan berbagai aksesoris yang ada untuk berfoto.

Kami memilih duduk lesehan yang berada di luar, ditemani alunan lagu Lampung. Daftar menu diberikan dengan senyum ramah dari petugas resto. Waaaaaw….ini apa?....tak ada satupun yang kami mengerti, eeeh Bang Zul ternyata benar putra Lampung, diterangkannya satu persatu. Saya lalu memutuskan untuk memesan semuanya, penasaran dengan rasanya. Oh yaaa, menu andalan tentu menjadi pilihan pertama yaitu serbat kuweni.  Sambil menunggu pesanan, saya dan Om Didi sholat ashar terlebih dahulu. Nilai plus Cikwo bertambah lagi, kamar mandi yang bersih serta tersedianya mushola dengan ukuran yang tidak sempit membuat saya bertambah senang singgah di sini.

Makcik dan Yunie masih berfoto, hari ini kami menjadi muli mekhanai atau putri lampung lengkap dengan siger dan kain tapisnya. Di ruangan AC ada bagian dinding yang dihias kain khas  dan aksara Lampung. Indah nian.

Naaaaah, menu sudah tersaji lengkap. Alhmdlh kami masih mendapatkan serbat kuweni, rasanya segaaaaar. Wangi buah kuweni tentu saja. Kak Alle langsung habis tandas satu gelas. Harga 12 ribu terasa murah untuk minuman segar ini. Dan ternyata gula aren yang digunakan sebagai campuran  minuman ini bukan sembarang gula aren. Cikwo hanya menggunakan gula aren dari Krui, daerah pesisir Lampung.


Menu makan kali ini benar-benar istimewa, ada seruit polos, ikan disajikan dengan lalapan. Sop Iwa Tuhuk/ blue marlin, Khalipu sambal, masakan dengan bahan baku keong mas, agak kenyal khas keong dan bumbunya itu sedaaap banget dah, Pandap yaitu masakan yang dibungkus daun talas muda, isinya parutan kelapa, potongan ikan dan rempah, gabing nah ini saya sampai pesan ulang karena rasanya nagih terus. Terbuat dari pucuk batang kelapa muda lalu diolah bersantan kuning , aneka sambal termasuk sambal mentah


Tidak perlu menunggu lama, menu di meja ini tandas.  Disini disediakan pula jengkol muda dan petai. Kaka Alle sangat senang jengkol muda sedangkan bang Zul penikmat petai. Saya memesan porsi tambahan gabing dan khalipu sambal, rasanya luaaar biasaaa. Gabing adalah masakan membutuhkan bahan khas, pucuk batang kelapa muda seperti yang dijelaskan oleh bang Zul saat kami pesan diawal.

Dengan biaya kurang lebih tiga ratus ribu, menu yang lezat dan tentu membuat ketagihan dari kami ber-enam, rasanya tepat jika saya katakan bahwa menu Cikwo harganya pas di kantong , dan rasanya benar seperti yang ada di taglinenya pasti ketagehan.

Bagi anda yang sedang menikmati wisata di Lampung tepatnya BanLam jangan lupa untuk singgah di sini. 
Singgah pay, cecas pay, pasti ketagehan J Perut kami sudah terisi dengan aneka masakan Lampung, bersiap lanjutkan perjalanan, tinggalkan Cikwo Resto namun sebelum masuk mobil, kami sempatkan untuk berfoto di depan siger.

Cikwo terus lestarikan masakan daerah, saya akan mampir lagi jika berkesempatan ke BanLam kembali. Singgah pay……………..:)






















Minggu, 04 September 2016

Aku dan Bangunan itu


 Aku mencoba mengingat sejak kapan aku membangunnya, sayang ingatanku  tak berhasil membuka lipatan memori di korteks benak
Pertanyaanmu tak bisa aku jawab. 

Bukan karena terlalu panjang atau pun pendek waktunya hingga aku lupa, namun memang aku tak mampu mengingatnya. Dan kadang tak perlu juga kan ? Tak ada jaminan bahwa dimensi waktu akan memperkokoh atau membuat rapuh bangunan ini. Tidak sedikit menyaksikan kehancurannya meski dibangun dalam waktu yang lama, dan aku bisa temukan juga banyak yang berdiri kokoh,  tak goyah meski aku tahu gempa berskala Richter berusaha menggoyangnya. Aku belajar dari sekitar pun dari diri sendiri, puing yang berserak dicoba untuk di sapu bersih. Membangun kembali tanpa pernah tahu kapan aku mulai kembali melakukannya. Perlahan bangunan ini mulai berdiri dan penuh warna warni unsur pembentuknya.

Aku masih diam, ketika tanya itu datang lagi. Perlahan aku habiskan air minum dihadapan. Baiklah, aku akan menjawab tanyamu, kataku perlahan

Iya, aku tahu, banyak orang mensyaratkan banyak hal untuk mendirikan bangunan ini namun aku mulai mencoret unsur yang menurutku bukan bahan utama. Warna yang tidak aku butuhkan. Kebutuhanku tidak lagi seperti mereka. Bisa jadi karena semesta mengajarkan aku banyak hal sehingga aku membuat sedikit perbedaan. Bisa jadi karena rentetan kejadian yang telah banyak aku alami. Aku menggeser tempat dudukku. Lalu aku lanjutkan kembali.

Bangunan tentu yang mendasar adalah pondasinya, Bagiku, saat kejujuran diletakkan sebagai pondasinya maka aku yakin akan kekuatannya. Kepercayaan akan semua hal yang ada. Aku tak perlu menghabiskan banyak waktu hanya untuk mempertanyakan sesuatu terjadi begitu pula dirimu.  Tak perlu. Sering ku katakan  bahwa persahabatan yang akan bertahan lama adalah yang dibangun atas kejujuran. Bukan karena sebuah kepentingan karena ini bukan sebuah hubungan politik meski terjadi bilateral J. Dan ini bukan hubungan jual beli. Tidak ada yang mengambil margin keuntungan, tidak ada pula kerugian di dalamnya. Tidak ada syarat dan ketentuan berlaku, atau pun ‘kecuali dinyatakan lain’. Ini adalah pondasi awal untuk mendirikan bangunan ini. Kejujuran/kepercayaan serta komitmen akan segala hal yang ada dihadapan.

Aku hanya belajar tentang memahami. Pemahaman yang baik adalah jendela kita untuk saling memandang sejajar, saling mengerti.  Rasanya menyenangkan ketika pemahaman mulai hadir, tidak perlu berdebat kusir untuk semua  perbedaan. Namun bukan pula  menafikan perbedaan. Mendiskusikan banyak hal menjadi awal bagaiman kita belajar saling memahami. Cara pandang dari diri kita masing-masing. Saat hadir pengertian, maka hadirlah pemahaman. Apakah kita menghadirkan ini? Aku rasakan iya. Entah denganmu. 

Jika jendela dari bangunan ini adalah pemahaman, maka pintu bangunannya adalah saling memaafkan. Kita tahu bahwa maaf adalah satu kalimat sakti yang mampu memadamkan amarah, meredakan perselisihan dan membuat hati menjadi lebih nyaman.  Tak perlulah kita bertahan merasa bahwa ini adalah benar, itu adalah salah. Meminta maaf membutuhkan energi yang besar, oleh sebab itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang tidak mempermasalahkan siapa yang harus minta maaf atau memberi maaf. Melelahkan bukan,  saat kita mendapatkan seseorang yang sukar sekali minta maaf. Bisa jadi yang  melintas saat kata maaf terlontar, maka itu ekuivalen bahwa penyebab kesalahan adalah kita. Mestinya tidak begitu kan? Meminta maaf tidak akan turunkan digit  yang kita miliki. Terkadang setelah kata maaf terucap, segalanya menjadi lebih terang. Benang kusut nan rumit pun berhasil kita urai, menjadi simpul-simpul yang menguatkan, terjalin dari rasa marah yang berhasil kita redam. Pintu yang kokoh dalam bentuk saling memaafkan menjadi unsur esensial menurutku.

Dan layaknya sebuah bangunan, selain jendela dan pintu, tentu kita membutuhkan atap yang dapat melindungi dari angin, badai, hujan dan teriknya matahari.  Jangan biarkan hal-hal yang bersifat merusak masuk melalui atap ini. Penerimaan akan segala yang kurang, rasa syukur akan segala yang lebih tentu akan membuat segalanya menjadi lapang. Berapa banyak kita lihat kehancuran sebuah bangunan yang awalnya sangat kokoh gegara ada yang merasa lebih sempurna, lebih baik atau bisa jadi karena ada yang merasa hanya menjadi beban, banyak hal yang kurang dalam dirinya. Jika penerimaan sudah ada di bangunan ini, tentu akan mengusir rasa yang merasa “paling”. Bukankah kita akan melangkah dengan tujuan yang sama. Cita yang sama, impian yang sama. Jadi teringat semboyannya Ibu Dorce yang sangat terkenal “kesempurnaan itu milik Allah”. Tersenyum dirimu mendengar kata ini. 

Kita sungguh penuh dengan kurang namun juga dibekali dengan lebih. Saling melengkapi dan saling menguatkan. Kita sama-sama takut, namun akan menjadi berani jika jari-jari kita menyatu. Kita sama-sama ragu, namun akan menjadi yakin jika keraguan ini berkumpul dalam satu muara.  Melengkapi itulah atap bangunan ini.

Aku tambah lagi air di gelas bertangkai ini, dan aku hanya mampu katakan…

Bangunan ini telah berdiri, pondasinya yang berupa kejujuran dan kepercayaan direkatkan dari awal. Dan lihatlah jendelanya terbuka lebar, udara bersih memenuhi bangunan ini. Singkirkan segala sesuatu yang tak baik secara perlahan.  Pintunya meski belum sekuat yang lain namun telah ada. Dan tentu saja atapnya yang kuat melindungi banguan ini.

Kamu tahu bangunan ini?
Ini adalah bangunan cinta dan sayang yang dibangun dengan hal-hal baik agar kokoh dan tahan lama. Halamannya aku isi dengan pohon kerinduan serta kicauan senda gurau dan kelucuan yang sering hadir. Tidak gersang, ada kenyamanan saat memandang bangunan ini. 



Kita akan merawat, memperkokoh bangunan  ini atau akan membiarkannya hingga hancur kembali menjadi kepingan berserak,

Aku balik bertanya kepadamu. 



Kamis, 21 Juli 2016

Bercerita di Rumah Keabadian

Matahari masih terasa panasnya meski waktu sudah menunjukkan sore hari.  Mobiku siap melaju, temani aku berkunjung  ke rumah kedua orangtuaku.  Sebuah komplek khusus tak jauh dari tempat tinggalku.  Perlahan ku buka pintu pagarnya. Sepi. Ku ucapkan salam, dan aku langsung masuk ke bagian dalam. Nampak rumah kedua orang tuaku.  Terakhir  mengunjunginya  kira-kira empat bulan yang lalu. Halamannya bersih, pohon besar nan rindang  ikut memayungi kompleks ini.

Ku ucapkan salam sekali lagi, dan mereka ada di sana. Bapak dengan kain sarung kotak hijau dan berkaos putih, nampak santai duduk di kursi merah ditemani  Emak yang  dengan senyumnya seakan menyambut kedatanganku  di sore ini. Daster berlengan pendek dengan motif berwarna ungu sepertinya memang menjadi daster favorit. Entahlah, setiap aku datang, pakaian itu yang dikenakannya.  Aku duduk di hadapannya, lalu berceritalah tentang  empat bulan yang telah lewat dan tentunya tentang kami semua, anak dan cucunya. Sore ini aku datang sendiri, karena kakak dan adik belum datang, kalimat itu yang menjadi awal cerita. Tapi insyaallah di 1 Syawal semua akan kesini, berita yang sangat membahagiakan tentunya dan itu terwujud. Dari lima bersaudara memang hanya dua yang tinggal di kota ini. Jadi kami jarang berkunjung bersama-sama.

Aku lanjutkan cerita tentang kegiatanku yang banyak habiskan waktu di apotek, hingga kadang membuat rumah menjadi tidak rapi. Rumput yang kadang tinggi, tak sempat untuk memotongnya. Entahlah sepertinya aku belum menemukan ritme waktu yang tepat dengan aktivitas yang baru aku jalani beberapa bulan ini. Emak selama puluhan tahun adalah manager waktu untuk aku, alarm yang paling ampuh. Tidak hanya itu, untuk urusan warna pakaian hingga kerudung pun aku tak pandai tentukan pilihan, dan Emaklah yang  akan putuskan warna apa yang aku harus kenakan. Semoga warna baju dan kerudung yang senada sore ini membuat  Emak percaya bahwa putrinya sudah mulai bisa tentukan pilihan.

Cerita berlanjut tentang bunga Kamboja yang kemarin sempat mekar, merah warnanya. Terbayang kala pertama bunga itu mekar, Emak memanggil berulang-ulang namaku agar melihatnya di halaman dan aku masih tetap selonjoran di tempat tidur. Maafkan Mak. Sekarang bunga itu mekar dan aku mengakui bahwa melihatnya mekar itu memang indah. Sayang ….bunga kesayangannya yang lain yaitu Kuping Gajah dengan  puluhan pot tak bersisa satu pun saat ini. Aku tak dapat menjaganya. Memang rumah kami tetap hijau namun sudah tak sehijau dahulu. Tembok-tembok yang cukup tinggi mengelilingi rumah membuatnya tak sesejuk dulu.  Sunngguh berbeda masa itu dengan yang sekarang.

Bergeser  tempat duduk, aku tetap bercerita bahwa semuanya baik-baik saja. Cucu-cucu yang berjumlah 7 orang tak lupa aku ceritakan. Sudah besar, ada yang hobi menyanyi, pandai berpidato dan ada juga yang  sudah pandai berenang. Namun dari semuanya tak ada satu pun yang tidak suka makan. Semuanya suka sekali makan dan ngemil. Tentu jika kondisinya bukan seperti sekarang, pastilah aneka masakan dan kudapan penuh di meja makan. Dan semua akan bisa bercerita tentang lezatnya masakan nenek. Seperti aku menceritakan kepada mereka tentang kehebatan Nenek membuat masakan. Tak pernah jajan di warung karena apapun yang kami inginkan berusaha diwujudkan. Dari siomay, bakso hingga roti goreng pun dibuatnya.
Cerita hampir selesai, aku memandang keduanya. Masih seperti dulu. Matahari mulai turun, teriknya hilang. Ada beberapa orang yang membuka pintu pagar rumah keabadian ini. Rupanya banyak yang mengunjungi komplek ini, karena lusa, Ramadhan akan datang.  Sama seperti aku. Meski tidak hanya di waktu seperti ini saja. Terkadang saat aku merasa rindu, aku membuka pintu pagar kompleks ini, sekedar untuk duduk dan bercerita.

Aku perbaiki dudukku lagi, ceritaku selesai. Cerita yang bukan berwujud percakapan biasa. Aku menyampaikannya dalam bentuk yang lain. Sebelum pamit, ku berikan hadiah dalam lantunan kalimat suci untuk mereka berdua dengan harapan rumah tinggal keabadian ini menjadi terang penuh cahaya, menjadi luas dan penuh dengan bunga. Seperti kesukaan Emak yang slalu senang dengan bunga warna-warni. Seperti kesukaan Bapak, rumah yang penuh pohon-pohon hijau dan berudara sejuk. Sore ini tepat 9 tahun Emak tinggal di sini, menemani  Bapak yang telah lama berdiam hampir 30 tahun di sini.  Sehidup Sesurga doa kami untuknya. Perlahan aku bangkit, dan pamit karena sudah hampir Magrib. Tinggalkan mereka berdua, duduk di kursi merah itu. Memberikan senyum kepada beberapa orang yang baru saja memasuki  kompleks ini, lalu ku tutup pintu pagarnya. Hidupkan mobiku, motor biruku. Melaju perlahan menuju rumah di mana dulu mereka besarkan kami semua dengan segala hiruk pikuknya masa anak-anak.


Suatu hari nanti kami akan berkumpul kembali  bersama di rumah keabadian. 

Kamis, 12 Mei 2016

Geosmin, Petrichor, dan Lagu Rindu

Beberapa waktu lalu, sebagian dari kita menjumpai sebuah fenomena alam yang sangat jarang terjadi, mesti menunggu ratusan purnama untuk bertemu dengannya lagi, miriplah dengan kisah Cinta dan Rangga yang terpisah ratusan purnama heheh. Fenomena gerhana matahari total.  Entah apa penyebabnya saya merasa cuaca menjadi tidak menentu setelah peristiwa pertemuan tersebut, apakah telah terjadi sesuatu di alam semesta ini?, berharap tidak ada.  Kondisi terik matahari terkadang hilang begitu saja dengan guyuran air hujan secara tiba- tiba dan cukup deras. Atau pun sebaliknya, usai hujan matahari langsung muncul dan bersinar dengan sangat lucunya. Saya tidak dapat menyimpulkan musim hujankah atau musim kemarau saat ini. Mungkin ini adalah musim pertemuan sebelum dua musim ini akan berpisah.

Ternyata baru saja saya membaca tentang geosmin, senyawa khas usai hujan. Teringatlah  tentang hujan, tapi bukan tentang kenangan di genangan yang ditinggalkannya ya. Saya merindu dengan bau hujan, bau khas yang penuh ketenangan. Biasanya saya nikmati dengan mengendarai motor pelan-pelan dan menghirupnya perlahan. Lokasi yang saya tuju adalah kawasan hijau yang masih penuh dengan pohon dan rumput. Lalu apakah saya termasuk pecinta hujan, semacam pluviophile begitu, sepertinya agak sedikit heheh, saya senang ketika hujan berhenti lalu kedamaian mendesak masuk kedalam dada. Tenang. Itu mungkin kata yang pas untuk melukiskannya. Kamu pernah merasakannya?

Saat rinai hujan berhenti, bau khas tanah yang disebabkan olehnya apalagi bercampur dengan wangi rumput yang baru saja dipotong, itu amat menyegarkan. Bau khasnya membuat damai.  Zat kurkumin serta aneka minyak atsiri dan unsur-unsur aromatik dilepaskan saat rumput ini dipotong, pertanyaan selanjutnya darimana bau khas tanah usai hujan. Mari kita bercerita kembali.

Geosmin adalah senyawa yang berperan di sini. Menurut kamus kimia organik, geosmin adalah sebuah turunan dari dekahidrophtalen yang memiliki bau kuat bersahaja. Nah, kamus saja mengatakannya bersahaja memang begitulah yang saya rasakan. Dan zat ini dihasilkan oleh beberapa jenis bakteri yang hidup di tanah seperti cyanobacteria dan actinobacteria. Saat mikroba ini mati, geosmin dilepaskan kemudian saat selesai hujan maka geosmin terangkat ke udara dalam bentuk partikel aerosol, sangat kecil dalam bentuk mikro, tidak nampak namun terasa. 
Bakteri dengan bau khas ini menjadi penyebab beberapa ikan air tawar terkadang berbau seperti lumpur. Saya menjadi hilang selera ketika lele, atau ikan bandeng yang diolah ternyata berbau lumpur. Balik lagi ke hujan, selain geosmin adakah hal lain yang membuat suasana setelah hujan itu menyejukan jiwa?.  Tentu ada beberapa senyawa aromatik yang terlibat akibat reaksi ion dari air hujan yang bersifat asam saat menyentuh permukaan tanah. Istilah lain saat berbicara hujan adalah petrichor. Jika geosmin adalah senyawa kimianya, maka petrichor adalah bau yang timbul saat hujan membasahi tanah yang kering. Terbayangkan jika kita berada di lingkungan yang minim tanah maka kita bisa jadi tak merasakan petrichor dengan geosminnya yang membuat hati menjadi nyaman. 
Penasaran dengan istilah petrichor saya berselancar mencari tahu seluk beluk tentang petrichor. Ternyata jurnal ‘Nature of Argillaceous Odour” yang dipublikasikan tahun 1964 oleh Isabel Bear dan Thomas adalah jurnal yang mempopulerkan istilah petrichor. Bau khas hujan. Penelitian tentang bau hujan ini pun telah banyak dilakukan. Oya, petrichor ini akan terasa sekali saat rinai, tidak menderas.

Sstt di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Begitu kata beberapa ahli.  Bagaimana alunan lagu itu? Entahlah…., belum ditemukan melodi lagu ini sepertinya, mungkin doremi…domisol..fasola…atau nada-nada lainnya. Penelitian ilmiahnya belum ada meski saya berusaha mencarinya hehehe. Tapi saya percaya. Coba saja menepi sejenak saat hujan, dan dengarkan lagunya. Apakah kamu pernah merasakannya juga?
Geosmin, Petrichor dan alunan lagu rindu. 








Rabu, 11 Mei 2016

# AADB ( Ada Apa di Banten Lama )

Libur panjang  telah tiba, sebagian besar teman merayakannya dengan berlibur keluar kota, keluar pulau, atau pun menjelajah negara  lain. Saya tak merencanakan apa pun dalam liburan panjang kali ini. Berniat untuk merapikan rumah yang lama tak di sentuh, rumput yang tinggi serta beberapa tanaman di pot yang sudah minta diganti.  Selesai mengerjakan itu semua dibantu oleh tetangga , sambil berbincang menceritakan cucunya yang mulai belajar mengoceh. Senang setelah melihat beberapa bagian di halaman mulai bersih. Dan tiba-tiba seorang teman yang bertemu saat melaut bareng menyatakan ingin ke Banten, mengunjungi vihara di sana. Okeh, siaap. Saya mengiyakan ajakannya karena saya pun sudah lupa bahkan tak ingat lagi suasananya , sudah sangat lama sekali. Saat baju seragam masih putih merah.

Awan menjadi gelap, mengubah suasana pagi yang indah. Teman disana sedang bersusah payah di dalam bis yang sesak. Tak ada kursi baginya, kabar dia lewat WhatsApp. Berharap reda ketika jam menunjukkan angka 10. Yeaaaay, alhmdlh reda, dan langsung menggas motor tuk menjemputnya. Perjalanan dimulai dari sebuah warung makan. Perut yang belum diisi sedari pagi sudah meminta haknya. Baiklah mari kita mulai.

1. Warung Makan Nasi Gonjleng
Kami memulainya dari sini, mengenal Banten. Menu nasi khas berbumbu mirip dengan nasi kebuli namun tidak terlalu tajam aroma rempahnya. Ditaburi potongan daging berbumbu yang disebut dengan rabeg, acar timun, dan oseng cumi asin. Hmmmm yummmmy. Dilengkapi dengan sate maranggi. Membuat menu sarapan terasa lengkap dan mengenyangkan. Dibandrol dengan harga 18 ribu untuk 1 porsi nasi gonjleng. Warung makan ini terletak agak menjorok di belakang rumah dinas walikota Cilegon. Sebenarnya ada menu lain yaitu ayam bekakak, namun saya memilih daging untuk kali ini. Di sini ada masakan khas Banten juga seperti oseng kulit melinjo dan otot bumbu cabe

2. Masjid Pacinan Tinggi
Ini adalah situs pertama yang kami dokumentasikan, sebenarnya saat menyusuri jalan dari arah Kramat Watu, ada sebuah situs atau cagar budaya juga yaitu Danau Tasikardi, namun kami tak memasukinya hanya melihat sepintas saja. Banyak anak-anak bermain bebek air mengelilingi danau. Desa yang kami jumpai adalah Desa Pamengkang, dimana bangunan bujur sangkar ini berdiri. Berpagar untuk melindunginya namun tetap rumput tinggi tumbuh dengan suburnya. Sesuai dengan namanya, Pacinan maka kampong ini adalah tempat bermukimnya orang cina saat kejayaan Kesultanan Banten sekitar abad 15. Ini adalah sebuah menara yang tak utuh lagi, dibagian belakangnya ada mihrab yang juga mulai runtuh. 
Di sisi yang lain, terdapat makam yang nisannya cukup besar, namun tertutup oleh hijaunya rumput yang cukup tinggi. Rasa miris bertambah ketika menyaksikan tumpukan sampah yang cukup tinggi di sekitar cagar budaya ini. Entahlah, tak habis mengerti, sebuah tempat yang cukup punya nilai sejarah dibiarkan begitu saja.

3. Vihara Avelokitesvera
Perjalanan dilanjutkan melewati rel kereta api, tak jauh dari sana berdiri dengan megahnya Vihara Avelokitesvera  atau Vihara Tri Darma. Dibangun di abad 16 dan masih sangat terawat, senang melihat tempat ini digunakan sebagai tempat ibadah. Nampak beberapa anak kecil sedang melakukan ibadah bersama orang tuanya. Mengenalkan keberadaan Tuhan sejak kecil itu akan menjadikannya takut untuk berbuat murka.  


Warna merah tentu mendominasi, serta dua buah patung naga, simbol vihara ini berada di pintu masuk. Meski kami beragama lain, kami diizinkan untuk berkeliling vihara, namun tak diizinkan memasuki altar peribadahan. Sangat luas, ada balai pengobatan juga di sisi kiri bangunan. Di bagian belakang ada rumah ibadah pula, digunakan oleh agama Budha. Oya dibagian atas pintu masuk ada tulisan yang mencirikan bahwa vihara ini di jaga oleh Dewi Kwam Im Pho Sat. Letaknya yang tak jauh dari Menara Masjid Pacinan serta masih satu kompleks dengan Masjid Agung Banten, menandakan bahwa keharmonisan beragama terjadi berabad lalu. Damai antara satu dan lainnya. Oya, tak lupa kami menikmati air kelapa muda yang murni dan segar sangat di halaman vihara ini.

4. Benteng Speelwijk





Letaknya persis di seberang vihara, dengan luas 4 hektar. Hamparan rumput menghiasi benteng ini, tak salah jika banyak yang menggembalakan kambing disini.Tanah yang basah membuat anak-anak tak bermain bola meski ada tiang dan gawang yang sudah terpasang disini.  Tersenyum melihat ini semua. Saat kami kebingungan untuk bertanya banyak hal, alhmdh bertemu dengan Bpk. Sambudi penggembala kambing sekaligus penjaga Benteng Speelwijk. Benteng ini terdiri dari dua lantai, tembok yang kokoh terikat dari campuran batu bata, batu karang, serta fosil. Tak ada semen tentunya di jaman itu.  Benteng ini tak memiliki tanda pengenal atau papan informasi. Cukup lama kami berada disini, masuk ke ruang bawah tanah, melihat penjara jaman Belanda. Sinar matahari masuk melalui beberapa celah benteng yang rusak, sehingga udara tak begitu lembab meski kami berada di bagian bawah benteng. Pemandangannya begitu indah, apalagi jika dilihat dari lantai dua benteng. Nyiur  berderet berteman dengan pohon besar lainnya. Menara pengintai masih cukup bagus
kondisinya, namun lagi-lagi manusia berpikir dangkal mencoret dengan pilox, cat dan sebagainya. Benar-benar mengesalkan.

5. Pemakaman Belanda ( Kerkoff )

Rumput tinggi berada diantara makam, Pak Sambudi menemani kami di pemakaman ini. Sambil menyiangi rumput yang tumbuh persis di makam yang paling besar. Tulisan di batu nisannya masih cukup jelas terbaca, Hugo Pieter Faure, wafat 1763. 
Siapakah Tuan Hugo ini? Saya pun mencoba mencari tahu, ternyata Tuan Hugo ini adalah panglima perang pada saat itu. Informasi lain tentang pemakaman ini tidak ada. Papan informasi pun tidak terpasang. Pemakaman ini merupakan cagar budaya yang masih satu kompleks dengan kawasan Banten Lama.

6. Mesjid Agung Banten
Menara Masjid Banten di ambil oleh KaTina
Untuk mencapai mesjid yang dibangun saat jaman kejayaan Sultan Maulana Hasanudin, kami dipaksa untuk berputar-putar melewati jalan yang sempit dan becek. Kami tidak mengetahui ada jalan lain yang cukup besar dan lebih nyaman. Tapi tak apa, kami cukup menikmatinya ketika harus berjalan perlahan dan melewati puluhan pedagang yang menjajakan buah sawo, buah khas di sekitaran Banten selain itu telor asin serta asem keranji. Ada yang pernah menikmati buah ini?, buah dengan warna orange pada bagian dagingnya serta memiliki tekstur seperti bedak. Rasanya asem dan ada rasa manisnya.
Sesampainya disana, saya bergegas untuk tunaikan sholat ashar dan masuk kedalam bagian masjid. Tiang-tiang nan kokoh berdiri tegak menopang masjid ini. Hari itu banyak sekali peziarah yang akan memasuki pemakaman Sultan Maulana Hasanudin dan keluarganya, karena menjelang malam Jum’at, terlebih dalam bulan-bulan istimewa seperti ini. Kehadiran menara setinggi 24 meter di halaman masjid membuat semakin mempesona. Sayang, saya membatalkan untuk naik ke ketinggian menara karena hari mulai sore dan masih panjang antriannya. Masih banyak yang saya harus singgahi. Kaki melangkah ke arah Museum Banten yang letaknya tak jauh dari dari pelataran masjid.

7. Museum Banten

Yaaaaah, ternyata museumnya tutup. Hari libur tidak dibuka. Beberapa pengunjung pun sama kecewanya. Saya hanya dapat melihat sisi luar museum dimana di simpan Meriam Ki Amuk, sebuah meriam yang beratnya mencapai 7 ton, serta peninggalan kaum pecinan berupa nisan- nisan.  Informasi tentang benda bersejarah ini ditulis sederhana saja, tidak dilindungi dengan kaca akrilik atau sejenisnya. Bingkai hitam terbuat dari lakban, hmmmm…….sesuatu yaa. Mencoba mendekati pos informasi namun leaflet dan sejenisnya pun tak ada. Beruntung saya bertemu dengan Bpk. Nahrowi, seorang pemandu senior yang memberikan saran tempat yang dapat kami kunjungi di sekitaran masjid yaitu Keraton Surosowan.

8. Keraton Surosowan
Tiket masuk tanpa bukti sebesar 5000 rupiah menjadi awal untuk memasuki area Keraton Surosowan. Pintu gerbang dibuka. Arah menuju pintu gerbang adalah melewati beberapa penjual serta jalanan yang cukup becek karena hujan pagi tadi. Waaaau, sebuah pemandangan yang cukup indah dapat dinikmati di area cagar budaya ini, meski sebagian besar hanya tinggal tumpukan batu bata saja. Dengan luas kurang lebih 4 hektar keraton ini merupakan tempat tinggal sekaligus kantor pemerintahan Kerajaan Banten berabad yang lampau. Pos penjaga, sumur serta beberapa kolam pemandian masih baik bentuknya, namun kotor. Lumut yang berada di dalam kolam tidak mengurangi keceriaan anak-anak untuk mandi. 
Air yang berasal dari pancuran ternyata adalah air yang dialirkan dari  Danau Tasikardi. Masih mengalir lewat pancuran. Ada tiga pancuran di sini yaitu Pengindelan Abang, Putih dan terakhir Pengindelan Emas.
Arti pengindelan adalah penyaringan. Jadi air yang jatuh ke kolam dan digunakan oleh putrid keraton merupakan air yang sudah cukup bersih. Mengagumkan ya, proses penjernihan airnya. Saya berkeliling dari mulai pos penjaga, naik ke bagian atas dan melihat sekeliling dari sana. Kejayaan masa lampau terlihat dan terasa sekali, tidak heran jika tempat ini banyak pula digunakan untuk bersemedi.  Jika di Benteng Speelwijk banyak coretan di dindingnya maka di sini yang terlihat adalah sampah plastik, mungkin dari pengunjung yang tidak menyadari arti bersih dari sampah. 

9. Watu Gilang
Batu ini terletak persis di dekat pintu masuk keraton. Tempat para pejabat keraton diambil sumpahnya. Miris melihat situs ini, dipagar besi namun tidak terlihat sama sekali jika ini adalah sebuah cagar budaya, karena kiri kanannya penuh dengan penjual dari mulai gorengan, cendol, makanan dan lain-lain. Sejarah yang dilupakan

10. Pengindelan Abang

Situs ini kami jumpai saat perjalanan pulang. Terletak di kiri jalan. Ini adalah bangunan yang dimaksud sebagai penjernihan air. Masih berfungsi dengan baik, mengalirkan air dari Danau Tasikardi ke kolam Ratu Dhenok yang berada di Keraton Surosowan, dengan jarak kurang lebih 2 km. 

Takjub saya dibuatnya. Sebuah pemikiran yang canggih di masa lalu mengenai proses penjernihan air.

Hampir magrib, kami belum mengunjungi Keraton Kaibon, mungkin lain waktu kami akan susuri kembali sekaligus naik ke menara untuk memandang Laut Jawa dari sana. Bergegas keluar dari area kompleks Banten Lama, perut yang lapar sudah meminta haknya untuk diisi kembali, kali ini saya memilih sate bebek dan sopnya yang segar di daerah Cibeber. Warung makan sederhana namun selalu ramai, belum masuk cagar budaya sih heheheh, namun cukup melegenda.  Sate bebek H. Syafei. Sop satu mangkok plus 10 tusuk sate tandas dalam waktu yang tak lama. Menyenangkan hari ini, belajar sejarah dengan cara yang tidak biasa. Banten sebuah kejayaan masa lalu. Ada apa di Banten Lama?? Ternyata banyak cerita.